Banjir Nagoya Ganggu Atlet Indonesia Jelang Asian Games 2026
Banjir Nagoya sempat mengganggu latihan tim basket Indonesia. Taufik Hidayat memastikan NOC dan CdM mencari solusi.
Seniman mementaskan Titik Api Sang Erucokro saat pertunjukan teater Lima Fragmen Perang Djawa di Gedung Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (21/7/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/YU
Harianjogja.com, JAKARTA—Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X menyatakan Perang Diponegoro merupakan upaya mempertahankan keberadaan bangsa yang juga melibatkan masyarakat hingga budaya.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa sendiri tercatat berlangsung pada 1825-1830. “Perang Diponegoro melibatkan berbagai lapisan masyarakat, bangsawan, ulama, petani, dan rakyat bersatu melawan penjajah. Menariknya, tradisi Jawa juga turut mewarnai cara berperang,” ujar Sri Sultan dalam webinar yang dipantau secara daring dari Jakarta, Jumat (25/7/2025).
BACA JUGA: Panen Perdana Kopi di Lereng Merapi, Ini Pesan Sri Sultan untuk Taru Martani dan Petani
Sultan menambahkan bahwa sejarawan mencatat adanya integrasi antara seni dan peperangan, misalnya untuk gamelan dan tarian perang yang mengobarkan semangat. “Hal ini menunjukkan perpaduan budaya dengan keterampilan bela diri masyarakat Jawa,” tegasnya.
Selama lima tahun perang yang menguras sumber daya antara kedua belah pihak, Diponegoro dengan siasat gerilya dan kolonial menggunakan siasat licik untuk menangkap sang pahlawan. Meski ditangkap kolonial, catatan perjalanan pengasingan Diponegoro mengungkapkan bahwa kepribadiannya tetap teguh dan berwibawa.
Sri Sultan mengatakan bahwa perjuangan Diponegoro tersebut menjadi sebuah nilai yang tampak setelah jarak sejarah memisahkan. Ia juga menilai Perang Diponegoro meninggalkan nilai dan ajaran leluhur yang relevan yang menekankan tingkah laku seorang pemimpin agar senantiasa memelihara watak yang sabar menahan diri, teliti dan berhati-hati dan menjauhi sifat tercela.
“Seorang pemimpin dituntut mengendalikan hawa nafsunya, antara lain dengan mengurangi kemewahan, disiplin dalam makan dan tidur demi mencapai kejernihan batin,” katanya lagi.
Perang Diponegoro juga membuktikan nilai-nilai lokal dan religi dapat menjadi landasan kuat untuk melawan dominasi asing. Daerah Istimewa Yogyakarta, lanjut dia, menjadi pusat kebudayaan Jawa yang hidup dan turut melestarikan tradisi-tradisi keraton, upacara adat, hingga karya-karya sastra klasik.
“Seperti halnya perang besar lain di dunia yang meninggalkan memori sosial mendalam, perang Diponegoro juga membentuk cara pandang kita hingga hari ini yang mengajarkan tentang mahalnya harga sebuah kemerdekaan dan pentingnya persatuan,” tukas Sultan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Banjir Nagoya sempat mengganggu latihan tim basket Indonesia. Taufik Hidayat memastikan NOC dan CdM mencari solusi.
KPK memeriksa empat saksi kasus dugaan gratifikasi Rp20,7 miliar yang menjerat mantan Kepala Kanwil DJP Jakarta Khusus Muhammad Haniv.
Minyak jelantah dari MBG, KDMP, rumah tangga hingga restoran dijajaki Pertamina sebagai bahan baku bahan bakar pesawat ramah lingkungan.
Selama 56 tahun, SHARP telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, mengikuti perubahan kebutuhan rumah tangga, perkembangan teknologi.
Menteri LH Jumhur Hidayat menegaskan pasar karbon Indonesia harus berbasis aksi iklim nyata, bukti kredibel, dan tata kelola berintegritas.
DPRD DIY meminta SPPG penyebab keracunan MBG ditutup permanen. Sebanyak 14 SPPG di DIY kini mendapat sanksi suspend.