UGM AI Tech4Disaster Himpun 1.400 Laporan Pascabencana NTT
Portal UGM AI Tech4Disaster telah menghimpun sekitar 1.400 laporan warga untuk membantu pemetaan kebutuhan logistik pascabencana NTT.
Sejumlah spanduk nampak bertengger di pintu masuk jalan menuju lokasi calon TPSS di Karanggeneng yang menyatakan penolakan adanya TPSS di sana pada Rabu (26/7/2023)./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Rencana pembangunan Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPSS) di Karanggeneng menuai penolakan warga. Lokasi ini rencananya akan dijadikam tempat pembuangan sampah sementara TPA Piyungan.
Bila memang menjadi satu-satunya solusi yang paling baik, warga mengajukan syarat. Salah satunya, warga meminta aspek kesehatan masyarakat diperhatikan.
BACA JUGA: Lokasi Sampah Sementara TPA Piyungan di Sleman Ditolak Warga, Ini Respons Sultan
Salah satu warga Karanggeneng, Naryono menerangkan penolakan warga terkait rencana pendirian TPSS di Karanggeneng didasari kekhawatiran masyarakat pada aspek kesehatan maupun dampak lainnya yang bisa ditimbulkan.
Jika kebijakan yang terbaik adalah membangun TPSS di Karanggeneng, Naryono meminta kesehatan para warga betul-betul diperhatikan.
"Yang penting seandainya itu sudah diputuskan sudah menjadi kebijakan yang terbaik, harapan kami dari unsur kesehatan tadi, terus dari dampak mungkin perekonomian dari kami, terus mungkin ada program-program yang ada di kami ini mohon diperhatikan," tuturnya pada Rabu (26/7/2023).
"Jadi, bukan kita frontal, ibaratnya menolak keras itu tidak," tambahnya.
Naryono menekankan penolakan masyarakat yang terjadi berdasarkan kekhawatiran. Maka pemerintah harus bisa menjawab kekhawatiran-kekhawatiran itu tadi dengan solusi nyata.
"Kembali lagi itu kalau sudah jadi kebijakan yang terbaik, ya istilahnya monggo pemerintah, yang penting kami diperhatikan dari segi kesehatannya, dari segi perputaran ekonomi," tandasnya.
Bila pembangunan TPSS di Karanggeneng menjadi solusi darurat untuk bisa mengatasi sampah dan pemerintah bisa menjamin solusi atas kekhawatirkan masyarakat, Naryono meyakini masyarakat tentu tidak ada masalah. Selain itu janji bahwa TPSS hanya digunakan selama periode tertentu juga harus ditepati
"Masyarakat khawatir seperti itu tapi ternyata realita dengan teknologi, dengan pengalaman-pengalaman mungkin kajian yang sudah matang dan ternyata bau tidak ada, ternyata lalat juga tidak ada dan lalu lalang kendaraan dan tidak mengganggu ekonomi masyarakat ya saya kira masyarakat tidak ada apa-apa," tegasnya.
Bagi Naryono, ia lebih memilih tidak ada kompensasi tetapi kondisi lingkungannya aman ketimbang harus ada kompensasi tertentu.
"Masalah mungkin kompensasi atau apa terus terang kami sebagai warga masyarakat tidak kok jagake arah kesana, terus sesok biar dapat kompensasi, warga kami tidak. Karena ya alhamdulilah dengan keadaan seperti ini dengan ekonomi itu yo mending tidak ada kompensasi tapi katakanlah aman," katanya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Portal UGM AI Tech4Disaster telah menghimpun sekitar 1.400 laporan warga untuk membantu pemetaan kebutuhan logistik pascabencana NTT.
Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Sleman kembali membuka layanan SIM Keliling.
Polres Gunungkidul kembali membuka layanan SIM Keliling. Berbagai inovasi layanan disiapkan guna mempermudah masyarakat di wilayah Bumi Handayani dalam mengurus
Gunung Merapi kembali meluncurkan APG sejauh 2 km ke barat daya. Merapi masih Level III Siaga, warga diminta menjauhi zona bahaya.
Festival Mustika Rasa di Jogja mendorong kedaulatan pangan melalui pemanfaatan bahan lokal dan lebih dari 1.000 resep kuliner Nusantara.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa