Pembuangan Sampah Liar di Perbatasan Masif, Bupati Bantul Lakukan Ini

Jumali
Jumali Rabu, 17 Januari 2024 12:37 WIB
Pembuangan Sampah Liar di Perbatasan Masif, Bupati Bantul Lakukan Ini

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat memimpin rapat, Rabu (16/1/2024) / Harian Jogja-Jumali

Harianjogja.com, BANTUL— Pemkab Bantul terus melakukan percepatan penanganan sampah, utamanya untuk wilayah sub-urban yang berbatasan dengan Kota Jogja.

Terbaru, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih meminta kepada semua padukuhan di 16 Kalurahan di Kapanewon Banguntapan, Sewon dan Kasihan untuk melakukan pendataan terhadap warganya yang belum melakukan pemilahan dan langganan pengambilan sampah rumah tangga.

"Saya minta semua didata. By name dan by address. Jika mereka sudah melakukan pengelolaan sampah rumah tangga dibuang kemana? sudahkah dipilah? atau mereka sudah langganan pengambilan sampah? Nah, yang belum langganan ini yang jadi sasaran," kata Halim, saat rapat koordinasi pengelolaan sampah pada daerah suburban di Parasamya Bantul, Rabu (17/1/2024).

"Terhadap rumah tangga yang tak punya pola pengelolaan sampah, nanti harus dipaksa mau langganan atau pilah sendiri? Kalau tidak mau langganan ya harus lakukan pilah sampah sendiri," lanjut Halim.

Menurut Halim, langkah pendataan ini penting untuk memastikan sampah rumah tangga di tiga kapanewon yang berbatasan dengan Kota Jogja tersebut terkelola dengan baik. Sehingga, tidak ada warga di Kapanewon Banguntapan, Sewon dan Kasihan membuang sampah sembarangan.

Sebab, dalam beberapa hari terakhir, Halim melihat beberapa waktu terakhir pembuangan sampah liar di sekitar ringroad makin masif.

"Dan menurut satpol pp yang melakukan penindakan sebagian besar pembuang sampah bukan warga Bantul. Meski demikian kita harus lakukan assesmen untuk wilayah sub-urban," ungkap Halim.

Selain itu, upaya pendataan sebagai percepatan serta evaluasi atas  Program Pembangunan Berbasis Masyarakat Padukuhan (PPBMP) di mana per padukuhan mendapatkan kucuran dana Rp 50 juta, yang peruntukannya diantaranya untuk penanganan sampah di wilayahnya. Selain untuk pendidikan anak usia dini, posyandu dan kesehatan.

BACA JUGA: Pembuang Sampah di Bantul Akan Dibawa ke Pengadilan

BACA JUGA: 6 Pembuang Sampah Liar Tertangkap Tangan, Satpol PP Bantul: Kebanyakan Warga Jogja

Lebih lanjut Halim berharap persoalan sampah, utamanya di kawasan sub-urban tidak hanya menjadi tanggungjawab Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul, akan tetapi jadi tanggungjawab bersama oleh pemerintah kalurahan dan padukuhan. Dimana, pemerintah kalurahan dan padukuhan harus mampu mendorong masyarakatnya memiliki budaya memilah dan mengolah sampah, utamanya sampah rumah tangga.

"Karena DLH saat ini juga harus selesaikan beberapa instalasi pengolahan sampah seperti Niten, Argodadi dan Modalan. Itu pun kapasitas pengelolaannya tidak sampai 100 ton perhari," kata Halim.

Sembari menunggu pembangunan tiga tempat pengelolaan sampah tersebut, masih kata Halim, pihaknya ingin mempercepat pengelolaan sampah yang dilakukan di Kapanewon Banguntapan, Sewon dan Kasihan. Sebab, di tiga kapanewon tersebut, selain penduduknya cukup besar, juga memiliki keterbatasan lahan.

"Kan tidak mungkin di tiga kapanewon ini kami minta buat jugangan? Untuk itu, kami beri waktu dua minggu kepada pak lurah dan dukuh untuk lakukan pendataan. Tujuannya nanti agar dana dari PPBMP bisa dibelanjakan dengan efektif," ucap Halim.

Sementara Ulu-ulu Tirtonirmolo, Kasihan, Nuning mengaku pihaknya sejatinya telah memiliki data terkait jumlah rumah tangga yang belum melakukan pemilahan dan berlangganan pengambilan sampah rumah tangga. "Kami sudah ada data. Dan akan kami sampaikan nantinya," ucap Nuning.

Kepala Bappeda Bantul Fenty Yusdayati mengungkapkan, berdasarkan data di DLH Bantul, keberadaan sampah di Kapanewon Banguntapan, Sewon dan Kasihan belum sepenuhnya tertangani secara optimal. Padahal, ada dana penanganan sampah melalui PPBMP.

Untuk Kapanewon Banguntapan ada 51,2 ton sampah setiap harinya. Ada 0,3 ton belum terkelola. Sementara Kapanewon Sewon ada Rp44,9 ton sampah setiap hari.

"Baru terkelola 42,2 ton. Sedangkan Kapanewon Kasihan ada 47 ton setiap hari. Baru terkelola 35,1 ton. Belum terkelola sekitar 11 ton. Artinya butuh penanganan untuk masalah ini," ucap Fenty.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online