Sawah di Sleman Terus Menyusut, Begini Strategi untuk Mempertahankan Produktivitas Pangan

David Kurniawan
David Kurniawan Minggu, 28 Januari 2024 15:27 WIB
Sawah di Sleman Terus Menyusut, Begini Strategi untuk Mempertahankan Produktivitas Pangan

Sebagian lahan di Bokoharjo Prambanan tercatat lahan produktif pertanian kini sudah beralih fungsi menjadi jalan alternatif Sleman Gunungkidul, Minggu (28/1/2024) Harian Jogja/Abdul Hamid Razak

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman menyadari makin menciutnya sawah akan berpengaruh terhadap produktivitas pangan. Upaya intensifikasi pertanian terus dilakukan agar produksinya tetap bisa dipertahankan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Siti Rochayah mengatakan, dalam kurun waktu 2019-2023 ada penyusutan sawah dari 18.137 hektare menjadi 15.984 hektare.

BACA JUGA: Pemkab Gelontorkan Rp19 Miliar untuk Modernisasi Pertanian di Sleman

“Ada pengurangan sekitar 2.153 hektare dalam kurun waktu empat tahun terakhir,” kata Siti, Minggu (28/1/2024).

Adanya penyusutan ini bisa berdampak terhadap produktivitas hasil pertanian di Sleman, khususnya untuk komoditas beras. Di sisi lain, sambung dia, upaya pembukaan lahan baru tidak mungkin dilakukan dikarenakan keterbatasan tanah di Bumi Sembada.

Meski demikian, Siti tidak menyerah agar produktivitas bisa tetap stabil. Salah satu upaya yang dilakukan dengan program intesifikasi pertanian mulai dari pemberian bantuan alat mesin pertanian, pupuk dan lain sebagainya.

Di sisi lain juga ada upaya peningkatan indeks tanam melalui pemilihan bibit unggul. Langkah ini sudah dimulai sejak 2023 dengan menanam padi yang setahun bisa panen empat kali di Kapanewon Prambanan.

Total lahan yang ditanam seluas 118 hektare dengan varietas padi jenis Pajajaran MD 70 dan Siliwangi. Rencananya di tahun ini akan diperluas hingga mencapai 1.414 hektare.

“Kalau dengan benih biasa hanya panen tiga kali, tapi denga varietas baru [seperti pajajaran MD 70 dan Siliwangi] bisa panen empat kali. Untuk perluasan tanam dilaksanakan di Kapanewon Ngemplak, Godean hingga Kalasan,” katanya.

Disinggung mengenai produktivitas, Siti mengakui padi yang bisa panen empat kali hanya bisa menghasilkan 5,7 ton gabah kering giling per hektarenya. Capaian ini masih lebih rendah dengan padi biasa (setahun panen tiga kali) karena produktivitasnya bisa mencapai 6,0 ton per hektare.

“Memang lebih rendah, tapi panennya empat kali sehingga produksinya bisa ditingkatkan karena intensitas panen yang lebih banyak,” katanya.

BACA JUGA: Sambut Jalan Alternatif Sleman-Gunungkidul, Gayamharjo Bangun Embung Senilai Rp1,5 Miliar

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Supramono mengatakan, terus berkomitmen untuk peningkatan produktivitas pertanian. Salah satu upaya dilakukan dengan memberikan bantuan alat-alat mesin pertanian (Alsintan)

“Kami komitmen untuk terus memberikan bantuan alsintan kepada petani di Sleman di setiap tahunnya,” kata.

Dia menjelaskan, untuk tahun ini sudah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp19 miliar guna membantu alsintas ke kelompok tani. Meski tidak menyebut secara rinci, ada banyak alat pertanian modern yang akan diberikan mulai dari hand tractor, treaser, mesin pemotong rumput, genset, mesin pompa, cultivator, kendaraan roda tiga dan lain sebagainya.

“Sudah masuk program dan kalau siap bisa segera diberikan ke kelompok tani yang masuk daftar penerima bantuan,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online