Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Sejumlah karangan bunga berjajar di rumah almarhum Rahardjo Waluyo Jati, di Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Rabu (9/8/2023)/Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN–Mantan aktivis 98, Raharjo Waluyo Jati, meninggal dunia dan dimakamkan di Kalurahan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Rabu (9/8/2023). Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, turut mengantarkan jenazah ke pemakaman.
Waluyo Jati meninggal pada Selasa (8/8/2023) pukul sekitar 05.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, karena serangan jantung. Jenazah disemayamkan di rumah duka, di Jalan Cangkring Indah Gang Bayam No.43, RT 8/RW 32, Kalurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
Ratusan kolega yang sebagian besar merupakan aktivis 98 menghadiri pemberangkatan jenazah, Rabu (9/8/2023) pagi. Nezar Patria terlihat hadir di antara pelayat lainnya. Ia juga turut mengantarkan jenazah ke pemakaman.
Ditemui usai pemakaman, Nezar Patria mengatakan ikut menunggu almarhum ketika di RSCM dan membawanya ke Jogja. "Ini bentuk penghormatan terakhir kita semua buat seorang sahabat yang sangat setia," katanya.
Ia menceritakan kedekatannya dengan almarhum sudah berlangsung sejak kuliah, dimana keduanya merupakan mahasiswa Fakultas Filsafat UGM dan tergabung dalam pers mahasiswa Pijar. "Saya jadi Pemimpin Umum dan Jati adalah Pemimpin Redaksi," katanya.
Keduanya juga aktif dalam gerakan mahasiswa yang berkiprah di bawah rezim Soeharto. Hingga pada Maret 1998, keduanya menjadi salah satu dari beberapa aktivis yang diculik. "Kami sesama aktivis yang masuk dalam daftar penghilangan paksa 1998," katanya.
BACA JUGA: Sampah Tercecer di Jalan, Warga Sleman Dipersilakan Melapor Dinas Lingkungan Hidup
Beruntung keduanya termasuk dari sedikit aktivis yang dibebaskan setelah penculikan. "Kami mencoba menggunakan kesempatan itu untuk bekerja buat kepentingan orang banyak, selalu berjalan di garis yang sudah dikerjakan sejak awal," ungkapnya.
Pasca reformasi, Waluyo Jati masih bergerak di bidang sosial melalui berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat baik terkait riset maupun advokasi. Almarhum juga sempat memimpin Voice of Human Rights, stasiun radio yang menyuarakan hak asasi manusia.
Hadir juga dalam pemakaman Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat dan Alumni UGM, Arie Sujito. Ia mengatakan mengenal almarhum juga sejak kuliah. "Dia dua tahun di atas saya, tapi beririsan dalam banyak kegiatan. Saya Fisipol, dia Filsafat," katanya.
Menurutnya, Waluyo Jati merupakan sosok yang progresif dan humoris. "Saya merasa kehilangan betul dengan meninggalnya Jati. Dia dulu aktivis kiri yang selalu progresif di masa Orde Baru. Jati juga salah satu tokoh yang konsisten dalam merawat pertemanan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Jadwal KA Bandara YIA Xpress hari ini tersedia dari pagi hingga malam, rute langsung Tugu ke YIA tanpa transit.
Polda NTB meningkatkan kasus dugaan eksploitasi seksual WNA asal Selandia Baru ke tahap penyidikan usai laporan tiga korban lokal.
Rupiah ditutup melemah ke Rp17.655 per dolar AS. BI siapkan intervensi agresif di pasar valas dan obligasi.
DPR mendesak Kemenlu bergerak cepat menyelamatkan WNI yang ditangkap Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla ke Gaza.
Menkomdigi Meutya Hafid mengecam Israel usai menahan jurnalis Indonesia dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza.