Dampak El-Nino, Musim Tanam di Sleman Mundur

Jumali
Jumali Jum'at, 17 November 2023 13:27 WIB
Dampak El-Nino, Musim Tanam di Sleman Mundur

Petani mencabut benih untuk ditanam. - ilustrasi/Antara

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman memastikan musim tanam di wilayahnya mundur, akibat dari fenomena el nino. Alhasil, hal ini akan berdampak ke masa panen terhadap 18.000 hektare sawah di Bumi Sembada yang juga mundur.

Kapala Bidang Tanaman Pangan DP3 Sleman, Siti Rochayah mengatakan, saat ini telah turun hujan di beberapa wilayah di Sleman. Akan tetapi, hal itu tidak bisa dijadikan patokan bagi para petani di Bumi Sembada untuk memulai musim tanam. Sebab, hujan yang turun tersebut tidak langsung membuat tanah pertanian siap untuk ditanami.

"Yang jelas tanahnya belum jenuh. Jadi belum bisa dimulai masa tanam. Kemungkinan baru Desember dimulai musim tanam. Memang saat ini beberapa petani sudah mulai mempersiapkan diri untuk musim panen, seperti membuat persemaian dan sebar benih. Kalau olah tanah belum," kata Siti, Jumat (17/11/2023).

Siti mengungkapkan dengan mundurnya musim tanam akan berdampak pada mundurnya musim panen. Hal ini berbeda dengan kondisi yang dialami oleh petani pada empat tahun sebelumnya. Di mana, efek dari La Nina, pada akhir Oktober para petani sudah memulai masa tanam. "Kalau sekarang karena adanya kondisi iklim seperti ini maka baru mulai masa tanam pada bulan Desember. Nantinya April baru mulai masa tanam," kata Siti.

BACA JUGA: Sejumlah Barang Disita Polisi, Ketua KPK Minta Keadilan

Disinggung mengenai kemungkinan penurunan produksi beras akibat masa tanam dan masa panen yang mundur, Siti enggan banyak berkomentar. Meski demikian, Siti mengungkapkan jika dalam kondisi normal setiap hektare mampu menghasilkan gabah kering giling sebanyak 6,5 ton. "Untuk nanti penurunannya berapa kami masih akan menghitungnya," jelas Siti.

Sementara Sub Koordinasi Substansi Bina Produksi Tanaman Pangan DP3 Sleman, Sumarno berharap agar petani segera menebus pupuk yang saat ini masih ada di kios. Sebab, diakuinya sampai akhir Oktober, serapan pupuk subsidi di Sleman baru mencapai 60%. Padahal, pada 2023, pihaknya menerima alokasi sekitar 11.000 ton pupuk urea, alokasi ini lebih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 9.151 ton pupuk urea. Sedangkan untuk pupuk NPK, tahun ini Sleman mendapatkan alokasi sekitar 7.000 ton, atau naik dibandingkan tahun lalu yang mencapai 6.047 ton.

"Untuk itu kami mengimbau ke petani segera menebus pupuk, pas saat pemupukan, pupuk sudah tersedia. Karena 2024 nanti sudah ganti alokasi lagi," kata Sumarno.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online