PCA Ngampilan Gelar Milad Aisyiyah ke-109, Ini Dakwah Kemanusiaannya
Milad Aisyiyah ke-109 di Jogja dihadiri 500 peserta. Tekankan dakwah kemanusiaan, UMKM, dan penguatan sosial perempuan.
Closing ceremony ArtJog 2024 di Jogja National Museum, Minggu (1/9/2024)./ Harian Jogja - Alfi Annisa Karin
JOGJA—Perhelatan pameran seni di Yogyakarta, ArtJog, resmi ditutup, Minggu (1/9). Penutupan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukkan. Ribuan orang tercatat hadir setiap hari ke ArtJog sejak dibuka pada 28 Juli 2024.
ArtJog 2024 mengusung tema Motif: Ramalan. Total ada 48 seniman individu dan kelompok yang turut serta membawa karya dan ikut merespons tema tahun ini. Selain itu, ada juga karya dari 36 anak dan remaja dalam program ArtJog Kids.
Acara penutupan turut dimeriahkan pula oleh penampilan Egha De Latoya dan Fanny Soegi, grup musik jazz NonaRia, dan ajakan nostalgia Dua Sejoli Selekta di panggung performa.
Pada momentum closing ceremony ArtJog 2024 kali ini, Founder ArtJog, Heri Pemad, mengaku berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam suksesnya ArtJog 2024.
Ia bisa merasakan semangat dan antusiasme baik dari para seniman yang terlibat maupun dari para pencinta ArtJog. Tak heran, dalam setiap hari ada sekitar 1.500 pengunjung setiap hari yang datang ke ArtJog. Itu tandanya, sejak awal dibuka hingga ditutup, ArtJog telah dihadiri lebih dari 90.000 pengunjung.

Selain kunjungan individu, kunjungan kelompok dari berbagai komunitas, institusi, dan instansi, termasuk lembaga pendidikan, turut berkontribusi dalam meramaikan penyelenggaraan ArtJog tahun ini. Animo kunjungan mencakup sekolah-sekolah, mulai dari tingkatan yang paling muda yaitu PAUD sampai mahasiswa S2 dan S3. Meningkatnya kesadaran publik untuk melihat ArtJog ini, menurut Heri, bisa menginspirasi dan memotivasi munculnya kreativitas hingga pemikiran kritis masyarakat.
Heri menambahkan pengunjung dapat menyelami ragam eksplorasi dan praktik kesenian yang ditawarkan oleh para seniman. Salah satunya adalah seniman asal Bantul, Subandi Giyanto. Karya Subandi yang dibawa berjudul Pranata Mangsa: Mangsa 1-12. Heri menambahkan sebagai seorang seniman yang akrab dengan dunia seni dan budaya sejak kecil, Subandi menampilkan 12 lukisan dengan figur wayang yang menggambarkan sistem kalender pranata mangsa. "Sebuah metode penanggalan Jawa untuk menghitung periode musim berdasarkan wuku atau penentuan hari baik dan buruk dan karakternya masing-masing," kata Heri, Minggu.
Selain itu, ada juga karya milik Agnes Hansella asal Jakarta. Seniman ini berupaya untuk menunjukkan bagaimana lirik-lirik musik yang terekam dalam pita kaset bekerja layaknya sebuah “Ramalan”. Pita kaset menghubungkan kompilasi lirik lagu dari masa lalu. Melalui karya yang diberi tajuk A Message to You, secara semiotik Agnes menggunakan teknik makrame dengan pita-pita kaset untuk mengikat suara dan bunyi.
Lain halnya dengan Asmoadji yang juga asal Jakarta. Asmoadji mencoba mempresentasikan fenomena pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan lahan yang tidak seimbang di kota besar melalui karyanya Kota Baru. Dengan bahan-bahan berupa seng bekas, potongan kayu lapis, boneka, objek sehari-hari, dan stiker, karya Asmoadji mencerminkan pengamatannya terhadap lingkungan perkampungan di tengah keberadaan gedung-gedung tinggi di sekitar tempat tinggalnya.
Heri menambahkan sebagai ruang pertemuan antara seni dengan publiknya, ArtJog tidak hanya menawarkan rangkaian program-program pendukung yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Namun, juga memberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan karya. Misalnya, Koh Kai Ting & Aw Boon Xin, seniman asal Singapura dan Malaysia yang mempresentasikan permainan kata palindrom, "kutu saya" dan "kutu Anda", serta hubungan kutu dengan kehidupan manusia.

"Karya Kutuku and Kutumu ini ditampilkan bersama instalasi seprai dan pakaian yang digantung, sekaligus token NFC yang dapat dipindai untuk memunculkan gambar kutu dalam augmented reality yang interaktif," ujar Heri.
Beri Apresiasi
Kurator ArtJog 2024, Hendro Wiyanto, mengapresiasi gelaran ArtJog kali ini. Ia juga membocorkan konsep ArtJog yang akan digelar pada 2025 mendatang. Hendro menyebut tahun depan ArtJog masih akan mengusung tema Motif: Amalan. Ini akan menjadi bagian ketiga dari rangkaian tema Motif yang telah dihelat pada gelaran ArtJog. Hendro mengatakan selama lebih dari dua bulan penyelenggaraannya, ArtJog 2024 telah menciptakan momentum untuk mendekatkan seni ke masyarakat, sekaligus menjadi ruang dialog di antara keduanya melalui beragam program dan aktivitas. ArtJog 2024 juga telah menarik perhatian dan dikunjungi oleh berbagai lini masyarakat, mulai dari seniman, budayawan, akademisi, selebritas, dan pencinta seni, baik dari berbagai penjuru Indonesia maupun mancanegara.
"Keberhasilan ArtJog 2024 tercapai berkat adanya dedikasi dan komitmen bersama dari para seniman, pekerja kreatif yang terlibat, sponsor, dan mitra yang telah mendukung seluruh kegiatan dalam pelaksanaan ArtJog 2024. Sampai juma di ArtJog 2025. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Milad Aisyiyah ke-109 di Jogja dihadiri 500 peserta. Tekankan dakwah kemanusiaan, UMKM, dan penguatan sosial perempuan.
Juventus terancam gagal lolos ke Liga Champions usai kalah 0-2 dari Fiorentina dan turun ke posisi keenam klasemen Serie A.
Apple dikabarkan akan mengubah Siri menjadi AI percakapan setara ChatGPT dan Gemini melalui pembaruan iOS 27 pada akhir 2026.
Libur panjang Mei 2026 membawa 35 ribu wisatawan ke Bantul dengan PAD wisata mencapai Rp506 juta, didominasi Pantai Parangtritis.
Tiket konser The Weeknd di Jakarta pada September 2026 resmi sold out dalam kurang dari tiga jam usai diserbu puluhan ribu penggemar.
Seorang balita peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) datang dalam kondisi darurat pada tengah malam dan langsung mendapatkan penanganan cepat