Ribuan Pelajar Sleman Alami Hipertensi, Gaya Hidup Jadi Sorotan
Skrining CKG Sleman temukan ribuan pelajar hipertensi. Gaya hidup tidak sehat jadi faktor utama selain bawaan.
Ketua Asosiasi Petani Salak Sleman Prima Sembada, Wakimin sedang menunjukkan tanaman salak miliknya di Kalurahan Merdikorejo, Tempel, Sleman, Minggu (23/2/2025). - Harian Jogja/Andreas Yuda
Harianjogja.com, SLEMAN—Petani salak di Kabupaten Sleman mengalami persoalan pemasaran dan harga salak yang rendah menyentuh Rp500 per kilogram (kg).
Di sisi lain, sertifikat ekspor atau Sertifikat Prima 3 yang dimiliki kelompok tani (poktan) tidak banyak membantu dalam menyerap produksi salak, utamanya ketika panen raya.
Ketua Kelompok Tani Sari Manggala Tempel, Badriyanto, mengatakan kelompoknya telah memiliki Sertifikat Prima 3 yang selalu diperbarui tiga tahun sekali. Sertifikat ini menjadi salah satu syarat agar mereka dapat mengekspor salak ke China.
Ketika panen raya, produksi salak juga tidak dapat terserap semua untuk ekspor. Ekspor ini dikoordinasi oleh Asosiasi Petani Salak Sleman Prima Sembada. Asosiasi ini mengampu poktan yang berada di tiga kapanewon, yaitu Tempel, Pakem, dan Turi.
Panen salak paling tidak setahun dua kali, yakni Desember-Januari dan Maret-April. Namun, produksi paling banyak tetap pada panen pertama. Panen raya sebenarnya menjadi kesempatan untuk memasarkan salak ke seluruh pasar baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pada Desember-Januari, produksi salak di Poktan Sari Manggala dapat mencapai 500 kilogram (kg) per 1.000 meter persegi. Sementara, produksi pada April-Mei hanya setengah dari jumlah tersebut. Dengan total luas lahan pertanian salak sebesar tujuh hektar (ha), panen raya pertama dapat menghasilkan 35.000 kg atau 35 ton salak.
“Panen raya pertama harga per kilogram rata-rata Rp1.000 di tingkat petani. Bahkan, ada yang menjual Rp500 per kilogram. Kalau panen raya kedua malah harga jual naik jadi Rp2.000-Rp5.000, produksi kan sedikit,” kata Badriyanto ditemui di Merdiko Farm Poktan Sari Manggala, Minggu (23/2/2025).
Badriyanto mengaku harga salak anjlok sejak 2019. Harga salak paling tinggi pada Agustus - September; per kg bisa menyentuh Rp7.000-Rp9.000. Namun, Poktan Sari Manggala tidak memproduksi buah salak dalam rentang waktu tersebut.
Wilayah yang dapat memproduksi salak dalam dua bulan tersebut ada di dataran tinggi atau dekat Gunung Merapi. Ada selisih waktu satu bulan untuk pematangan buah. Di Poktan Sari Manggala, waktu yang dibutuhkan untuk penyerbukan hingga panen sekitar tujuh bulan. Adapun dataran tinggi, di atas 500 mdpl, proses tersebut butuh delapan bulan. “Kalau wilayah bagian tengah sudah habis, salak di dataran tinggi masih ada,” katanya.
Pada rentang 2017-2018 per kg salak justru berada di angka Rp3.000-Rp4.000 ketika panen raya Desember-Januari. Adapun harga salak per kg mencapai Rp3.000-Rp5.000 pada 1990-2000. Produksi salak nasional tidak begitu banyak. Harga tersebut terus menerun turun dan stabil di kisaran Rp1.000-Rp2.000 ketika panen raya.
Ia menganalogikan 1 kg salak semestinya dapat digunakan untuk membeli 3 kg beras. Saat ini, 10 kg salak hanya dapat digunakan untuk membeli 1 kg beras. Badriyanto menambahkan pemasaran salak asal Sleman terkendala juga dengan pasar salak nasional karena Banjarnegara lebih banyak memproduksi salak. Secara kuantitas, Sleman kalah jauh. Namun, salak pondoh Sleman memiliki keunggulan di kualitas. Salak Sleman lebih manis.
