Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Sejumlah karangan bunga berjajar di rumah almarhum Rahardjo Waluyo Jati, di Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Rabu (9/8/2023)/Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN–Mantan aktivis 98, Raharjo Waluyo Jati, meninggal dunia dan dimakamkan di Kalurahan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Rabu (9/8/2023). Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, turut mengantarkan jenazah ke pemakaman.
Waluyo Jati meninggal pada Selasa (8/8/2023) pukul sekitar 05.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, karena serangan jantung. Jenazah disemayamkan di rumah duka, di Jalan Cangkring Indah Gang Bayam No.43, RT 8/RW 32, Kalurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
Ratusan kolega yang sebagian besar merupakan aktivis 98 menghadiri pemberangkatan jenazah, Rabu (9/8/2023) pagi. Nezar Patria terlihat hadir di antara pelayat lainnya. Ia juga turut mengantarkan jenazah ke pemakaman.
Ditemui usai pemakaman, Nezar Patria mengatakan ikut menunggu almarhum ketika di RSCM dan membawanya ke Jogja. "Ini bentuk penghormatan terakhir kita semua buat seorang sahabat yang sangat setia," katanya.
Ia menceritakan kedekatannya dengan almarhum sudah berlangsung sejak kuliah, dimana keduanya merupakan mahasiswa Fakultas Filsafat UGM dan tergabung dalam pers mahasiswa Pijar. "Saya jadi Pemimpin Umum dan Jati adalah Pemimpin Redaksi," katanya.
Keduanya juga aktif dalam gerakan mahasiswa yang berkiprah di bawah rezim Soeharto. Hingga pada Maret 1998, keduanya menjadi salah satu dari beberapa aktivis yang diculik. "Kami sesama aktivis yang masuk dalam daftar penghilangan paksa 1998," katanya.
BACA JUGA: Sampah Tercecer di Jalan, Warga Sleman Dipersilakan Melapor Dinas Lingkungan Hidup
Beruntung keduanya termasuk dari sedikit aktivis yang dibebaskan setelah penculikan. "Kami mencoba menggunakan kesempatan itu untuk bekerja buat kepentingan orang banyak, selalu berjalan di garis yang sudah dikerjakan sejak awal," ungkapnya.
Pasca reformasi, Waluyo Jati masih bergerak di bidang sosial melalui berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat baik terkait riset maupun advokasi. Almarhum juga sempat memimpin Voice of Human Rights, stasiun radio yang menyuarakan hak asasi manusia.
Hadir juga dalam pemakaman Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat dan Alumni UGM, Arie Sujito. Ia mengatakan mengenal almarhum juga sejak kuliah. "Dia dua tahun di atas saya, tapi beririsan dalam banyak kegiatan. Saya Fisipol, dia Filsafat," katanya.
Menurutnya, Waluyo Jati merupakan sosok yang progresif dan humoris. "Saya merasa kehilangan betul dengan meninggalnya Jati. Dia dulu aktivis kiri yang selalu progresif di masa Orde Baru. Jati juga salah satu tokoh yang konsisten dalam merawat pertemanan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Tujuh tentara AS dilaporkan tewas dalam bentrokan di USS Abraham Lincoln. Insiden disebut dipicu stres akibat perang berkepanjangan.
Satpol PP Bantul menemukan 2.704 batang rokok ilegal di dua warung di Sanden dalam operasi bersama Bea Cukai Yogyakarta.
Tim SAR masih mencari lima penumpang KMP Putri Yasmin yang belum ditemukan setelah kapal terbakar di Selat Lombok, NTB.
KPK menggeledah Kanwil Pajak Surakarta dan sejumlah lokasi di empat daerah terkait kasus pajak Banjarmasin. Emas 1,3 kg turut disita.
Gelombang tinggi kembali menyumbat aliran air di Sanden dan Kretek, Bantul. Sekitar 55 hektare lahan pertanian kembali tergenang.