Disbud Bantul Bongkar Sejarah Kapitan Tan Djin Sing hingga Madukismo
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.
Danang Maharsa./Istimewa
SLEMAN—Merdeka belajar adalah kebijakan pendidikan yang memberi kebebasan (kemerdekaan) kepada guru dan murid untuk berpikir, bereksplorasi, dan berkreasi dalam kerangka pendidikan. Jabaran konsep merdeka belajar dituangkan dalam kurikulum merdeka.
“Bangsa Indonesia baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tema peringatan pada 2024 adalah, Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar. Maka, penting bagi kita untuk memahami apa dan bagaimana merdeka belajar,” kata Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Rabu (1/5/2024).
Dalam kurikulum merdeka, pembelajaran intrakurikuler dilaksanakan secara bervariasi. Konten pembelajaran dioptimalkan sehingga murid memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Target pembelajaran yang dulu dibuat per minggu, sekarang dibuat per tahun.
Dengan demikian, kata Danang, murid tidak dijejali dengan materi yang memberatkan. “Metode pembelajaran diupayakan lebih variatif dan bersifat menantang serta menyenangkan. Isi pelajaran dibuat lebih membumi, yaitu memiliki kaitan dengan kehidupan seharihari. Lebih khusus lagi, materi dikaitkan dengan kehidupan riil di lingkungan setempat,” kata Danang.
Dengan konsep seperti itu, siswa banyak diminta mengerjakan proyek. Mereka diminta mengerjakan tugas secara kelompok. Penugasan dalam bentuk proyek merupakan bagian dari upaya membangun profil Pelajar Pancasila.
“Melalui kerja kelompok para murid dibimbing mempraktikkan nilai-nilai Pancasila secara konkret. Mereka berlatih menerapkan toleransi, bergotong-royong, bermusyawarah, dan bersikap adil,” katanya.
Sebagian orang tua mengeluh karena sekarang anak mereka banyak mendapat tugas. Lebih dari itu, orang tua tidak bisa membuatkan tugas anaknya. Sekedar membantu menjawab pertanyaan pun kesulitan.
Keluhan seperti itu tidak perlu ada jika kita memahami merdeka belajar sebagaimana dikemukakan di atas. Intinya, dalam penugasan para siswa diminta melakukan eksplorasi. Mereka diminta melakukan penjelajahan pengetahun. Jadi misalnya jawaban mereka keliru, tentu tidak masalah. Yang penting mereka sudah berusaha.
“Selanjutnya guru yang akan menunjukkan jawaban yang benar, berikut keterangan detailnya. Dengan cara seperti itu maka siswa menjadi punya bahan untuk bertanya dan berdiskusi dengan guru. Dengan cara seperti itu maka materi pelajaran bisa lebih lekat dalam ingatan siswa,” katanya.
BACA JUGA: Soal Kurikulum Merdeka, Nadiem: Kreativitas dan Potensi Siswa Terwadahi
Dengan kata lain, metode pembelajaran dalam merdeka belajar tidak lagi hanya ceramah. Tidak boleh lagi guru menjadi satu-satunya sumber belajar. Tidak boleh lagi guru mendominasi seluruh aktivitas pembelajaran.
Murid harus didorong dan difasilitasi untuk aktif mengeksplorasi, aktif berkreasi, dan aktif berdiskusi. Orang tua tidak perlu khawatir kalau pengerjaan tugas sekolah anak-anaknya belum benar.
Tidak perlu risau kalau tidak mampu membantu menjawab. Biarkan saja mereka berusaha sendiri. Kalau mereka melakukan kerja kelompok, tidak perlu orang tua mencampuri diskusi mereka. Biarkan mereka bereksplorasi.
Tetapi jika anak-anak bertanya atau ingin mengajak bicara maka orang tua wajib menanggapi dengan sepenuh hati. Sekali lagi, wajib menanggapi sepenuh hati. Ini sangat penting. Momen terjadinya komunikasi antara anak dengan orang tua harus terus dijaga dan dikembangkan.
Apa pun yang ditanyakan atau diobrolkan anak, wajib direspons. Jangan sambil main ponsel. Di sinilah kesempatan orang tua mendidik anaknya. Di sini pula peran orang tua dalam membantu pendidikan anak, yaitu dalam menjaga kestabilan jiwanya. Orang tua harus bisa selalu ada saat anak membutuhkan.
“Jadi, dukungan orang tua kepada anak dalam merdeka belajar bukan memberi materi pelajaran. Bukan menggantikan peran guru. Peran orang tua adalah menjadi tempat mengadu, menjadi sandaran, dan menjadi andalan bagi anak,” kata Danang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.
Budi Waljiman menyerahkan bantuan gamelan Suara Madhura untuk SMA Bosa Jogja guna memperkuat pelestarian budaya Jawa di sekolah.
Prabowo tegas minta BPKP tetap periksa pejabat yang diduga menyimpang tanpa melihat kedekatan dengan dirinya.
Polisi selidiki keributan di Tegalrejo Jogja yang viral di media sosial. Diduga terjadi penganiayaan usai cekcok di jalan.
Polri menegaskan kesiapan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan diresmikan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto.
Forum Anak Daerah (FAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menggelar hari pertama dari rangkaian kegiatan "Temu Hati #17" di Ruang Nyi Ageng Serang