Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Wakil Bupati Bantul, Joko Budi Purnomo (tengah) secara simbolis memanen tembakau grompol di Srimulyo, Piyungan, Rabu (4/10/2023)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, BANTUL—Petani tembakau di sejumlah wilayah di Bantul, termasuk di Piyungan tengah panen raya pada September-Oktober ini. Sayangnya hasil panen masih jauh dari target. Kurangnya pasokan air ditengarai menjadi penyebabnya.
Ketua Kelompok Tani Murwat Jolosutro, Kalurahan Srimulyo, Piyungan, Rusdiono menjelaskan tahun ini ditargetkan sebanyak 300 ton hasil panen tembakau. Dari target tersebut, sampai saat ini baru tercapai 99 ton. Adapun tembakau yang sudah dipanen saat ini baru 75%. “Kalau target dari bibitnya, itu 300 ton,” ujarnya, Rabu (4/10/2023).
Di Piyungan ada 18 hektare lahan yang ditanami tembakau jenis grompol. Para petani sebagian besar bekerja sama dengan PT. Taru Martani. Selain Piyungan, petani tembakau yang juga bekerja sama dengan PT. Taru Martani tersebar di empat kapanewon lain, yakni Imogiri, Pundong, Pleret dan Dlingo.
Rusdiono mengatakan hasil panen ini kurang maksimal karena kurangnya pasokan air. “Tembakau grompol membutuhkan air yang cukup banyak. Beda dengan tembakau jenis lain. Karena kalau mengacu ke berat, airnya harus penuh,” ujar dia.
BACA JUGA: Hasil Panen Bagus, Petani Tembakau Gunungkidul Semingrah
Dia berharap Pemkab Bantul bisa memfasilitasi penambahan pasokan air ini dengan pembangunan sumur dan instalasi air tambahan. Selama ini, sumber air diperoleh para petani dari sumur-sumur yang sudah ada, namun debit airnya yang tidak mencukupi.
Debit air dari sumur ia akui memang selalu berkurang setiap musim kemarau. Namun khusus pada musim kemarau tahun ini, kondisinya jauh lebih kering sehingga menurutnya pengurangan debit air jauh lebih banyak. “Musim tanam kali ini minim air,” ungkapnya.
Selain itu, para petani juga mengeluhkan harga jual yang masih rendah. Pada tahun ini, harga jual daun tembakau basah seharga Rp2.200 per kg, naik Rp200 dari tahun sebelumnya. Menurutnya, harga ini belum mencapai pada angka ideal. “Untuk harga jual ini petani menangis,” kata dia.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo, mengatakan lahan tembakau kerja sama dengan PT. Taru Martani di Bantul totalnya seluas 60 hektar. Tembakau grompol ini menjadi bahan baku rokok cerutu.
“Nanti kami akan membantu terutama untuk masalah air. Nanti kami usahakan baik sumur dangkal maupun dalam. Kami juga lihat anggaran ke depan. Kalau soal harga bukan kewenangan dinas, tapi antara PT. Taru Martani dengan petani. Untuk sumur mungkin tahun depan nanti."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Trans Jogja disiapkan terintegrasi dengan Grab untuk mengatasi akses halte dan memperkuat konektivitas first mile-last mile.
Jogja Inspira #01 hadir di Ndalem Poenokawan dengan kolaborasi musik, puisi dan sketsa, memperkuat Jogja sebagai episentrum kreativitas seni.
Korban bencana di Nepal utara mencapai 951 orang. Sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara masih dinyatakan hilang.
Restitusi PPN yang belum cair dikhawatirkan mengganggu cash flow industri hingga memicu PHK dan pailit.
Wisata dan pembangunan di hulu Gajah Wong Sleman dinilai perlu memperhatikan daya dukung lingkungan untuk menjaga air dan ekosistem.