Nakhoda Kapal Virgo Jadi Tersangka, Manajemen Beri Pendampingan Hukum
PT Virgo Karya Shipping memberikan pendampingan hukum kepada nakhoda Kapal Virgo Transport 8 yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Diskusi bertajuk Mampukah Sumbu Filosofi Yogyakarta Bersahabat dengan Bencana dan Konflik?. /Istimewa-Jogjaprov.
Harianjogja.com, JOGJA—Warisan dunia harus dipersiapkan menghadapi bencana dan konflik sosial. DIY memiliki sumbu filosofi pun merespons hal ini melalui diskusi publik untuk menggalang berbagai masukan terkait pelestariannya melalui diskusi bertajuk Mampukah Sumbu Filosofi Yogyakarta Bersahabat dengan Bencana dan Konflik?.
Diskusi sekaligus memperingati Hari Warisan Dunia ini tidak hanya menjadi ruang tukar gagasan, tetapi juga mendorong partisipasi masyarakat luas serta memperluas jejaring kerja sama antar pemangku kepentingan dalam pelestarian situs warisan dunia di Indonesia. Diskusi yang berlangsung intensif dan terbuka ini diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta membangun strategi kolaboratif dalam menghadapi berbagai tantangan terhadap keberlanjutan warisan budaya.
Dengan tema Global Heritage under Threat from Disasters and Conflicts, diskusi ini menggugah kesadaran akan pentingnya menjadikan Sumbu Filosofi sebagai warisan budaya yang hidup bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga nilai-nilai filosofisnya yang membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat.
BACA JUGA: Indonesia Menuju Ibu Kota Budaya Dunia
Sumbu Filosofi berdasarkan pada filosofi ‘sangkan paraning dumadi’. Kawasan sumbu filosofi inilah yang menjadi panduan dan pegangan hidup kita,” kata Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi sebagaimana dilansir di laman resmi Pemda DIY.
Ia menambahkan ancaman terhadap warisan dunia tidak hanya datang dari bencana alam, namun juga konflik sosial yang lahir dari kelalaian manusia. Dian berharap diskusi publik pada hari ini mampu membuka wawasan dan pemahaman terhadap pengelolaan warisan dunia, karena tanggung jawab tidak semata hanya pada sebagian kelompok.
"Tetapi menjaga kelestarian adalah tanggung jawab kita bersama, sebagaimana juga kita bertanggungjawab menyiapkan warisan-warisan kita untuk generasi masa depan yang lebih baik,” kata Dian.
Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan generasi untuk merawat nilai-nilai Sumbu Filosofi secara berkelanjutan. Serta menjadikannya sumber kekuatan sosial yang adaptif.
Dengan hadirnya narasumber dari berbagai institusi, seperti UNESCO Jakarta, Nottingham University, serta pakar kebudayaan dan pengelolaan situs warisan, diskusi publik ini diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperluas pemahaman dan menyatukan langkah dalam upaya pelestarian Sumbu Filosofi secara berkelanjutan.
Asisten Profesor di Departemen Teknik Lingkungan dan Kimia di University of Nottingham Bagus Putra Muljadi menekankan pentingnya menempatkan pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang yang berkelanjutan. “Warisan budaya itu bukan hanya milik masa lalu, tapi juga bagian dari masa depan. Jika tidak kita kelola dengan baik hari ini, maka generasi mendatang tidak akan punya pijakan sejarah yang utuh.”
Sekretaris Daerah DIY, Beny Suharsono menyatakan pentingnya sinergi lintar sektor dalam menjaga keberlanjutan kawasan warisan budaya, khususnya di Yogyakarta. “Kawasan Sumbu Filosofis bukan sekadar symbol warisan, tetapi juga identitas kita bersama. Maka menjaga dan merawatnya dari ancaman bencana maupun konflik adalah tugas lintas generasi dan lintas lembaga," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PT Virgo Karya Shipping memberikan pendampingan hukum kepada nakhoda Kapal Virgo Transport 8 yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
BPS Gunungkidul masih mengolah data Sensus Ekonomi 2026. Sebanyak 1.033 petugas dikerahkan dengan sekitar 385.000 responden sasaran.
Bank Mandiri membayarkan dividen interim Rp6,16 triliun bertepatan HUT ke-28. Total dividen sepanjang kalender 2026 mencapai Rp50,63 triliun.
DPRD Bantul meminta usaha budi daya perikanan memperhatikan pengelolaan limbah agar tidak berdampak pada lingkungan dan warga.
PPh marketplace dimajukan menjadi 1 Oktober 2026. DJP menyebut keputusan itu diambil karena kesiapan teknis empat platform.
Sebanyak 52,41% pekerja DIY masih berada di sektor informal. Buruh menilai kondisi ini menunjukkan warga menciptakan lapangan kerja sendiri.