Softskill Sangat Dibutuhkan untuk Menatap 10 Juta Profesi Baru di Indonesia

Sunartono
Sunartono Sabtu, 30 November 2024 07:57 WIB
Softskill Sangat Dibutuhkan untuk Menatap 10 Juta Profesi Baru di Indonesia

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Kemahasiswaan Kemenristekdikti Sains dan Teknologi Profesor Sri Suning Kusumawardani mengingatkan kepada para mahasiswa agar membekali diri dengan softskill yang dibutuhkan untuk menatap setidaknya akan muncul 10 juta profesi baru di tanah air. Suning mengapresiasi sejumlah perguruan tinggi yang membekali mahasiswa dengan softskill. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Kemahasiswaan Kemenristekdikti Sains dan Teknologi Profesor Sri Suning Kusumawardani mengingatkan kepada para mahasiswa agar membekali diri dengan softskill yang dibutuhkan untuk menatap setidaknya akan muncul 10 juta profesi baru di tanah air. Suning mengapresiasi sejumlah perguruan tinggi yang membekali mahasiswa dengan softskill.

Hal itu disampaikan dalam Launching Pelatihan Softskill Tahap 1 bagi mahasiswa angkatan 2024 di UAD Jogja, Kamis (28/12/2024). Suning mengatakan saat ini dihadapkan pada keresahan masyarakat global, termasuk adanya ancaman artificial intelligence (AI) yang dapat membantu manusia melakukan sesuatu.

"Isu lingkungan cuaca ekstrem membuat menjadi masyarakat khawatir. Begitu juga dengan teknologi, 10 tahun mendatang isu lingkungan mendominasi, kemajuan terknologi misinfomrasi dan disinformasi AI. Kontribusinya harus mencari pengetahuan sebanyak mungkin agar bisa dikontruksi dan diamalkan," katanya.

Kekhawatiran lain, kata dia, adanya perubahan pekerjaan yang hilang, prediksi hingga 2030 ada 23 juta pekerjaan di Indonesia digantikan automasi. Akan tetapi jangan khawatir, karena ada peluang 27 juta sampai 46 juta pekerjaan lahir dan 10 juta pekerjaan di antaranya belum pernah ada.

"Sehingga harus disiapkan skill kemampuan baru dan softskill sebagai persiapan. Softskill apa kompetensi yang dibutuhkan yaitu adaptif, semuanya terkait dengan pola pikir berkembang. Orang keras kepala tidak mau diisi dengan ilmu baru maka pelan-pelan akan tergusur karena terganti dengan teknologi baru," ujarnya.

Gatot Sugiharto, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UAD sepakat bahwa softskill sangat dibutuhkan untuk mendukung kompetensi mahasiswa. Oleh karena itu UAD memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan softskill dengan harapan setiap lulus mendapatkan bekal yang cukup untuk terjun ke masyarakat. Ia menambahkan setiap tahun menggelar setidaknya dua kali pelatihan softskill dengan menyasar mahasiswa baru.

"Kami memfasilitasi mereka untuk melakukan transformasi dari awalnya pembelajara pendidikan menengah ke pendidikan tinggi. Sehingga saat menjalani proses perkuliahan mereka tetap bisa berprestasi. Softskill saat ini sangat dibutuhkan di dunia kerja selain kemampuan akademik yang dimiliki lulusan," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online