Kasus Gagal Ginjal Sleman Tembus Ribuan, Usia Produktif Dominan
Kasus gagal ginjal di Sleman sepanjang 2025 didominasi usia produktif. Dinkes memperkuat deteksi dini dan pengendalian hipertensi.
Suasana Terminal Kenteng, Nanggulan./Istimewa-Dishub Kulonprogo
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kulonprogo melalui UPT Terminal Tipe C terus melakukan pemeliharaan terminal yang ada di Kulonprogo.
Sayangnya, keterbatasan anggaran membuat membuat Dishub tak bisa maksimal dalam melakukan pemeliharaan. Pemeliharaan terminal sejauh ini hanya dapat dilakukan oleh Dishub Kulonprogo untuk satu terminal dalam setahun.
Kepala UPT Terminal Tipe C Kulonprogo, Edi Suyanto mengatakan bahwa pemeliharaan terminal tipe C di Kulonprogo terus dilakukan. Dalam satu tahun, pemeliharaan hanya dapat dilakukan untuk satu terminal. Sementara jumlah terminal tipe C di Kulonprogo ada empat yaitu Terminal Brosot, Ngeplang, Kenteng, dan Jagalan.
Terminal Kenteng menjadi terminal paling luas dengan 1.500 meter persegi, Brosot 750 meter persegi, sementara dua sisanya 1.000 meter persegi. “pemeliharaan dilakukan kami [UPT] pakai dana APBD. Tapi memang gantian untuk pemeliharaan begitu. Anggarannya terbatas. Tahun ini, pemeliharaan kami lakukan di Terminal Kenteng dengan anggaran Rp20 juta,” kata Edi, Senin (16/10/2023).
BACA JUGA: Mal Pelayanan Publik di Terminal Dhaksinarga Wonosari Bakal Jadi Percontohan
Edi menambahkan pemeliharaan di Terminal Kenteng menyasar ruang tunggu bus. Pasalnya bagian atap ruang tunggu tersebut bocor. Dia mengaku rata-rata per hari ada empat bus yang transit di setiap terminal tersebut. Tidak semua terminal menjadi titik transit bus yang sama.
“Selama ini ada angkutan perdesaan, AKDP [antarkota dalam provinsi], dan AKAP [antarkota antarprovinsi]. Khusus yang di Terminal Jagalan karena melayani pasar jadi cuma angkutan perdesaan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi III DPRD Kulonprogo, Sarkawi, membenarkan bahwa anggaran pemeliharaan terminal tipe C di Kulonprogo terbatas. “[Anggaran] semua program dikurangi semua. Semua kegiatan dilakukan efisiensi. Ya bagaimana, soalnya aspirasi Dewan saja tidak ada,” kata Sarkawi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus gagal ginjal di Sleman sepanjang 2025 didominasi usia produktif. Dinkes memperkuat deteksi dini dan pengendalian hipertensi.
AQUA resmi bubar setelah 30 tahun berkarier, menutup era musik pop dunia dengan warisan lagu “Barbie Girl”.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Daerah Istimewa Yogyakarta terus berkomitmen untuk mendekatkan sarana pelayanan kepada masyarakat luas.
Chery dan BYD mengkaji potensi kenaikan harga mobil di Indonesia akibat pelemahan rupiah dan tekanan biaya produksi.
Panduan membaca hasil TKA Kemendikdasmen agar peserta didik memahami makna skor dan kategori penilaian akademik.
Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul kembali menggelar kegiatan Internalisasi Kesejarahan melalui Pembinaan Komunitas.