Cuaca Ekstrem Pangkas Hasil Tangkapan Nelayan Gunungkidul

David Kurniawan
David Kurniawan Minggu, 26 Juli 2026 14:57 WIB
Cuaca Ekstrem Pangkas Hasil Tangkapan Nelayan Gunungkidul

Ilustrasi nelayan. – Foto dibuat oleh AI/Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca ekstrem yang disertai embusan angin kencang dalam beberapa hari terakhir berdampak langsung terhadap aktivitas nelayan di pesisir selatan Gunungkidul. Selain membuat kondisi laut kurang bersahabat, cuaca tersebut juga menyebabkan hasil tangkapan ikan menurun drastis.

Nelayan mengaku produktivitas melaut sejak Kamis (23/7/2026) hingga Sabtu (25/7/2026) jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal. Meski sebagian besar tetap melaut, hasil yang diperoleh tidak mampu menyamai tangkapan pada hari-hari biasa.

Salah seorang nelayan di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Sumardi, mengatakan satu perahu motor tempel (PMT) biasanya mampu membawa pulang sekitar 50-70 kilogram ikan dalam sekali melaut.

Namun, selama cuaca ekstrem melanda kawasan pantai selatan, hasil tangkapan turun menjadi sekitar 20-30 kilogram setiap kali melaut.

"Meski tetap berani melaut, tapi hasil tangkapan turun drastis karena dipengaruhi cuaca buruk yang disebabkan embusan angin kencang," kata Sumardi, Minggu (26/7/2026).

Menurut dia, kondisi cuaca mulai membaik sejak Minggu pagi. Ia berharap perubahan cuaca tersebut tidak hanya membuat aktivitas melaut lebih aman, tetapi juga meningkatkan hasil tangkapan nelayan.

Saat ini, jenis ikan yang paling banyak diperoleh nelayan adalah tongkol.

"Saat sekarang hasil tangkapan yang banyak diperoleh ikan jenis tongkol. Mudah-mudahan dengan embusan angin yang mereda, maka tangkapan bisa makin melimpah," katanya.

Harga Tongkol Masih Menguntungkan

Di tengah penurunan hasil tangkapan, Sumardi mengaku harga ikan tongkol masih cukup baik di tingkat nelayan. Saat ini, tongkol dijual dengan harga Rp25.000-Rp30.000 per kilogram.

"Ini harga dari nelayan, kalau sudah dipasar, maka bisa lebih tinggi lagi," katanya.

Nelayan Diminta Utamakan Keselamatan

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 Pantai Baron, Marjono, mengatakan embusan angin kencang yang terjadi menjelang Agustus merupakan fenomena yang rutin berlangsung setiap tahun di perairan selatan Gunungkidul.

Menurut dia, kondisi tersebut umumnya mulai mereda ketika memasuki pertengahan September. "Ya kalau memasuki Agustus sering terjadi angin kencang di laut. Nanti mulai mereda saat pertengahan September," kata Marjono.

Meski merupakan fenomena musiman, ia tetap mengingatkan para nelayan agar tidak mengabaikan faktor keselamatan saat melaut. Nelayan diminta selalu memperhatikan kondisi cuaca, memanfaatkan informasi teknologi mengenai situasi laut, serta menggunakan alat keselamatan.

"Dengan memanfaatkan teknologi, nelayan bisa mengetahui kondisi di laut. Tapi, saat menangkap ikan, kami terus menyarankan memakai pelampung demi keselamatan serta menghindarkan dari hal-hal tak diinginkan," kata Marjono.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online