Kebakaran Gunung Sumbing Padam, Ahmad Luthfi Minta Percepat Rehabilitasi
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Sumbing telah padam.
Pementasan Kethoprak Mangir in Love di SCH./Istimewa
SLEMAN—Pergelaran seni kethoprak tobong sukses menyambangi Sleman City Hall (SCH).
Membawakan kisah berjudul Sang Primadona: Mangir in Love, Sanggar Sosrobahu berkolaborasi dengan penulis sekaligus budayawan Jogja, Joko Santosa, menampilkan pertunjukan kethoprak tobong berformat anyar di Atrium Rama SCH, Selasa (10/10) malam.
Pertunjukan ini berawal dari novel Sihir Pembayun karya sastrawan Joko Santosa yang diadaptasi Nano Asmorodono dkk menjadi karya silang media: sinema-ketoprak-tari (Seketi). Ini sekaligus menandai peristiwa budaya kali pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni masuknya kethoprak tobong ke tengah pengunjung mal yang notabene simbol masyarakat urban.
Manusia, kata kritikus sastra Prof Teeuw, adalah homo fabulans: makhluk yang bertutur, yang bersastra—dengan bahasa dan imajinasi yang absurd, tak pasti, mungkin labil, namun dengan demikian selalu aktual dan “reborn” berkali-kali dalam ujud yang berlainan.
Adalah Nano Asmorodono, “makhluk bertutur” yang melimbang jagat kethoprak sejak 1990-an, tanpa sayah lelana dari satu tobong ke tobong lain, ngangsu kawruh dengan Widayat, seniman kembar Gita-Gati, group-group kethoprak DIY, hingga sang empu Siswondo HS di Tulungagung dengan Siswo Budoyonya yang kondhang kaloka. Tanpa sayah tanpa lelah itulah yang mengantarkan Nano menjadi maestro kethoprak dan terus beranjaya sampai sekarang. Nano boleh dibilang satu-satunya maestro kethoprak sepeninggal Bondan Nusantara.
“Kethoprak perlu kualitas puitik. Sastra, dialog, dan akting idealnya harus beririsan. Kita tahu, susastra jawa abad 18-19, Wulangreh, Wedhatama, juga Kalatida, merupakan ikon di mana kita menaruh tabik. Namun tembang-tembang itu, era Ranggawarsita, Mangkunegara IV, dan Yasadipura, terasa ajek. Beda misalnya dengan karya Mpu Panuluh di abad 12 yang bahkan lebih kuno 600 tahun sebelumnya. Kakawin Hariwangsa dan Gatotkacasraya benar-benar sangar,” ujar Nano Asmorodono pada perbincangan jelang petang ditemani secangkir kopi.
BACA JUGA: Ketoprak Tobong Mangir in Love Hadir di Sleman City Hall
Wedhatama, atau apalagi Wulangreh, adalah tembang macapat yang memiliki beban didaktis sehingga terasa seperti khotbah. Yang satu, begitu banyak how to pedoman remaja dalam titilaku rohani yang becik, sedangkan satunya lagi rangkuman kawruh bagi anak priyayi. “Kekuatan literer Wedhatama maupun Wulangreh, jika toh diada-adakan, hanya elok pada bunyi, dan kejembaran sinonim; bukan pada esensi. Pada Wulangreh kita gagal mendapat keleluasaan membangun deskripsi imajinatif sebagaimana Bharatayudha,” ujar Nano.
Seperti darah merendam pakaian merah pengantin yang diperkosa. “Diksi puitik macam itu menghadirkan suasana erotik, halusinasi sensual, juga brutal. Pergumulan antara yang natural dan seksual begitu dahsyat. Di sinilah “ngenggg” daya puitik yang tidak ada dalam wejangan formal,” tambahnya.
“Saya ingin mengangkat kesenian tradisi, utamanya kethoprak tobong, yang notabene kesenian pinggiran. Sebagai praktisi seni khususnya kethoprak, saya berharap kesenian marginal tidak dipandang sebelah mata. Maka lahirlah seketi, dengan format yang tak lazim dilakukan kethoprak tobong dengan pola konvensionalnya.”
Seketi meski formatnya kekinian tapi ruh tetap tradisi. Contoh, unggah-ungguh etika dan setting kethoprak tobong tetap dipertahankan. Ada tatakrama tersendiri sembah terhadap sang junjungan, dan sujud terhadap Gusti kang Wisesa,” Nano menjelaskan. “Layar naik turun a la tobong masih kami pakai.”
Dangdut dan kethoprak memiliki akar sama. Mereka tumbuh ngrembaka dari kawula agraris, kadang dengan keasyikan tuak dan oplosan. Nano yang terobsesi muruah kethoprak, pada akhirnya memiliki paritas sama sebagaimana dangdut, yang bukan lagi sekadar hiburan orang pinggiran namun mampu menggedor pintu Mal dan masyarakat urban.
“Bagi saya, seketi menjadi karya bersama. Ada sastra yaitu novel yang dikonversikan menjadi kethoprak. Ada penyair, penata tari sekaligus penari, pantomimers, penata karawitan, pelawak, aktor teater dan film. Saya sangat berterima kasih kepada BRI, bank milik rakyat, yang concern terhadap kesenian tradisional. Mungkin BRI satu-satunya bank yang berupaya dekat dengan rakyat,” kata Nano Asmorodono menutup pembicaraan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Sumbing telah padam.
DPRD Kota Jogja meminta pengawasan tarif parkir diperketat menjelang liburan. Pemkot juga didorong menambah kantong parkir dan mengatur lalu lintas.
Ekonomi ilegal global diperkirakan mencapai US$6 triliun pada 2025. Simak dampaknya dan empat pusat kejahatan terorganisasi di Asia Tenggara.
Forbes menaksir kekayaan Kanye West sebesar US$400 juta, sedangkan Ye pernah mengklaim nilainya mencapai US$2,77 miliar pada Januari 2025.
Wamenhaj Dahnil mengimbau jemaah umrah memilih penerbangan langsung ke Jeddah atau Madinah dan menghindari transit di Malaysia serta Singapura.
UNY dan UNNES melaju ke final Campus League Futsal Regional Yogyakarta 2026 setelah melewati semifinal sengit di sektor putra dan putri.