Gunungkidul Krisis Air Saat Kemarau, Sungai Bawah Tanah Jadi Solusi
DPRD Gunungkidul mendorong optimalisasi sungai bawah tanah sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih saat kemarau.
Salah seorang petani di Kalurahan Watusigar sedang menyirami tanaman tembakau agar bisa tumbuh subur, belum lama ini. - Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani tembakau di Gunungkidul bisa tersenyum lebar. Pasalnya, selain hasil panen bagus, harga jual tembakau juga mengalami kenaikan yang signifikan.
Salah seorang petani tembakau di Kalurahan Pampang, Paliyan, Wasnadi mengatakan, sejak Agustus lalu sudah memasuki panen raya tembakau. Di tahun ini, ia menanam bibit sebanyak 1.200 batang di lahan seluas satu hektare.
“Sudah panen dan sekali penaman bisa memanen daun tembakau hingga enam kali pemetikan,” kata Wasnadi, Jumat (15/9/2023).
Dia menjelaskan, selama pemeliharaan sempat ada gangguan hama seperti ulat dan thrips. Hanya saja, serangan tersebut dapat dikendalikan sehingga panenan bisa tetap bagus.
“Untuk ulat ada pemberian obat dari Perusahaan. Sedangkan hama thrips berhasil diatasi dengan bantuan dari petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul,” ungkapnya.
Menurut Wasnadi, petani semakin semingrah karena harga jual tembakau yang naik signifikan. Tahun lalu, harganya hanya di kisaran Rp23.000 per kilogram.
Namun panen kali ini, harga bisa menembus Rp45.000 per kilo untuk kualitas yang bagus. Sedangkan untuk yang kualitas normal di kisaran Rp30.000-40.000 per kilogram.
BACA JUGA: Pembangunan Tol Jogja-Solo Dorong Pertumbuhan Kredit di DIY
“Kami sangat bersyukur karena harga yang bagus, maka panen tembakau bisa menopang perekonomian para petani,” katanya.
Wasnadi menduga kenaikan harga tembakau disebabkan karena stok di pabrik yang mengalami kekosongan. Akibatnya permintaan menjadi tinggi untuk mengisi kekosongan tersebut. “Untuk pemasaran kami tidak ada masalah karena hasil panen petani dikumpulkan, kemudian diambil oleh perusahaan,” katanya.
Sedangkan petani tembakau di Kalurahan Giritirto, Purwosari, Mandoyo, Gunungkidul. Menurut dia, hasil panen sangat bagus juga didukung harga jual yang baik. “Tentunya dengan harga yang tinggi, maka petani dapat merasakan hasilnya,” katanya.
Mandoyo berharap harga tembakau bisa terus stabil dan tidak ada penurunan sehingga upaya menyejahterakan petani benar-benar dapat diwujudkan. “Kami senang dan mudah-mudahan harga bisa terus stabil,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendorong optimalisasi sungai bawah tanah sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih saat kemarau.
Alfamidi kembali menyalurkan 1.500 telur untuk 50 balita di Margodadi, Sleman, sebagai bagian dari program CSR pencegahan stunting.
Pemerintah menargetkan kemiskinan nasional turun menjadi 6–6,5 persen pada 2027 dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen.
Puan Maharani meminta polisi mengusut tuntas kericuhan demo 27 Agustus 2026 dan kematian warga di Pejompongan.
Pejabat Sleman yang gagal mencapai target kinerja bisa dikenai sanksi hingga demosi. Evaluasi mengacu pada Perbup Sleman No. 35/2026.
LBB 2026 Jogja diikuti 3.500 pelajar dari SD hingga SMA. Kegiatan ini menanamkan disiplin, keteraturan, dan cinta Tanah Air.