Parkir Bus di Eks Menara Kopi Kotabaru Naik Drastis Saat Libur Panjang
Aktivitas parkir bus wisata di Eks Menara Kopi Kotabaru Jogja melonjak saat libur panjang, bisa tembus lebih dari 35 bus per hari.
Monyet Ekor Panjang - ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, BANTUL—Keberadaan monyet ekor panjang di seputaran Mangunan, Kapanewon Dlingo mulai dikeluhkan. Kawanan mamalia itu kerap menyerang tanaman pangan yang membuat petani setempat merugi hingga miliaran rupiah setiap tahunnya.
Lurah Mangunan Aris Purwanto menyampaikan keberadaan monyet ekor panjang di Mangunan telah merugikan petani setempat. Kawanan monyet ekor panjang tersebut telah merusak lahan pertanian warga dan merampas hasil pertanian yang belum dapat dipanen. Luas lahan pertanian yang terdampak sekitar 45,4 hektare.
“Petani telah mengalami kerugian sekitar Rp1,4 miliar per tahun sejak empat tahun lalu,” katanya dalam Gerakan Tanam Kelengkeng dan Koordinasi Rencana Pengendalian Monyet Ekor Panjang di Kebun Buah Mangunan, Senin (2/12/2024).
Dia menuturkan, pihaknya bersama masyarakat setempat telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi monyet ekor panjang tersebut. Beberapa upaya yang telah dilakukan antara lain memasang jaring pada lokasi yang biasanya menjadi tempat aktivitas kera ekor panjang.
Kemudian menyalakan petasan untuk mengusir keberadaan monyet ekor panjang, lalu menyebar anjing ke beberapa lokasi yang digunakan untuk mobilitas monyet ekor panjang. Serta membudidayakan jambu sebagai persediaan makanan bagi monyet ekor panjang.
Aris menilai, monyet ekor panjang yang memakan tanaman pangan warga tersebut disebabkan pasokan makanan untuk hewan tersebut kurang. “Kalau asupan makan [untuk monyet ekor panjang] kurang, maka akan makan di lahan warga. Rumput pakan ternak saja dimakan saat musim kemarau,” ujarnya.
Dia pun khawatir apabila tanaman pangan warga telah habis, maka tidak menutup kemungkinan monyet ekor panjang mencari makan ke pemukiman warga.
Aris juga menyayangkan berbagai upaya penanganan monyet ekor panjang yang nyaris tanpa hasil. Menurutnya, mamalia tersebut masih memakan tanaman pangan warga. Saat ini masih ada 27 koloni monyet ekor panjang di Mangunan. “Diperkirakan setiap tahun bertambah sekitar 150 ekor,” ujar dia.
Selain itu, hewan tersebut juga mengganggu tanaman pangan warga di sekitar Mangunan, antara lain di Wukirsari, Muntuk, Dlingo, Sriharjo, Karangtengah, Imogiri dan Girirejo. “Populasi monyet ekor panjang tidak bisa terbendung. Kalau kita diamkan dan tidak ada upaya mengatasi ini [monyet ekor panjang] akan menjadi pukulan bagi petani di Mangunan,” ujar Aris.
Dia berharap Pemkab Bantul dapat mengambil langkah konkrit terhadap persoalan ini.
Pengelola Organisme Penganggu Tanaman, UPT Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP) DIY, Muhammad Syafi’i menyampaikan keberadaan monyet ekor panjang sebagian besar ditemukan di Dlingo, Kabupaten Bantul; Kalibawang, Girimulyo, dan Samigaluh di Kabupaten Kulonprogo; sekitar Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, dan beberapa lokasi di Gunungkidul.
Dia menuturkan, monyet ekor panjang jantan dapat hidup sekitar 20-25 tahun. Sementara yang betina dapat hidup hingga usia 15-20 tahun. Hewan tersebut mampu berkembangbiak sejak usia 3,5-4 tahun. Hal itu membuat populasi monyet ekor panjang sulit dikendalikan. “Untuk pengendalian populasi kera ekor panjang, perlu dilakukan kajian terkait dengan habitat asli kera ekor panjang. Ketika kajian telah dilakukan, maka dapat kera ekor panjang dapat dikembalikan ke daerah asli,” kata Syafi’i.
Kemudian, menurutnya, pemerintah juga dapat melakukan vasektomi monyet ekor panjang. Dia menyarankan agar Pemkab Bantul menggandeng dokter hewan yang ada untuk melakukan proses tersebut.
Menurutnya, apabila monyet ekor panjang ditempatkan pada satu wilayah dengan cadangan makanan yang mencukupi, maka tingginya populasi hewan tersebut masih menjadi persoalan. “Setelah diberi makan, populasi bertambah. Kemudian [ketika populasi kera ekor panjang bertambah] mereka [kera ekor panjang] akan turun [ke pemukiman penduduk]. Itu seperti bom waktu,” ujarnya.
Kepala Satpol PP Bantul R. Jati Bayu Broto menyampaikan, penanganan monyet ekor panjang perlu legitimasi dari BKSDA dan beberapa organisasi lingkungan. Hal itu agar penanganan terhadap hewan tersebut dapat sesuai dengan regulasi yang ada.
“Menurut saya perlu legitimasi, kami cari cara yang baik dan terukur untuk penanganan monyet ekor panjang. Kami akan memohon legitimasi dari BKSDA dan organisasi lingkungan, karena masyarakat perlu kami bantu,” ucapnya.
Sekda Bantul Agus Budiraharja mengaku akan mengkaji beberapa regulasi yang mengatur penanganan monyet ekor panjang. Dari situ, pihaknya akan memutuskan langkah penanganan yang akan dilakukan.
“Kami akan cek perlindungan terhadap monyet ekor panjang dan apakah sudah masuk kategori hama atau tidak. Kalau hama, pembasmian hama boleh. Kalau misalnya [monyet ekor panjang] dilindungi, maka ada UU yang membentur [pengurangan populasi kera ekor panjang],” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Aktivitas parkir bus wisata di Eks Menara Kopi Kotabaru Jogja melonjak saat libur panjang, bisa tembus lebih dari 35 bus per hari.
Jadwal KRL Jogja–Solo 20 Mei 2026 lengkap semua stasiun dari Yogyakarta hingga Palur. Cek jam berangkat terbaru di sini.
Israel kembali menyerang armada bantuan Gaza di laut internasional. Puluhan kapal disita dan ratusan aktivis ditahan.
Jadwal KRL Solo–Jogja 20 Mei 2026 lengkap semua stasiun dari Palur ke Tugu. Cek jam berangkat terbaru dan tarif Rp8.000.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.