JBBA 2026 Tak Sekadar Penghargaan, Utamakan Dampak Nyata Bagi DIY
JBBA 2026 mengusung konsep penghargaan berbasis dampak bagi pembangunan DIY dengan fokus pada pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi berkelanjutan.
Sayuran hijau. - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JOGJA— Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tidak menghalangi warga Kelurahan Keparakan, Kemantren Mergangsan, Kota Jogja mengembangkan sektor pertanian. Melalui pelatihan budidaya hidroponik, masyarakat dibekali keterampilan memanfaatkan ruang sempit untuk menghasilkan sayuran sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga dan membuka peluang usaha skala rumah tangga.
Pelatihan tersebut digelar di Kelurahan Keparakan pada Rabu (15/7/2026) dan diikuti puluhan peserta yang berasal dari kelompok PKK, Karang Taruna, serta warga yang tertarik mengembangkan budidaya hidroponik.
Hidroponik Jadi Solusi Lahan Terbatas
Sekretaris Kelurahan Keparakan, Warsilah, mengatakan pelatihan ini dirancang untuk mendorong masyarakat memanfaatkan lahan terbatas di kawasan padat penduduk secara lebih produktif.
Menurutnya, metode hidroponik menawarkan berbagai keunggulan karena lebih hemat penggunaan air serta mampu menghasilkan sayuran segar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
"Kita ingin mendorong warga untuk memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan perkotaan dengan teknologi hidroponik. Selain ramah lingkungan, metode ini juga hemat air dan bisa menghasilkan sayuran segar yang sehat untuk keluarga," katanya.
Dukung Ketahanan Pangan dan Ekonomi Warga
Warsilah menjelaskan kegiatan tersebut menjadi bagian dari program ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat kelurahan.
Ia berharap peserta yang mengikuti pelatihan tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh, tetapi juga dapat membagikan pengetahuan tersebut kepada warga lain di lingkungan masing-masing.
"Kedepannya kita harapkan peserta dapat menjadi kader pelatih di lingkungan masing-masing sehingga manfaatnya semakin luas," ujarnya.
Peserta Belajar dari Teori hingga Praktik
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai teknik dasar budidaya hidroponik, penyusunan nutrisi tanaman, pemilihan media tanam, perawatan tanaman, hingga strategi memasarkan hasil panen.
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti praktik langsung merakit instalasi hidroponik sederhana menggunakan pipa PVC dan media tanam rockwool.
Berbagai jenis sayuran yang umum dibudidayakan dengan sistem hidroponik turut diperkenalkan, di antaranya kangkung, selada, pakcoy, dan bayam. Peserta tampak aktif mengikuti setiap tahapan, mulai dari perakitan instalasi hingga proses penanaman bibit.
Diharapkan Lahir Kawasan Hidroponik Produktif
Kelurahan Keparakan berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kawasan berbasis hidroponik yang produktif di tengah lingkungan perkotaan.
Dengan semakin banyak warga yang menguasai teknik budidaya hidroponik, potensi pengembangan usaha rumah tangga sekaligus kemandirian pangan di tingkat kampung diharapkan terus meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
JBBA 2026 mengusung konsep penghargaan berbasis dampak bagi pembangunan DIY dengan fokus pada pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi berkelanjutan.
Anggota V BPK RI Bobby Adhityo Rizaldi diperiksa KPK sebagai saksi kasus dugaan suap audit BPK di Muara Enim dan mengaku telah menyampaikan seluruh informasi.
Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Semarang mengeluhkan honor belum cair. BPS menegaskan pembayaran tetap mengacu pada SPK dan masih diproses.
Pemkab Bantul dan Baznas menyalurkan bantuan modal usaha Rp2 juta bagi warga miskin ekstrem untuk memperkuat UMKM dan mengurangi kemiskinan.
Kelurahan Keparakan, Jogja melatih warga bertani hidroponik untuk memanfaatkan lahan sempit sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Tiga proyek strategis Pemkab Gunungkidul memasuki tahap penandatanganan kontrak, termasuk pembangunan Kantor Dinas Kesehatan dan Aviary Dome.