Pedagang Tuna Netra Kini Bisa Jualan Tetap di Pasar Ngasem
Pedagang tuna netra Gilang Rizki kini mendapat tempat berjualan di Pasar Ngasem setelah sempat ditegur karena berjualan secara asongan.
Kekerasan - Ilustrasi
Harianjogja.com, JOGJA –Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY menyebut sedikitnya 95% satuan pendidikan di wilayahnya mulai dari tingkat SD sampai SMA sudah dibentuk tim pencegahan dan penanggulangan kekerasan (TPPK). Tim tersebut akan berperan sebagai garda terdepan mengatasi fenomena perundungan.
Kepala Disdikpora DIY Didik Wardaya mengatakan, wilayahnya merupakan salah satu daerah dengan jumlah TPPK terbanyak di Indonesia. Peran tim itu disebut Didik sangat krusial dalam mengedukasi pencegahan perundungan yang masih marak ditemui di sekolah. Oleh karenanya pihaknya berharap TPPK bisa melakukan edukasi kepada murid.
"Tugas kita sekarang adalah bagaimana mengisi strategi apa atau kegiatan apa untuk melakukan pencegahan yang harus dilakukan oleh tim TPPK tersebut," ujarnya, Selasa (5/12/2023).
Menurut Didik, keberadaan TPPK hanya minus di tingkat PAUD lantaran minimnya tenaga pengajar. Di tingkat PAUD biasanya hanya diisi oleh beberapa staf pengajar dan seorang kepala sekolah, sehingga TPPK yang mengadopsi bentuk tim kurang optimal dilaksanakan di tingkat itu.
Baca Juga:
7 Faktor Penyebab Orang Melakukan Bullying
Mengoptimalkan Fungsi Rumah Cegah Perilaku Bullying
Pengin Anak Tak Lakukan Bullying ke Temannya? Psikolog: Orang Tua Jangan Contohkan Kekerasan
"Di TK itu kan hanya satu kepala sekolah dua guru. Nah untuk membentuk tim perlu berkelompok agar bisa menghindari semacam bullying yang ada di sekolah," jelasnya.
Jika dikonversi dengan jumlah sekolah, 95% TPPK yang terbentuk itu jumlahnya lebih dari seratusan. "Itu di sekolah negeri dan swasta. Jumlah SMA dan SMK negeri swasta kita saja 384 ditambah SLB ada 70. Jadi total itu kita punya 400 lebih hampir 500 tapi kurang dari 500 TPPK," ungkap Didik.
Didik menambahkan fenomena yang berkembang sekarang korban perundungan memang sulit atau tidak berani untuk mengadu dan berbicara. Hal ini disebut dia merupakan hal yang lazim ditemukan. Salah satu peran TPPK nantinya berupaya untuk mengajak korban perundungan agar berani mengadu dan berbicara.
"Salah satu peran TPPK itu bagaimana mereka mengajak siswa berani dan mau mengungkapkan permasalahan yang dihadapi termasuk jenis bullying yang ada segala macam itu. Kita kemudian menyikapi bagaimana mengatasi permasalahan itu termasuk kerja sama dengan berbagai pihak mulai dari KPAI dan DP3AP2," katanya.
Jenis perundungan yang kini dilakukan oleh sesama murid juga beragam. Tidak hanya verbal, tetapi juga dalam bentuk kekerasan fisik. "Bentuknya macam-macam. Tidak hanya verbal, kekerasan yang sifatnya ini kan pasti ada ya. Itu tergantung masing-masing kasus sebetulnya, tidak hanya bulying termasuk juga ada masalah yang harus kita tanggulangi adalah mencegah pelecehan seksual," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pedagang tuna netra Gilang Rizki kini mendapat tempat berjualan di Pasar Ngasem setelah sempat ditegur karena berjualan secara asongan.
Wamendagri Bima Arya menyatakan pemerintah belum membahas usulan kewarganegaraan ganda dan masih mengkaji aspek hukum serta data pendukung.
PSS Sleman memastikan seluruh pemain asing telah tiba dan menjalani MCU. Manajemen kini menuntaskan administrasi sebelum peluncuran tim.
Presiden Prabowo akan meresmikan program listrik desa sebelum 14 Agustus 2026. Sebanyak 1.400 desa telah tersambung listrik sepanjang 2025.
Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum menerima arahan Presiden Prabowo terkait bursa calon Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Kebakaran Pasar Sidoharjo Bayat Klaten menghanguskan dagangan pedagang. Pemkab Klaten menyiapkan solusi agar pedagang segera berjualan kembali.