Produksi Ikan Turun Drastis, Nelayan Gunungkidul Pilih Tangkap Benur
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Sejumlah kapal inka mina sedang terpakir di area dermaga di Pelabuhan Sadeng di Kapanewon Girisubo, Gunungkidul. Rabu (9/7/2025). Harian Jogja/David Kurniawan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Nelayan di Pelabuhan Sadeng di Kapanewon Girisubo, Gunungkidul berharap ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) khusus. Diharapkan dengan adanya fasilitas ini, maka bisa menekan biaya operasional saat menangkap ikan di laut.
Ketua Kelompok Nelayan di Pelabuhan Sadeng, Sarpan mengatakan, keberadaan SPBU khusus nelayan sangat dibutuhkan. Hal ini karena menjadi sarana yang vital bagi nelayan untuk melaut.
Ia mencontohkan untuk kapal sekoci sekali melaut membutuhkan solar hingga mencapai 350 liter. Adapun kapan inka mina yang ukurannya lebih besar, maka butuh lebih banyak lagi karena sekali melaut bisa memakan waktu selama sepuluh hari.
“Solar menjadi kebutuhan mendasar bagi nelayan khususnya untuk kapal di atas sepuluh GT,” kata Sarpan, Kamis (10/7/2025).
BACA JUGA: 4 Polisi Selundupkan Narkoba Jenis Sabu, Libatkan Perwira
Hal yang sama juga berlaku bagi nelayan kecil yang menggunakan mesin tempel. Perahu jenis ini membutuhkan BBM jenis pertalite untuk menangkap ikan di laut.
“Ada koperasi yang memasok, tapi memang harganya lebih mahal. Contohnya pertalite dijual Rp11.000 per liternya,” katanya.
Menurut dia, nelayan berharap ada fasilitas SPBU khusus nelayan sehingga dapat memperoleh harga BBM seperti di pasaran pada umumnya. Sarpan tidak menampik keberadaan SPBU pernah ada di Pelabuhan Sadeng di era 1990an, tapi berhenti beroperasi di 2002 lalu.
“Mungkin dulu yang membutuhkan BBM tidak sebanyak sekarang, jadi operasinya berhenti. Tapi, sekarang para nelayan sangat membutuhkan adanya SPBU untuk mendapatkan pasokan BBM yang lebih murah,” katanya.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengatakan, pihaknya telah menangkap aspirasi dari para nelayan. Wacana mendirikan SPBU khusus nelayan dibarekankan dengan program pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih yang sedang diajukan ke Pemerintah Pusat. “Mudah-mudahan bisa direalisasikan,” kata Wahid.
BACA JUGA: Toyota Kuasai Pasar Mobil Tanah Air per Juni 2025, Kijang Innova Terjual 31.100 Unit
Menurut dia, untuk saat ini, pasokan BBM ke nelayan dilakukan oleh dua sub penyalur atas nama Badan Usaha Milik Kalurahan Pucung. Adapun harga jual BBM jenis solar bersubsidi sekitar Rp7.800 per liter dikarenakan adanya tambahan ongkos Rp1.000.
“Ada kuota 28.800 liter dan realisasi baru separuh yang terserap. Kalau untuk solar non subsidi atau dexlite, harganya lebih mahal karena tembus Rp13.320 per liter,” kata Wahid.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Jadwal DAMRI Jogja ke YIA 2026 lengkap dengan tarif Rp80.000. Transportasi praktis, nyaman, dan bebas ribet menuju bandara.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.