UGM Temukan Residu PVC di Lokasi Api Misterius Seyegan
UGM menemukan residu PVC di lokasi fenomena api Seyegan, Sleman. Tim peneliti menyimpulkan sumber api bukan berasal dari gas alam dan kini fokus mencari pemanti
Aksi menyalakan lilin di sekitar pohon bodhi yang dilakukan mahasiswa dan dosen UGM pada Senin (26/8/2024)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Ratusan massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan sejumlah dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar aksi menyalakan lilin di bawah pohon bodhi yang terletak di halaman Balairung UGM.
Koordinator Aksi, Monica Ratna Theodora mengungkapkan aksi ini digelar sebagai respon atas undang-undang yang diacak-acak mendekati Pilkada 2024.
"Aksi kami kali ini juga tidak terlepas dari UU pemilu yang mau diacak-acak dan mendekati Pilkada," ujarnya, Senin (26/8/2024) malam.
Pendaftaran calon kepala daerah yang harusnya melalui proses-proses panjang, dinilai tidak bisa langsung ditempuh dengan jalan pintas melalui orang-orang yang tidak memiliki kredibilitas yang bagus. Monica juga mengatakan bila demokrasi Indonesia saat ini seperti dirampas. "Demokrasi kita juga serasa dirampas," katanya.
BACA JUGA: Dampak Gempa Gunungkidul, Satu Rumah di Karanganyar Jawa Tengah Rusak
Aksi penyalaan lilin di bawah pohon bodhi dilatar belakangi dari sejarah Siddhattha Gotama yang melakukan pertapaan di bawah pohon bodhi dan mendapatkan pencerahan yang sempurna. Berkaca dari sana, aksi ini berharap bisa menjadi pencerahan atau pengetahuan.
"Lilin sebagai penerangan kita, karena itu sebagai arti untuk penerangan menerangi dari pohon ilmu pengetahuan yang sudah lama gelap. Kita terangi dengan cahaya lilin untuk menerangi semangat kita untuk aksi," katanya.
Salah satu dosen yang mengikuti aksi, Ricardo Simarmata mengatakan jika dosen dan mahasiswa disatukan atas penggunaan akal sehat. Karena kesamaan pikiran atas situasi terkini itu lah para dosen dan mahasiswa melebur jadi satu untuk melakukan aksi.
"Ini dosen dan mahasiswa itu disatukan oleh penggunaan akal yang sehat ya. Jadi dosen dan mahasiswa punya instrumen yang sama akal yang sehat dan menurut takaran akal yang sehat sama-sama enggak beres ini [demokrasi], sudah keterlaluan," kata Dosen Fakultas Hukum UGM tersebut.
Ricardo merasa perlu mendukung aksi mahasiswa agar mereka tidak merasa takut dan khawatir. Pekan lalu isu yang didorong ialah mendesak untuk pembatalan revisi Undang-undang Pilkada yang sejauh ini cukup berhasil.
"Sejak hari Kamis kemarin itu kalau Fakultas Hukum dosen secara individual beberapa kemudian pimpinan fakultas itu sejalan. Sejalan untuk mendukung [aksi], walaupun di Fakultas Hukum tidak ada seperti di Fisipol ya surat edaran dekan bahwa mahasiswa bisa meninggalkan kuliah, tapi praktiknya di kita enggak masalah di Fakultas Hukum [mahasiswa turun aksi]," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UGM menemukan residu PVC di lokasi fenomena api Seyegan, Sleman. Tim peneliti menyimpulkan sumber api bukan berasal dari gas alam dan kini fokus mencari pemanti
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Pertamina mempercepat distribusi BBM subsidi di Madura untuk mengurai antrean Pertalite dan Solar di sejumlah SPBU di empat kabupaten.
Australia memperketat larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dengan menaikkan denda hingga Rp1,1 triliun dan memperluas pengawasan.