Ponsel Tiga Mahasiswa Papua Diretas Setelah Insiden di Asrama Papua

Triyo Handoko
Triyo Handoko Selasa, 30 Agustus 2022 23:07 WIB
Ponsel Tiga Mahasiswa Papua Diretas Setelah Insiden di Asrama Papua

Ilustrasi peretasan/Pixabay

Harianjogja.com, JOGJA—Tiga mahasiswa Papua yang menjadi pengurus Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) DIY mengaku mengalami peretasan setelah insiden penganiayaan berujung kematian pada pekan lalu.

Wakil Presiden IPMAPA DIY Esau Dawi Kazie menyebut selang beberapa jam setelah insiden di sekitar Asrama Papua, ponselnya tak bisa digunakan sama sekali padahal hidup. “Selain saya ada dua teman lain yang kondisi ponselnya seperti itu pada Rabu, 24 Agustus itu,” katanya, Senin (29/8/2022).

BACA JUGA: Pengeroyokan yang Tewaskan 2 Suporter PSS Sleman Terkait dengan Brajamusti Suporter PSIM Jogja, Polres Akan Dalami Akar-akarnya

Akibat dugaan peretasan tersebut, Esau Kaize tak dapat berkomunikasi dengan siapa pun. “Mungkin kami dikira tak bisa melokalisasi isu kami sendiri, jadi ada pihak yang coba menyadap pembicaraan kami di ponsel demi kepentingan mereka,” jelasnya.

Padahal, Esau Kaize dan rekan-rekanya telah menyelesaikan masalah penganiayaan yang menyeret nama mahasiswa Papua secara umum. “Karena lokasi kejadian di Asrama Kemasan, kami taat prosedur hukum, kami serahkan barang bukti dan pelaku ke Polda DIY,” jelasnya.

Langkah penyerahan alat bukti dan pelaku, jelas Esau Kaize, dilakukan untuk menunjukan itikad baik mahasiswa Papua. “Kami pasti taat hukum yang berlaku dan kami bisa jaga nama baik kami sendiri” ujarnya.

Dugaan peretasan tersebut diamini Veronica Sawen yang ponselnya mengalami hal yang sama dengan Esau Kaizw. “Padahal kami bisa melokalisasi isu kami sendiri dan peretasan ini membuat kami merasa tak nyaman dan aman,” jelas Veronica.

BACA JUGA: Meski Kesal Fans PSS Tewas Dikeroyok, Sultan HB X Mengaku Susah Membekukan Suporter Bola

Ketidaknyamanan dan perasaan tidak aman juga dialami Irto Mamoribo. Ponselnya tidak bisa digunakan. Irto menyebut kontak nomornya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain tanpa sepengetahuannya.

“Ini berbahaya sekali, ketika ada orang menghubungi saya tapi yang berkomunikasi dengan orang tersebut bukan saya, ini kan bisa terjadi salah paham dii publik,” tandasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online