Disbud Bantul Bongkar Sejarah Kapitan Tan Djin Sing hingga Madukismo
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.
Sejumlah koleksi yang ditampilkan dalam pameran AMEX dengan tema "Meet The Myth: From Mythology to Art and Sustainability", Selasa (26/11/2024). Dok. Ist
JOGJA–Museum Sonobudoyo kembali menggelar pameran tahunan Annual Museum Exhibition (AMEX) dengan tema Meet The Myth: From Mythology to Art and Sustainability. Pameran yang berlangsung sejak 6 November hingga 31 Desember 2024 ini mengajak pengunjung untuk menyelami dunia mitologi yang kaya dengan simbolisme dan nilai-nilai luhur.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menyampaikan bahwa tema Meet The Myth dipilih untuk menyoroti relevansi mitos dalam kehidupan modern.
"Mitos bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi juga mengandung nilai-nilai yang dapat menginspirasi kami dalam menjaga kelestarian alam," ujar Dian, Selasa (26/11/2024).
Pameran ini tidak hanya menampilkan koleksi artefak mitologi, tetapi juga menyajikan interpretasi kontemporer dari berbagai figur mitologi.
Pengunjung dapat melihat bagaimana mitos diwujudkan dalam berbagai bentuk seni, seperti lukisan, patung, hingga instalasi multimedia.
Kepala Seksi Bimbingan Informasi dan Preparasi Museum Sonobudoyo, Wismarini menjelaskan bahwa persiapan pameran ini memakan waktu cukup lama, sekitar satu hingga dua tahun. "Kami ingin menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung, terutama generasi muda," ungkapnya.
Salah satu daya tarik utama pameran ini adalah penggunaan teknologi video mapping yang menghadirkan visualisasi spektakuler dari kisah-kisah mitologi. Selain itu, pengunjung juga diajak berinteraksi dengan berbagai instalasi, seperti menggambar imajinasi mereka tentang makhluk mitologi.
BACA JUGA: Rutin Dibersihkan, Sampah Liar di Pembatas Jalan Depan Pasar Demangan Tetap Muncul
Pameran Meet The Myth menampilkan lebih dari 88 koleksi, mulai dari artefak kuno hingga karya seni kontemporer. Pengunjung dapat menemukan berbagai figur mitologi, seperti garuda, naga, dan makhluk-makhluk lainnya yang memiliki makna simbolis dalam budaya Jawa.
Ruangan pameran dibagi menjadi sembilan tempat yang menampilkan berbagai koleksi berbeda di setiap ruangannya. Ruang 1, 2 dan 3 bernama garuda dari seni dan ornamentasi, di ruang 3 juga terdapat garudea yakni kisah mitologi garuda dan naga. Pada ruang 5 dan 6 terdapat fitur mitologi zoomorfik dan antropomorfik.
"Sementara ruang 7 personifikasi dan alegori berupa kura-kura besar, ruang 8 mitos dan konservasi alam, ruang 9 mitologi menjelajah fantasi berupa imajinasi," jelasnya.
Pameran Meet The Myth dibuka untuk umum setiap hari, kecuali hari Senin, mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB. Tiket masuk seharga Rp10.000 sudah termasuk akses ke seluruh area pameran. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.
Polri menegaskan kesiapan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan diresmikan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto.
Forum Anak Daerah (FAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menggelar hari pertama dari rangkaian kegiatan "Temu Hati #17" di Ruang Nyi Ageng Serang
Dinkes Sleman ungkap keracunan Toragan akibat Salmonella dari makanan hajatan, seluruh pasien kini telah pulih.
Prabowo resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, soroti keadilan sosial dan nilai Pancasila dalam kasus buruh Indonesia.
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.