Petugas Damkar Gunungkidul Pingsan di Jalan, Dirawat Intensif
Petugas Damkar Gunungkidul pingsan di Alun-Alun Wonosari usai piket malam, kini dirawat intensif dan belum sadarkan diri.
Foto ilustrasi Siswa Sekolah Dasar - Foto dibuat dengan Artificial Intelligence ChatGPT
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan Gunungkidul terus melakukan kajian tentang kebijakan regrouping sekolah di Bumi Handayani. Kebijakan ini diambil sebagai upaya mengefektifkan kegiatan pembelajaran di bangku sekolahan.
Sekretaris Dinas Pendidikan Gunungkidul, Agus Subaryanta mengatakan, tahun ini ada SD Negeri Gunungsari dan SD Negeri Giripanggung yang digabungkan dengan sekolah lain. Regrouping dilakukan karena di kedua sekolah mengalami kekurangan murid.
Ia memastikan kebijakan regrouping masih akan terus berlanjut. Pihaknya terus melakukan kajian dalam rangka efektivitas pembelajaran di sekolah.
“Ya kalau hasil dari Sistem Penerimaan Murid Baru [SPMB] Tahun Ajaran 2025-2026, ada puluhan sekolah yang kekurangan murid. Bahkan ada beberapa SD negeri tidak mendapatkan murid baru,” ungkapnya.
BACA JUGA: Belasan Wisatawan Tersengat Ubur-Ubur, 1 Orang Dibawa ke Rumah Sakit
Menurut dia, kajian dilakukan sebagai upaya memastikan kebijakan regrouping tak menimbulkan polemik di Masyarakat. Oleh karena itu, sekolah-sekolah yang kekurangan atau tidak mendapatkan murid baru tak serta merta langsung ditutup karena ada evaluasi selama tiga tahun.
“Intinya dilihat terlebih dahulu perkembangannya seperti. Kalau memang jumlah muridnya semakin sedikit, maka potensi digabung akan makin besar,” katanya.
Sesuai dengan ketentuan, sambung Agus, regrouping bisa dilaksankaan di sekolah yang jumlah siswanya kurang dari 60 anak. Hanya saja, kebijakan tersebut bukan harga mati karena keputusan juga memperhatikan jarak dengan sekolah lainnya.
“Memang harus dikaji dengan matang dengan melihat dari berbagai aspek. Tentunya, sebelum penggabungan dilakukan juga ada sosialisasi di Masyarakat. Rata-rata SD yang digabung jumlah muridnya kurang dari 30 anak,” katanya.
Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini mengatakan, tidak ada masalah dengan kebijakan penggabungan sekolah di Kabupaten Gunungkidul. Ia berpendapat, langkah ini diambil sebagai upaya mengefektifkan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Kendati demikian, Endang meminta agar kebijakan tersebut benar-benar dikaji dengan matang. Hal yang paling mendasar menyangkut dengan jarak harus diperhatikan sehingga tidak memunculkan penolakan di Masyarakat.
“Memang harus dikaji dan tidak asal gabung. Penggabungan bertujuan untuk efektivitas dan efisiensi anggaran, tapi aspek lain juga butuh diperhatikan seperti jarak, kondisi psikis anak dan lainnya. Yang jelas, jangan sampai kebijakan ini malah membuat anak putus sekolah,” katanya. (David Kurniawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Petugas Damkar Gunungkidul pingsan di Alun-Alun Wonosari usai piket malam, kini dirawat intensif dan belum sadarkan diri.
Info lengkap SPMB DIY 2026. Simak syarat masuk TK, SD, SMP, SMA/SMK negeri, jadwal aktivasi PIN, hingga prosedur pendaftaran online bagi warga Yogyakarta.
Demi Moore menegaskan AI tidak akan pernah menggantikan jiwa seni dalam konferensi pers Cannes Film Festival 2026.
Timnas Indonesia akan menghadapi Oman dan Mozambik pada FIFA Matchday Juni 2026 untuk mendongkrak ranking FIFA.
Blunder Bento pada menit 90+8 membuat Al Nassr gagal mengunci gelar Saudi Pro League usai ditahan imbang Al Hilal 1-1.
Florentino Perez membantah isu sakit keras, menyerang media, dan mempercepat pemilu Real Madrid di tengah krisis klub musim 2026.