Malioboro Run, Penumpang Kereta Stasiun Tugu Yogyakarta Diminta Datang Lebih Awal
Malioboro Run 4 Oktober berpotensi memicu kepadatan lalu lintas. KAI mengimbau penumpang Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan datang lebih awal.
Miniatur Sumbu Filosofi di selatan Tugu Golong Gilig atau Tugu Pal Putih, Jogja, Selasa (21/1/2023)./Harian Jogja-Budi Cahyana
Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY mengupayakan penetapan warisan dunia Sumbu Filosofi Jogja dalam sidang World Heritage Center oleh UNESCO mampu mengundang wisatawan dalam negeri dan luar negeri, sehingga menggerakkan perekonomian daerah.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Beny Suharsono, mengatakan Pemda DIY telah melakukan beberapa langkah strategis, salah dari dikeluarkannya Keputusan Gubernur DIY Nomor 360/KEP/2023 tentang Sekretariat Bersama Pengelolaan Warisan Dunia Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Keputusan Gubernur ini, digunakan sebagai fondasi untuk memastikan fungsi komunikasi, penyiapan kebijakan dan strategi pengelolaan, koordinasi-integrasi perencanaan, operasional, monitoring, dan evaluasi, serta mendukung fungsi pelaporan.
"Kalau sudah ditetapkan sebagai warisan dunia, dunia tahu bahwa di Yogyakarta ada warisan dunia namanya sumbu filosofi harapannya bisa menarik wisatawan internasional. Kemudian, ekonomi bergulir, turunan pariwisata dari objek sendiri minimal 10 turunan," kata Beny, Rabu (29/5/2024).
Ia mengatakan saat ada kegiatan di sumbu filosofi di Jogja dan Bantul, ada 10 usaha turunan yang terlibat, sehingga menggerakkan perekonomian daerah.
Sebanyak 10 usaha turunan yang dimaksud, di antaranya kuliner di kawasan sumbu filosofi berkembang pesat, tukang becak, okupasi hotel meningkat, laundry, pemandu wisata dan transportasi. Bahkan, pentas-pentas tradisional juga muncul.
"Harapannya 'value' semua komponen meningkat sehingga mampu meningkatkan nilai tambah," katanya.
Menurut Beny, semua fungsi itu menjadi urgen karena atribut Warisan Dunia Sumbu Filosofi Yogyakarta sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu adanya tekanan pembangunan, tekanan lingkungan, kesiapsiagaan bencana, isu pariwisata berkelanjutan, dan eksistensi sosial-budaya masyarakat sekitar.
"Untuk itu, kami merasa tepat memilih Bali sebagai tujuan studi banding karena Subak telah lebih dahulu ditetapkan sebagai warisan budaya dunia pada 2012 silam. Bahkan hingga saat ini, masih konsisten mempertahankannya. Kami berharap dengan kunjungan ke Bali, dapat menjadi sarana untuk diskusi terkait pelestarian cagar budaya dan objek pemajuan kebudayaan. Sehingga, bisa kami adaptasi dan diimplementasikan pada pengelolaan Sumbu Filosofi Jogja," katanya.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Abi Kusno mengatakan tantangan pengelolaan subak, yakni konversi lahan pertanian, dampak revolusi hijau, risiko bencana hidrometeorologi, regenerasi petani, lemahnya kelembagaan subak.
Selain itu, kebutuhan finansial tinggi dalam penyelenggaraan upacara, dan pemberlakuan pajak dinilai memberatkan petani, serta ketiadaan badan/dewan pengelola.
"Kami mengupayakan adanya program kolaboratif antara petani pengelola subak hingga pemerintah kabupaten dan provinsi untuk keberlangsungan subak di Bali," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Malioboro Run 4 Oktober berpotensi memicu kepadatan lalu lintas. KAI mengimbau penumpang Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan datang lebih awal.
Sebanyak 580 atlet dari Jawa Tengah dan DIY mengikuti kejuaraan pencak silat di Temanggung untuk pembinaan dan penjaringan bibit unggul.
DPRD Kota Jogja mendorong optimalisasi lahan perkotaan, pekarangan, dan aset pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan lokal.
Event di Jogja dinilai mampu mendorong perputaran ekonomi kreatif dengan membuka peluang bagi UMKM, pekerja seni, dan pelaku usaha kreatif.
Pernikahan di Ngaglik cenderung menurun. Pendidikan dan kesiapan ekonomi menjadi pertimbangan calon pengantin sebelum menikah.
Pasar tenaga kerja AS hanya bertambah 29.000 pekerjaan pada September 2026, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%.