BRI Peduli Wujudkan Mimpi Mahesa Miliki Sepeda
RI Peduli mewujudkan mimpi Mahesa, siswa SD Barunawati Semarang, memiliki sepeda untuk memudahkan perjalanan ke sekolah dan mengejar cita-cita
Atik Nur Azizah. Ist
Harianjogja.com, JOGJA—Sebagai seorang perempuan yang sedang mengandung, wajar rasanya jika Atik Nur Azizah berharap mendapatkan prioritas pelayanan dalam sebuah instansi layanan publik.
Ternyata, harapan itu ia rasakan ketika baru saja sampai di depan pintu kantor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Jogja, dia disapa oleh seorang petugas keamanan kantor. “Permisi, ibu hamil ya? Saya beri antrean prioritas ya,” kata petugas tersebut.
BACA JUGA: Kronologi Pengungkapan Kasus Korban TPPO Warga Sleman Hingga Kembali ke Rumah
Atik memang sedang hamil dengan usia kandungan 28 pekan. Adanya layanan prioritas cukup membantunya untuk mengurus reaktivasi keanggotaan BPJS Kesehatan.
Dengan layanan prioritas, waktu yang dihabiskan untuk layanan bisa lebih efisien sehingga Atik yang sedang hamil bisa berkegiatan lain setelahnya, atau istirahat di rumah dengan lebih cepat.
Tidak hanya di pintu depan, saat dia sedang menunggu giliran pelayanan, ada petugas dari BPJS Kesehatan Jogja yang juga memastikan apabila Atik sudah mendapatkan antrean prioritas.
“Saya enggak tahu kalau ada layanan prioritas, baru pertama kali datang ke sini. Pelayanan dan penyampaiannya bagus, dulu ke tempat kaya gini sudah insecure gimana gitu,” kata Atik, Selasa (25/7/2023).
Insecure, kata dia, dalam arti akan antre dan proses pelayanannya lama. “Namun, nyatanya sama sekali tidak. Total waktu dari pertama saya datang sampai selesai urusan memakan waktu sekitar 30 menit. Padahal bayangan saya, bisa berjam-jam,” ucap Atik.
Selain cepat, kata Atik, pelayanan juga full senyum dari petugas jaga sampai di ruang konsultasi. Bahkan Atik membandingkan apabila keramahan di kantor BPJS Kesehatan Jogja lebih menyenangkan dibanding di toko swalayan.
Di beberapa toko swalayan, tidak semua petugasnya murah senyum. “Harusnya senyum itu kan enak, ramah,” kata perempuan asal Bantul berusia 32 tahun ini.
Sebagai orang yang sempat bekerja sebagai bidan di salah satu rumah sakit di Bantul, Atik tahu betul soal standardisasi pelayanan. Dalam banyak kondisi, ramah dan senyum menjadi prioritas.
Memberikan pelayanan yang maksimal juga yang pernah Atik alami dan lakukan, termasuk saat masih menjadi bidan, dia tidak membedakan pasien berdasarkan akses pengobatan baik menggunakan BPJS Kesehatan maupun umum.
“Kami [sebagai tenaga kesehatan] sama saja pelayanannya, kadang kami layanin persalinan umum dan BPJS, sama aja pelayanannya di rumah sakit saya dulu kerja. Bedanya saat sudah masuk bangsal, karena memang ada pilihan kelasnya masing-masing,” kata Atik. (BC)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RI Peduli mewujudkan mimpi Mahesa, siswa SD Barunawati Semarang, memiliki sepeda untuk memudahkan perjalanan ke sekolah dan mengejar cita-cita
Kemarau panjang di Cangkringan membuat dua sekolah kekurangan air dan memicu tiga kebakaran sejak Juni 2026.
Dinsos Kulonprogo mengingatkan penerima bansos wajib mendaftar Perlinsos karena aplikasi ini akan menjadi basis data penyaluran bantuan mulai 2027.
Muhammad Qodari membantah sejumlah tudingan terhadap Bakom, termasuk isu Timothy Ivan, rekrutmen PAN, dan anggaran media Rp60 miliar.
Menyusuri kawasan dalam benteng sambil mengayuh sepeda menjadi cara yang dipilih dalam Amazing Race bertajuk “Ngepit Jeron Benteng” pada Jogja World Heritage
Sebanyak 92.055 warga Gunungkidul terdampak kekeringan. Kapanewon Tepus menjadi wilayah terparah dengan 24.875 jiwa mengalami krisis air.