Pemerintah Anggarkan Rp639,6 Triliun untuk 43 Program Bansos
Pemerintah mengalokasikan Rp639,6 triliun untuk 43 program perlindungan sosial pada 2026. Sebanyak 33,1 juta keluarga menerima bantuan.
Akademisi Pusat Sains Manajemen Lanskap Berkelanjutan (PSLB) dan Fakultas Kehutanan Instiper Jogja memberikan pendampingan terhadap aktivitas agroforestri. Pendampingan itu salah satunya dilakukan melalui Summer Course 2025. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Akademisi Pusat Sains Manajemen Lanskap Berkelanjutan (PSLB) dan Fakultas Kehutanan Instiper Jogja memberikan pendampingan terhadap aktivitas agroforestri. Pendampingan itu salah satunya dilakukan melalui Summer Course yang digelar pada Senin (4/8/2025) hingga Jumat (8/8/2025).
Direktur PSBL Agus Setyarso menjelaskan pendampingan terhadap pengelola agroforestri harus dilakukan. Melalui pendampingan tersebut, masyarakat atau petani selaku pengelola lansekap agroforestri diharapkan mampu membawa kepentingan konservasi tata air, memperbaiki tingkat keanekaragaman hayati dan mewujudkan resiliensi tinggi terhadap perubahan iklim.
Melalui pendampingan itu juga, masyarakat atau petani akan memperoleh manfaat dari aspek ketahanan pangan, penyediaan lapangan kerja dengan tanpa meninggalkan nilai budaya dan mengurangi nilai kualitas kehidupan.
BACA JUGA: KPK Temukan Modus Korupsi Tambang dengan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan
"Pendampingan juga harus merespons kebutuhan diversifikasi pendapatan, pasar komoditas yang fluktuatif serta efisiensi pada kerangka ekonomi hijau. Melalui Summer Course ini dengan maksud untuk melengkapi sumberdaya manusia yang bergiat pada pendampingan perhutanan sosial dengan kompetensi yang lebih profesional," katanya, Jumat (1/8/2025)
Kegiatan ini sekaligus untuk melengkapi penggiat dan pendamping perhutanan dengan kompetensi profesional dalam aplikasi sistem agroforestri berkelanjutan secara utuh dengan menguatkan komitmen pada pemenuhan pengelolaan lanskap agroforestri berkelanjutaan.
Selain itu memperkaya pengetahuan dan keterampilan pendampingan pada penyelenggaraan agroforestri berbasis kayu ringan berdaur pendek bernilai ekonomi tinggi dan memiliki resilensi terhadap perubahan iklim, serta menguatkan kapasitas dalam pendampingan pengendalian rantai nilai produk dan layanan agroforestri.
Summer course mengincar sasaran peserta dari pegiat perhutanan sosial termasuk hutan hak, baik dari latar belakang tenaga teknis/penyuluh KPH, LSM, akademisi dengan pengalaman pengabdian pada masyarakat tani/hutan, maupun karyawan perusahaaan yang bergerak pada bidang kehutanan dan pertanian. Di samping sasaran peserta dalam negeri, summer course mendorong kesertaan internasional.
"Peserta diharapkan mampu meningkatkan praktik dan efektifitas keberlanjutan lanskap berbasis agroforestri baik dalam aspek fungsi tata-air, keanekaragaman hayati, resilensi terhadap perubahan iklim; aspek peningkatan resiliensi dan kualitas kehidupan masyarakat," katanya.
Dekan Fakultas Kehutanan Instiper Rawana menambahkan agroforestri dapat diposisikan tidak sebatas teknik budidaya yang menggabungkan antara budi daya kehutanan dengan budidaya pertanian. Agroforestri mampu menempati posisi sebagai strategi pengelolaan lanskap berkelanjutan yang menggabungkan berbagai kepentingan secara seimbang sesuai dengan karakteristik lansekap.
Keseimbangan antara upaya peningkatan resiliensi fungsi lanskap, resiliensi kehidupan masyarakat dan kepentingan pengembangan ekonomi berbasis ekonomi lokal sepanjang mata rantai nilai. Kepentingan ekonomi mengharuskan lingkup agroforestri diperluas sampai dengan segmen pascapanen dan industrinya.
"Belakangan ini bahkan Pemerintah Indonesia banyak memberitakan tentang peran agroforestri sebagai salah satu strategi nasional untuk ketahanan pangan, tanpa menimbulkan efek deforestasi. Konsekuensinya adalah akan ada eskalasi pelaksanaan agroforestri pada skala yang sangat luas, melibatkan jutaan hektare kawasan hutan, terutama pada areal hutan dengan persetujuan perhutanan sosial," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah mengalokasikan Rp639,6 triliun untuk 43 program perlindungan sosial pada 2026. Sebanyak 33,1 juta keluarga menerima bantuan.
PSIM Jogja menghadapi Isenmulang tanpa Ze Valente akibat kartu merah. Laskar Mataram berupaya bangkit setelah lima kekalahan beruntun.
Luhut mengusulkan penyesuaian definisi korupsi merujuk UNCAC. KPK menolak penghapusan total unsur kerugian negara dan membuka opsi delik pemberatan.
PDAM Tirta Handayani Gunungkidul mengeksplorasi sungai bawah tanah Ngobaran dengan target debit 40 liter per detik untuk Saptosari dan Panggang.
Agrinas Palma Nusantara memberikan beasiswa kepada 25 anak Papua Selatan untuk mengikuti pendidikan perkebunan sawit selama tiga tahun.
Dispar Kulonprogo memberlakukan permanen retribusi QRIS di Pantai Glagah dan menargetkan perluasan ke destinasi lain, termasuk Waduk Sermo.