Persiapan Paskah, Gereja Kotabaru Disterilisasi
Jelang hari raya Paskah Gereja St Antonius Padua Kotabaru disterilisasi untuk mencegah keberadaan benda-benda berbahaya selama pelaksanaan ibadah paskah
Foto ilustrasi sekolah - StockCake
Harianjogja.com, UMBULHARJO—Sistem zonasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang resmi diterapkan sejak 2018 lalu diklaim mampu menciptakan pemerataan pendidikan di DIY.
Kabag Perencanaan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) DIY Suci Rohmadi menuturkan sistem zonasi ini praktis memeratakan input peserta didik SMA di DIY. Suci menyebut, sebelum zonasi diterapkan ada beberapa sekolah yang dicap sebagai sekolah favorit.
BACA JUGA: Sejumlah SMA Negeri di DIY Tak Penuhi Target PPDB 2024, Dikpora DIY: Kurangi Rombel!
Sekolah-sekolah ini lantas menjadi incaran para orang tua. Dia mengatakan, setidaknya ada 3 sekolah di Kota Jogja yang menjadi rebutan. Di antaranya adalah SMAN 3 Jogja, SMAN 1 Jogja, dan SMAN 8 Jogja.
"Saya contohkan SMAN 10 bukan berarti akan kalah dengan SMAN 7, tidak. Sekarang bagus, inputnya jadi merata. Tidak menumpuk di satu atau tiga sekolah," ujar Suci.
Pemerataan pendidikan semakin terasa saat menilik jumlah lulusan SMA yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN). Suci mengatakan, lulusan SMA yang masuk PTN tak didominasi oleh sati dua sekolah.
Nilai Tertinggi
Nilai tertinggi pada ujian tertulis berbasis komputer (UTBK) atau ujian masuk PTN bukan disabet oleh SMAN 3 Jogja, tapi justru SMAN 8 Jogja.
"SMAN 8 Jogja, SMAN 1 Jogja, baru SMAN 3 Jogja, dan SMAN 6 Jogja sudah di urutan ke-4. SMAN 7 juga bagus. Dulu orang bilang SMAN 7 akan kalah dengan SMAN 5. Sekarang tidak, secara nilai yang diterima PTN dari SMAN 7 banyak. Paling banyak SMAN 8," terangnya.
Dia mengatakan, beberapa sekolah penyangga juga turut merasakan imbas dari pemerataan pendidikan. Misalnya saja SMAN 1 Banguntapan, SMAN 1 Kalasan, SMAN Depok 1, hingga SMAN 1 Mlati.
BACA JUGA: PPDB SMA/SMK Kelar, Kuota Siswa di Sleman Terpenuhi, Nilai SMA 1 Godean Tertinggi
Suci menuturkan pihaknya tak akan menghilangkan stigma sekolah favorit yang sudah berkembang di masyarakat. Dengan adanya sistem zonasi ini justru Dinas Dikpora justru ingin menciptakan sekolah-sekolah favorit lainnya.
"Dan terbukti sekarang kalau lomba-lomba itu tidak mendominasi satu atau dua sekolah, inilah yang kita suka," tuturnya.
Menurut Suci, sistem zonasi diiringi dengan pemerataan guru dan sarana prasarana. "Kalau pendidikannya mau bagus kan sarprasnya juga harus bagus. Itu harus dipenuhi. Ke depan arahnya ke situ," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jelang hari raya Paskah Gereja St Antonius Padua Kotabaru disterilisasi untuk mencegah keberadaan benda-benda berbahaya selama pelaksanaan ibadah paskah
KPK memeriksa pejabat Bea Cukai dan pengusaha terkait dugaan aliran uang korupsi serta pengembangan kasus suap impor barang di Kemenkeu.
SIM keliling Sleman 19 Mei 2026 hadir di Mitra 10, termasuk layanan malam di Sleman City Hall untuk perpanjangan SIM A dan C.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dorong skrining kesehatan mental siswa usai kasus klitih yang menewaskan pelajar di depan SMAN 3 Jogja.
Jadwal SIM keliling Jogja hari ini hadir di Alun-Alun Kidul dan layanan drive thru di Mal Pelayanan Publik Kota Jogja.
KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat 246 ribu penumpang KAJJ selama libur Kenaikan Yesus Kristus, naik 189 persen dari pekan sebelumnya.