Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot yang Bisa Tersenyum dengan Kulit Hidup di Wajahnya
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Fahid saat mengisi pelatihan budi daya melon./Dok. Pribadi
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Fahid Nurarrosyid, warga Kalurahan Siraman, Wonosari, Gunungkidul mulai dikenal publik ketika ia membuka agro-eduwisata dengan kegiatan memanen melon di kebunnya. Aktivitasnya sebagai petani muda itu mendapat apresiasi hingga tingkat nasional.
Pemuda berusia 24 tahun itu baru serius menggeluti dunia pertanian sejak 2018. Setelah lulus dari SMK, Fahid memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan bekerja di pabrik karena mengikuti latar belakang studinya di bidang mesin.
Namun, rasa khawatir dan gelisah muncul di benak Fahid karena jauh dari orang tua. Dia pun mencoba mencari-cari kira-kira usaha apa yang bisa membuatnya bekerja di rumah.
Lantaran berasal dari keluarga petani, Fahid pun mengambil peluang itu untuk ia kembangkan dengan keilmuan pertanian dan peternakan modern.
"Setelah dijalani, ternyata di luar ekspektasi. Enggak hanya untuk penghasilan sehari-hari, tetapi juga dimintai banyak pihak untuk mengisi pelatihan pertanian," kata Fahid kepada Harianjogja.com, Rabu (31/8/2022).
BACA JUGA: Besok Ada Pemadaman Listrik, Catat Lokasi dan Jamnya!
Fahid berkisah, mulanya dia berfokus untuk budi daya pertanian, khususnya terkait dengan pembuatan pakan ternak. Lantaran masih ada sisa lahan, dia pun memanfaatkannya untuk budi daya tanaman pangan dan sayuran, mulai dari padi, cabai, bawang merah, kacang panjang, hingga melon.
"Kayaknya jadi dikenal orang ketika menanam melon itu saya terapkan agro-eduwisata. Tetapi saya enggak hanya fokus di situ, karena analisis risiko saja kalau melon memang cocok di musim kemarau," kata dia.
Fahid mengaku belajar pertanian secara autodidak. Mulanya, dia banyak bertanya kepada petani-petani senior di sekelilingnya. Kemudian, dia padukan ilmu yang ia dapat dengan membaca sejumlah sumber literasi dan menganalisis mana yang lebih cocok dilakukan.
"Saya gabungkan pertanian modern dan konvensional. Pertanian modern itu perlu dan saya maksudkan untuk menumbuhkan semangat, dan juga untuk kemajuannya ke depan kalau bisa. Kalau yang konvensional juga perlu dilakukan, karena permulaannya dari situ, sebab pertanian modern itu biasanya perlu biaya," terangnya.
Dia pun berupaya mengembalikan lahan agar tidak terlalu banyak menggunakan pestisida kimia. Menurutnya, petani jaman dulu justru bertani secara organik. Namun, seiring berjalannya program pemerintah untuk menggalakkan budi daya pertanian, justru penggunaan pupuk dan pestisida kimia tidak terhindarkan.
Selain itu, salah satu teknologi modern yang ia terapkan adalah penggunaan sistem rorak. Sistem ini dilakukan dengan membuat bak tampung terintegrasi untuk mengantisipasi lahan banjir saat musim penghujan.
Sementara untuk budi daya produk hortikultura, Fahid menggunakan sistem penyiraman drip irigasi.
Menurutnya, ada berbagai keuntungan ketika menggunakan sistem drip irigasi, seperti lebih hemat air, efisien waktu, dan tanaman jadi lebih produktif. Sehingga, teknologi ini bisa dilakukan oleh petani desa tanpa membutuhkan biaya yang terlalu tinggi.
Berkat kejeliannya dalam bertani, dia pun diminta mengisi pelatihan menanam buah melon dengan teknologi Internet of Things (IOT) kepada para santri di pondok pesantren Darul Qur'an Wal Irsyad di Kepek, Wonosari.
Pelatihan itu merupakan pendampingan dari Bank Indonesia untuk bisa menciptakan kemandirian pangan dengan bercocok tanam di greenhouse pondok.
Mas Tani
Sebagai petani muda, Fahid awalnya mendapat cemoohan dari sekitarnya. Namun, dia tidak begitu mendengarkan banyak hal negatif yang mengelilinginya dan lebih fokus dalam budidaya pertanian.
"Lama-kelamaan, mereka melihat bagaimana perkembangan pertanian yang dikelola dengan baik dan bersistem. Akhirnya mereka justru banyak yang datang ke lahan saya minta sharing, sekarang jadi lebih banyak yang sudah menerima," kata Fahid.
Selama bertani melon, Fahid pun membuka lahannya sebagai agro-eduwisata agar bisa dikunjungi publik. Di sana, dia terbuka untuk berbagi ilmu pertanian yang ia terapkan pada siapa pun.
Dia juga mengembangkan brand MasTani Farm sebagai wadah yang bisa dimanfaatkan untuk berbagi ilmu seputar pertanian.
Nama MasTani ia ambil dari panggilan warga sekitar yang ditujukan padanya ketika ia berangkat ke sawah.
"Ke depan saya akan kembangkan MasTani Farm itu, karena selama ini masih merintis. Saya pengen lebih bermanfaat, jadi rasanya hidup lebih indah dan komplit," ujarnya.
Berkat keuletannya dalam bertani dan berbagi ilmu pertanian, ia pun dilirik pemerintah setempat untuk dijadikan mitra sebagai petani muda.
Fahid yang mendapat penghargaan sebagai Petani Berprestasi ini juga ditunjuk untuk mewakili Gunungkidul untuk melaju ke tingkat nasional pada akhir Agustus lalu.
"Semuanya mengalir begitu saja. Awalnya saya hanya fokus budi daya. Tetapi ketika ada yang merasa membutuhkan ilmu dan saya bisa berbagi sedikit, ternyata justru diapresiasi oleh pemerintah," kata dia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)
Dua wakil Indonesia lolos ke babak utama Malaysia Masters 2026, drama kualifikasi warnai hasil di Axiata Arena Kuala Lumpur.
Samsung Messages resmi dihentikan Juli 2026. Pengguna Galaxy wajib pindah ke Google Messages. Simak cara backup data dan jadwalnya.
Gerbang Tol Trihanggo Sleman usung siluet Ratu Boko dan aksara Jawa, jadi ikon budaya baru di Tol Jogja–Solo.