KPI 2026 Hasilkan Janji Publik, Pemda Sepakat Perkuat Pendidikan
KPI 2026 resmi ditutup di Sleman dengan Janji Publik dan penguatan kolaborasi daerah untuk membangun pendidikan yang inklusif.
Ilustrasi Kelenteng Poncowinatan mulai bersiap menyambut Imlek./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, JOGJA--Tahun ini, Klenteng Kwan Tee Kiong atau yang dikenal dengan Kelenteng Poncowinatan genap berusia 141 tahun. Di usianya yang lebih dari seabad, kelenteng tersebut diharapkan menjadi simbol multikulturalisme di Jogja.
"Selain juga sebagai ajang pengenalan budaya Tionghoa di tengah masyarakat," kata Wakil Gubernur (Wagub) DIY KGPAA Paku Alam X saat menerima audiensi para tokoh pecinan DIY di Gedhong Pare Anom, kompleks Kepatihan, Rabu (22/6/2022).
BACA JUGA: Perkembangan Suap Apartemen Royal Kedhaton: Haryadi Suyuti Diduga Terima Fasilitas Khusus
Menurut Wagub, Tionghoa merupakan salah satu penyumbang kekayaan dan keberagaman etnis, suku dan budaya di DIY. Itulah sebabnya, sudah sewajarnya jika kebudayaan Tionghoa ini dipertahankan sebagai ciri khas keberagaman dan simbol persatuan.
Dia berharap perayaan ulang tahun ke-141 Klenteng Poncowinatan juga menjadi ajang untuk memperkenalkan budaya Tionghoa. Karena budaya Tionghoa merupakan bagian tidak terpisahkan dari keistimewaan DIY yang juga harus dilestarikan. Maka sudah sewajarnya kebudayaan tersebut harus dilestarikan dengan terus dipelihara.
Adapun Kelenteng Kwan Tee Kiong terletak di kawasan Jalan Poncowinatan, Kranggan, Jetis, Kota Jogja. Kelenteng ini didirikan pada 1879 oleh Sultan Hamengku Buwono VII di atas tanah hibah Kraton Ngayogyakarta dan diberikan kepada masyarakat Tionghoa.
“Kranggan itu memang banyak heritage, banyak budaya Tionghoa, ini kalau bisa terus digali,” katanya.
BACA JUGA: Viral Pameran UMKM di JEC Sepi, Warganet Soroti Cara Promosinya
Ketua Pelaksana Kegiatan Perayaan Hari Ulang Tahun Klenteng Poncowinatan, Agus Handoko sepakat dalam perhelatan itu akan menampilkan banyak budaya Tionghoa agar dikenal masyarakat. Kesenian Tionghoa akan digali dan disajikan ke masyarakat agar lebih familiar.
“Seni budaya Tionghoa akan ditampilkan agar masyarakat mengetahui budaya apa saja, seperti batik Tionghoa, kuliner Tionghoa kemudian ramal-meramal dan lainnya,” katanya.
Kegiatan akan digelar di pelataran klenteng agar masyarakat lebih mudah menjangkau. Masyarakat yang berada di sekitar Kranggan pun dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Harapannya dapat ikut meningkatkan perekonomian. “Tentu kami berharap ini menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPI 2026 resmi ditutup di Sleman dengan Janji Publik dan penguatan kolaborasi daerah untuk membangun pendidikan yang inklusif.
Witan Sulaeman resmi perpanjang kontrak 3 tahun di Persija Jakarta. Siap tampil maksimal di bawah pelatih Shin Tae-yong.
Harga iPhone Juli 2026 di iBox turun, terutama iPhone 16e. Simak daftar lengkap harga terbaru dan seri baru iPhone 17e.
BMKG menyebut Siklon BAVI memengaruhi cuaca DIY. Prakiraan 5-7 Juli cerah berawan, namun gelombang laut selatan berpotensi tinggi.
Event trail run makin marak di Jateng. Muria Trail Run 2026 ditargetkan 500 peserta dan dorong sport tourism serta ekonomi lokal.
Haedar Nashir menegaskan pendidikan bukan alat kekuasaan atau ekonomi. Ia dorong reorientasi kebijakan demi masa depan bangsa.