Memakmurkan Kelenteng sebagai Tempat Ibadah

Suasana Kelenteng Tjen Ling Kiong atau Kelenteng Poncowinatan, Jogja, Senin (1/7)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
04 Juli 2019 12:27 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebagai tempat beribadah, keberadaan kelenteng harus terus dimakmurkan sehingga jumlah umat yang beribadah terus bertambah. 

Dalam Kamus Bebas Bahasa Indonesia, kelenteng merupakan bangunan tempat memuja ( berdoa, bersembahyang) dan melakukan upacara keagamaan bagi penganut Konghucu. Pengurus Kelenteng Tjen Ling Kiong atau Kelenteng Poncowinatan, Jogja Margono mengatakan kelenteng harus selalu dirawat. Semua pihak harus terlibat dalam pemeliharaan kelenteng misalnya para donatur dan jemaat. Mereka diharapkan mau secara swadaya ikut serta merawat tempat mereka beribadah.

"Sebuah kelenteng dikatakan terjaga kalau ada umatnya yang beribadah. Untuk kelenteng ini masih ada umatnya walaupun tidak banyak. Rata-rata 50-an orang ketika beribadah, tetapi, kalau ada perayaan jumlahnya bisa lebih," kata dia beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa Margo ini mengatakan para umat beribadah di kelenteng biasanya setiap tanggal 1 dan 15 setiap bulan dalam penanggalan Imlek. Ia mengatakan di Kelenteng Tjen Ling Kiong, dewa yang dimuliakan adalah Dewa Kwan Kong yang merupakan dewa keadilan dan kejujuran. Dewa Kwan Kong diharapkan mampu mendatangkan keadilan sehingga tak jarang, poster Dewa Kwan Kong turut dipajang di ruang pengadilan. "Harapannya, dalam pengadilan tersebut akan lahir keputusan yang adil dan jujur," kata dia. 

Tak Komersial

Untuk menjaga kesucian tempat ibadah, pengurus kelenteng berkomitmen tidak mengomersialkan kelenteng tersebut. Menurutnya, jika suatu tempat ibadah dikomersialkan, maka bisa mengurangi kekhusyukan saat ibadah. Selain itu, dipercaya tidak akan direstui oleh dewa yang menaungi.

Dilansir dari Tionghoa.info, kelenteng merupakan sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka kelenteng dengan sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama Konghucu.

Tidak ada catatan resmi bagaimana istilah kelenteng ini muncul, tetapi yang pasti istilah ini hanya terdapat di Indonesia karenanya dapat dipastikan kata ini muncul hanya dari Indonesia. Sampai saat ini, yang lebih dipercaya sebagai asal mula kata kelenteng adalah bunyi teng-teng-teng dari lonceng di dalam kelenteng sebagai bagian ritual ibadah.

Awalnya, istilah kelenteng sebagai tempat ibadah orang Tionghoa juga tidak dikenal di berbagai tempat lain, selain di pulau Jawa. Di Sumatra mereka menyebutnya bio, di Sumatra Timur mereka menyebutnya am, dan penduduk setempat kadang menyebut pekong atau bio. Di Kalimantan, etnis Hakka di sana sering menyebutnya dengan istilah thai pakkung, pakkung miau, shinmiau