Air Tinggal Menetes, Warga Tepus Endapkan Air Keruh untuk Mandi
Warga Padukuhan Duwet di Tepus mengandalkan air keruh dari Kali Wonosari akibat kemarau. Air harus diendapkan sebelum digunakan.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jajaran Satreskrim Polres Gunungkidul menangani kasus pencabulan anak dibawah umur dengan tersangka pamannya sendiri di Kapanewon Semin. Hingga sekarang, tersangka masih menjalani pemeriksaan intesif di Mapolres.
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak, Satreskrim Polres Gunungkidul, IPda Ratri Ratnawati mengatakan, telah menahan BSW sebagai tersangka pencabulan dengan korban keponakannya yang berusia 11 tahun. Pelaku nekat berbuat bejat karena memiliki hubungan kurang harmonis dengan isterinya.
BACA JUGA: Struktur Kelembagaan di Lingkup Pemkab Gunungkidul Akan Diubah, Begini Alasannya
“Pelaku ditangkap 7 Mei 2025,” kata Ratri, Selasa (20/5/2025).
Berdasarkan pengakuan tersangka, aksi pencabulan baru pertama kali dilakukan terhadap ponakannya. Untuk lokasi kejadian berada di kandang kambing milik kakek korban.
Adapun barang bukti yang diamankan pakaian yang dikenakan korban dan pelaku. “Korban dengan pelaku masih kerabat karena berstatus paman dan keponakan. Keduanya juga tinggal serumah,” katanya.
Kasatreskrim Polres Gunungkidul, AKP Yahya Murray menambahkan, peristiwa pencabulan terjadi pada Minggu (24/5/2025). Saat itu, sambung dia, pelaku berpura-pura meminjam telepon genggam milik keponakannya.
“Tersangka tidak memiliki ponsel sehingga berpura-pura meminjam untuk melancarkan aksinya,” katanya.
Selain itu, pada saat akan mencabuli, tersangka juga sempat mengancam korban agar mau menuruti kemauannya. BSW mengancam akan membunuh ayah dan bibinya, jika tidak mengikuti permintaannya.
“Pelaku masih kami periksa dan karena korban merupakan anak dibawah umum maka penanganan juga melibatkan UPPA,” katanya.
Atas perbuatannya ini, tersangka BSW dijerat Pasal 82 Undang-Undang No.17/2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.1/2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No.23/2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang. Adapun ancaman hukumannya diantaranya paling sedikit lima tahun dan maksimal 15 tahun penjara. “Kami proses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Padukuhan Duwet di Tepus mengandalkan air keruh dari Kali Wonosari akibat kemarau. Air harus diendapkan sebelum digunakan.
Bea Cukai Kudus menerapkan ultimum remidium terhadap tujuh kasus rokok ilegal dengan total denda Rp582,71 juta sepanjang semester I/2026.
PDIP memperingati 30 tahun Kudatuli dengan aksi teatrikal, ritual adat, dan pembacaan puisi di Gedung DPP PDIP di Jakarta.
Sebanyak 11 SPPG di Sleman menghentikan operasional sementara akibat kendala renovasi, IPAL, dan administrasi.
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp5 miliar untuk memperbaiki tiga ruas jalan pada 2026. Dua proyek sudah memasuki tahap kontrak.
Sebanyak 80 siswa SD di sekitar Bandara YIA diajak mengenal dunia penerbangan dan aktivitas kebandarudaraan melalui program TJSL.