PAW Lurah Sleman Tunggu Perbup, Ini Daftar 5 Kalurahan dan Alasannya
Pemkab Sleman siapkan PAW lurah di 5 kalurahan. Raperbup segera disahkan sebagai dasar hukum pelaksanaan Pilur antar waktu 2026.
Foto ilustrasi hama. /Dok-Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) terus berupaya mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada tanaman mete. Salah satu upaya dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada tanaman mete di Bulak Dulgunung, Kapanewon Karangmojo yang memiliki luasan 3 – 5 hektar (ha). Gerakan ini berhasil mengurangi 60% OPT.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura DPP Gunungkidul, Aning Sri Mintarsih mengatakan Kelompok Tani (Poktan) Binangun merupakan kelompok yang mengelola tanaman mete di Bulak Dulgunung, Karangmojo.
Meski begitu, mereka tidak sendiri dalam mengendalikan OPT. Gerakan pengendalian itu dilaksanakan dengan menggandeng Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Karangmojo, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Bhabinkantibmas, Babinsa, dan anggota kelompok tani.
Gerakan pengendalian itu penting dilakukan untuk melindungi tanaman dari kerusakan dan memastikan hasil panen yang optimal. Hal ini dilandasi fakta bahwa tanaman mete merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Gunungkidul yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, dan Karangmojo menjadi salah satu sentra produksi mete.
Melalui gerakan tersebut, anggota Poktan juga mendapatkan pengetahuan mengenai teknik pengendalian OPT, identifikasi hama dan penyakit, serta penggunaan pestisida yang tepat dan ramah lingkungan.
Sekretaris DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan ada beberapa metode pengendalian yang diajarkan ke anggota Poktan Binangun, mulai dari pengendalian secara budidaya seperti pemangkasan dan pengaturan jarak tanam hingga pengendalian mekanis dan biologis.
Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian adalah penggunaan biopestisida dan pelepasan musuh alami untuk mengendalikan hama secara alami, sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan kimia.
Selain itu, ada juga pemasangan perangkap hama dan pengumpulan serta pemusnahan bagian tanaman yang terinfeksi. Pemusnahan ini dilakukan serentak di seluruh wilayah target.
BACA JUGA : Musim Hujan, Tanaman Kelompok Tani di Kota Jogja Busuk dan Diserang Hama
“Hasilnya, dalam dua bulan terakhir, populasi hama penggerek bunga dan penyakit antraknosa dilaporkan menurun drastis, hingga mencapai 60% dari kondisi sebelumnya,” kata Raharjo dihubungi, Senin, (2/9).
DPP Gunungkidul, kata dia berencana untuk melanjutkan program ini dengan meningkatkan kapasitas petani melalui penyuluhan berkelanjutan dan dukungan sarana prasarana, guna memastikan tanaman mete di Gunungkidul tetap produktif dan berkualitas tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Sleman siapkan PAW lurah di 5 kalurahan. Raperbup segera disahkan sebagai dasar hukum pelaksanaan Pilur antar waktu 2026.
Kasus Little Aresha memasuki babak baru setelah Polresta Jogja menambah pasal UU Sisdiknas dan memeriksa 152 saksi.
Sekolah Rakyat Prabowo resmi beroperasi di 166 lokasi. Sebanyak 15.945 siswa menikmati pendidikan gratis berbasis asrama.
Program MBG menyerap 1,28 juta pekerja dan melibatkan ribuan UMKM serta koperasi dalam rantai pasok pangan nasional.
Pemerintah menambah kuota Magang Nasional 2026 menjadi 150 ribu peserta. Batch I ditargetkan mulai berjalan Juli 2026.
Peminat SNBT UGM 2026 mencapai 84.637 peserta. Sekolah Vokasi, Fakultas Teknik, dan Fisipol jadi fakultas paling diminati.