Duh, Area Stunting di Sleman Bergeser ke Kawasan Ekonomi Mampu, Kebiasaan Makan Jadi Biangnya

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Rabu, 27 Desember 2023 16:57 WIB
Duh, Area Stunting di Sleman Bergeser ke Kawasan Ekonomi Mampu, Kebiasaan Makan Jadi Biangnya

Ilustrasi Posyandu./Antara

Harianjogja.com, SLEMAN—Angka stunting atau tengkes di Sleman pada 2023 memang turun secara masif. Sayangnya, justru terjadi pergeseran titik stunting ke wilayah dengan ekonomi mampu.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama menerangkan pada 2022, angka stunting di Sleman mencapai 6,88%. Sementara tahun ini angkanya turun 2,37% menjadi 4,51%.

Penurunan masif ini kata Cahya dipicu oleh penanganan stunting yang digarap bersama oleh lintas sektor. "Salah satunya karena program penurunan stunting ini digeropyok bersama-sama dengan OPD yang lain," kata Cahya dikutip pada Rabu (27/12/2023).

"Jadi kerja sama pentaheliks dari tim penurunan stunting tingkat kabupaten kemudian dadi masing-masing wilayah kalurahan ini bekerja bersama. OPD juga bekerja sama ingin mempercepat penurunan tadi," tegasnya.

Dalam penurunannya, Cahya mengungkapkan ada pergeseran area dengan kasus stunting tinggi di Sleman. Bila sebelumnya kasus stunting banyak ditemukan di Seyegan dan Minggir, petanya kini beralih ke Pakem dengan angka stunting yang masih tinggi.

"Yang masih tinggi daerah pakem. Bergeser, kalau dulu daerah Seyegan, Minggir sekarang bergeser ke Pakem," ungkapnya.

Terkait pegersesan kasus ini, Cahya menilai pola asuh dan pola makan yang kemungkinan menjadi sebab tingginya stunting di Pakem.

Pasalnya bila melihat latar belakangnya, seharusnya masyarakat di kawasan tersebut merupakan masyarakat dengan ekonomi mampu. "Mungkin karena pola asuh. Kalau mereka kan rata-rata mampu kalau di sana," ujarnya.

"Jadi pola asuhnya bagaimana memberikan pengertian kepada masyarakatnya, bagaimana memberikan gizi kepada anak anaknya itu yang perlu terus dilakukan KIE. Dilakukan preventif promotif supaya mereka nanti bisa memberikan asupan gizi yang baik kepada anaknya sehingga tidak stunting," tandasnya.

Meski memiliki taraf ekonomi mampu, bisa jadi cara menyusun pola makan masyarakat masih kurang. "Karena mungkin mereka sudah junk food, makanan-makanan cepat saji dan sebagainya yang akhirnya stunting," lanjutnya.

Kendati demikian Dinkes Sleman menargetkan penurunan angka stunting di 2024 ke angka dua persen. "Tahun depan kami harapkan akan turun seperti yang diinginkan Bupati turun ke dua persen," ungkapnya.

BACA JUGA: Skrining Stunting Sejak Dini, Posyandu Sleman Dibekali Antroprometri Kit

Pada tahun 2023 ini, upaya penurunan stunting juga diinisiasi Pemkab Sleman lewat bantuan Beras Fortifikasi Bagi Ibu Hamil.

Kepala Dinas P3AP2KB Sleman, Wildan Solichin menjelaskan sasaran pemberian bantuan ini adalah 3000 ibu hamil di Sleman. Masing-masing ibu hamil mendapatkan alokasi 30 kilogram setiap orang. "Tujuan acara ini tentu menginformasikan dan mensosialisasikan manfaat beras fortifikasi dalam upaya percepatan penurunan stunting," kata Wildan.

Ribuan bantuan beras ini akan disalurkan kepada ibu hamil di berbagai wilayah Kabupaten Sleman. Cakupannya meliputi 86 Kalurahan se-Kabupaten Sleman.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online