Tol Jogja-Solo Ruas Trihanggo Ditargetkan Fungsional Saat Libur Nataru
Progres Tol Jogja-Solo Trihanggo-Junction Sleman mencapai 90% dan ditargetkan fungsional saat libur Nataru 2026/2027.
Aksi menyalakan lilin di sekitar pohon bodhi yang dilakukan mahasiswa dan dosen UGM pada Senin (26/8/2024)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Ratusan massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan sejumlah dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar aksi menyalakan lilin di bawah pohon bodhi yang terletak di halaman Balairung UGM.
Koordinator Aksi, Monica Ratna Theodora mengungkapkan aksi ini digelar sebagai respon atas undang-undang yang diacak-acak mendekati Pilkada 2024.
"Aksi kami kali ini juga tidak terlepas dari UU pemilu yang mau diacak-acak dan mendekati Pilkada," ujarnya, Senin (26/8/2024) malam.
Pendaftaran calon kepala daerah yang harusnya melalui proses-proses panjang, dinilai tidak bisa langsung ditempuh dengan jalan pintas melalui orang-orang yang tidak memiliki kredibilitas yang bagus. Monica juga mengatakan bila demokrasi Indonesia saat ini seperti dirampas. "Demokrasi kita juga serasa dirampas," katanya.
BACA JUGA: Dampak Gempa Gunungkidul, Satu Rumah di Karanganyar Jawa Tengah Rusak
Aksi penyalaan lilin di bawah pohon bodhi dilatar belakangi dari sejarah Siddhattha Gotama yang melakukan pertapaan di bawah pohon bodhi dan mendapatkan pencerahan yang sempurna. Berkaca dari sana, aksi ini berharap bisa menjadi pencerahan atau pengetahuan.
"Lilin sebagai penerangan kita, karena itu sebagai arti untuk penerangan menerangi dari pohon ilmu pengetahuan yang sudah lama gelap. Kita terangi dengan cahaya lilin untuk menerangi semangat kita untuk aksi," katanya.
Salah satu dosen yang mengikuti aksi, Ricardo Simarmata mengatakan jika dosen dan mahasiswa disatukan atas penggunaan akal sehat. Karena kesamaan pikiran atas situasi terkini itu lah para dosen dan mahasiswa melebur jadi satu untuk melakukan aksi.
"Ini dosen dan mahasiswa itu disatukan oleh penggunaan akal yang sehat ya. Jadi dosen dan mahasiswa punya instrumen yang sama akal yang sehat dan menurut takaran akal yang sehat sama-sama enggak beres ini [demokrasi], sudah keterlaluan," kata Dosen Fakultas Hukum UGM tersebut.
Ricardo merasa perlu mendukung aksi mahasiswa agar mereka tidak merasa takut dan khawatir. Pekan lalu isu yang didorong ialah mendesak untuk pembatalan revisi Undang-undang Pilkada yang sejauh ini cukup berhasil.
"Sejak hari Kamis kemarin itu kalau Fakultas Hukum dosen secara individual beberapa kemudian pimpinan fakultas itu sejalan. Sejalan untuk mendukung [aksi], walaupun di Fakultas Hukum tidak ada seperti di Fisipol ya surat edaran dekan bahwa mahasiswa bisa meninggalkan kuliah, tapi praktiknya di kita enggak masalah di Fakultas Hukum [mahasiswa turun aksi]," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Progres Tol Jogja-Solo Trihanggo-Junction Sleman mencapai 90% dan ditargetkan fungsional saat libur Nataru 2026/2027.
Siswi Sekolah Rakyat Sragen meninggal setelah demam, muntah, dan kejang. Ia sempat menjalani pemeriksaan sebelum dirujuk ke rumah sakit.
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau disebut tak mengarah ke DIY. Sultan dan Dinkes DIY mengimbau masyarakat tetap memakai masker.
Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony di Bali mempertemukan delegasi 70 negara untuk menyerukan perdamaian di tengah disrupsi AI.
DPRD Kota Jogja meminta Pemkot mengevaluasi portal di sirip Malioboro agar akses pejalan kaki dan penyandang disabilitas tidak terganggu.
KAI menambah rangkaian dan perjalanan kereta pada 7 September 2026. Cek rute kereta tambahan dari Jakarta, Jogja, hingga Surabaya.