Dia menerangkan ekspor salak juga tidak dapat dilakukan begitu saja. Ada ketentuan yang harus dipenuhi selain Sertifikat Prima 3. Ketentuan tersebut, seperti tingkat kematangan salak maksimal 70%, per kg berisi 10 hingga 12 biji. Harga ekspor per kg ini menyentuh Rp6.000.
“Kalau menjual ke tengkulak itu per kilogram Rp1.000. Kalau ke asosiasi untuk ekspor sangat membantu sekali, kalau program ekspor berjalan baik. Eksportir kan kerja sama dengan asosiasi,” ucapnya.
Menurut Badriyanto, Poktan Sari Manggala melakukan ekspor terakhir sekitar 2019. Setelah Covid-19, Poktan belum mengekspor salak. Menurut dia, asosisasi juga hanya mengirim sedikit salak ke luar negeri.
Poktan Sari Manggala pun mengelola dan memanen salak secara mandiri, tanpa buruh petik. Upah buruh petik dapat mencapai Rp100.000 per hari. Petani justru merugi apabila menggunakan tenaga buruh petik. “Petani salak masih bertahan karena nilai tenaga kerja tidak dihitung. Kami kerjakan dengan tenaga sendiri. Kalau dihitung dengan mempertimbangkan tenaga kerja, ya hitungannya rugi,” jelasnya.
BACA JUGA: Hujan Deras dan Angin Kencang Sebabkan Pohon Tumbang hingga Pagar Roboh di DIY
Wisataa Edukasi
Badriyanto berencana mendirikan wisata edukasi yang bertumpu pada sejarah salak. Salak pondoh yang beredar di berbagai daerah di Indonesia berasal dari Sleman. Pada awalnya, petani salak di Sleman secara besar-besaran menjual bibit salak pondoh ke luar DIY. “Harapan kami itu kami minta tolong penjualan salak. Desember hingga Januari mau jual saja susah, belum mempertimbangkan harga. Itu saja. Kami juga sudah punya sertifikat prima 3 kok,” ungkapnya.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Imawan, mengatakan Pemkab Sleman telah dan terus berupaya membantu petani salak dalam mengembangkan dan memasarkan salak.
Namun, kendala pemasaran salak dan rendahnya harga salak terjadi akibat melimpahnya buah salak di pasar, utamanya pada Desember-Februari. Dalam rentang ini juga ada panen raya buah jenis lain. Permintaan terhadap salak pun cenderung tetap. “Apalagi sentra salak pondoh di luar Sleman seperti Banjarnegara dan Wonosobo juga ada,” kata Imawan.
Imawan menambahkan Pemkab Sleman telah menghubungkan Asosiasi Petani Salak Prima Sembada ke Indomaret daerah Jabodetabek. Dia berharap produksi salak Sleman terserap di toko modern tersebut. Pada Januari 2024, kata dia ada penyerapan salak ke Indomaret tersebut.
Ekspor salak pun juga berjalan setiap bulan. Tiga negara lokasi ekspor, yaitu Kamboja, Vietnam, dan China. Asosiasi yang melakukan ekspor ini adalah Asosiasi Salak Mitra Turindo.
Tidak hanya itu, DP3 dan Bagian Perekonomian Setda Sleman telah menghubungkan asosiasi salak di Sleman ke Dinas Pariwisata. Dengan begitu, pusat oleh-oleh dan destinasi wisata dapat ikut menyerap salak petani baik dalam bentuk buah segar maupun olahan. Ada juga SE Bupati agar agenda kedinasan dapat menyerap salak petani di Sleman. “Tapi belum ada tindak lanjut dari asosiasi petani salak kaitannya dengan penjualan langsung ke pusat oleh-oleh dan destinasi wisata,” katanya.
DP3 Sleman mencatat produksi salak pada Desember 2024-Februari 2025 mencapai 426.161 kwintal atau 42.616.100 kg.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Skrining CKG Sleman temukan ribuan pelajar hipertensi. Gaya hidup tidak sehat jadi faktor utama selain bawaan.
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Jadwal DAMRI Jogja ke YIA 2026 lengkap dengan tarif Rp80.000. Transportasi praktis, nyaman, dan bebas ribet menuju bandara.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.