Kekerasan Daycare Jogja, 53 Anak Jadi Korban, Pemda DIY Turun Tangan
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Ketua PSM Patehan Hijau yang juga merupakan Ketua RW 04 Patehan, Agus Wijayanto dan istrinya menunjukkan penghargaan dan hasil olahan sampah anorganik PSM Patehan Hijau, di rumahnya, beberapa waktu lalu./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—RW 04 Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kota Jogja memiliki kelompok pengelola sampah dengan sistem sedekah sampah bernama Pengelola Sampah Mandiri (PSM) Patehan Hijau. Kelompok ini sudah berkiprah jauh sebelum darurat sampah di Jogja, sejak 2012 silam.
Berbeda dengan bank sampah, sedekah sampah di PSM Patehan Hijau tidak memberikan keuntungan finansial secara langsung bagi anggota maupun pengurus. Keuntungan dari proses pengelolaan sampah anorganik disalurkan untuk keperluan sarana-prasarana pengelolaan sampah.
Ketua PSM Patehan Hijau yang juga merupakan Ketua RW 04 Patehan, Agus Wijayanto, menjelaskan sejak awal berdiri hingga saat ini PSM Patehan Hijau masih terus mengelola sampah anorganik dari para anggotanya. “Dulu awalnya saya menggunakan gerobak, terus berkembang sekarang kami sudah menggunakan motor roda tiga,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
BACA JUGA: Plengkung Nirbaya Ditutup Permanen, Durasi Lampu Bangjo Simpang Empat Gading Lebih Cepat
Pengumpulan sampah organik dilakukan dengan mekanisme pengurus PSM Patehan Hijau keliling untuk mengambil sampah-sampah anorganik dari para anggota yang berjumlah 80 rumah tangga. Sampah anorganik dikumpulkan di satu titik untuk dipilah dan disetor ke pengepul. Kegiatan ini dilakukan satu bulan sekali.
Beberapa sampah anorganik yang dikumpulkan seperti plastik, kertas, kardus dan sebagainya. Hasil dari penjualan sampah anorganik ini rata-rata sekitar Rp400.000 setiap bulannya.
“Hasil kegiatan ini kembali ke warga, untuk pembelian tempat sampah, tas pilah, tas belanja, kegiatan lingkungan kegiatan sosial-masyarakat, studi tiru lapangan dan sebagainya,” katanya.
Berbeda dengan bank sampah yang menawarkan profit pada masing-masing individu, sedekah sampah lebih mengedepankan semangat gotong royong. “Dengan semangat itu warga jadi timbul kepedulian. Setiap kegiatan biasanya sudah ada yang mengirim makanan-minuman untuk konsumsi,” kata dia.
Karena tidak ada profit, maka setiap anggota pun tidak memiliki buku tabungan. Meski demikian, pengurus mencatat dengan teliti laporan hasil kegiatan bank sampah dan pemanfaatan uangnya. “Dengan metode ini kita malah awet sejak 2012 sampai sekarang, kami juga mendapat beberapa penghargaan,” ungkapnya.
Selain mengumpulkan, memilah dan menjual sampah anorganik, PSM Patehan Hijau juga bisa mengolah sampah anorganik menjadi beberapa barang baru seperti tas belanja. Sayangnya mereka kesulitan dalam pemasaran barang-barang tersebut sehingga belum dioptimalkan.
“Hasil dari sampah anorganik itu juga bisa kita buat seperti tas dan sebagainya. Itu sudah kami rintis. Tapi persoalannya adalah pemasarannya yang tidak bisa tersalurkan. Sehingga kegiatan itu tetap berjalan tapi tidak seperti dulu lagi,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Pemkab Gunungkidul menyiapkan lahan 4 hektare untuk TPST Wukirsari. Proyek menunggu bantuan Pemerintah Pusat dan ditarget mulai dibangun 2027.
Honda Super-One debut di GIIAS 2026 dengan kuota 100 unit untuk Indonesia. Mobil listrik ini mampu menempuh jarak hingga 274 kilometer.
DKPP menjatuhkan sanksi peringatan keras kepada Anggota KPU RI Parsadaan Harahap terkait penggunaan helikopter saat pelantikan KPPS di Cianjur.
Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan penertiban gula rafinasi untuk melindungi petani tebu dan mempercepat target swasembada gula.
Dua mesin diesel milik petani di Bulak Dobangsan, Wates, Kulonprogo dicuri. Korban merugi Rp3,5 juta, polisi masih menyelidiki kasus tersebut.