Cuaca Ekstrem Serang Kolam Gurame Sleman, Tebar Benih Diminta Ditunda
Cuaca ekstrem dan musim bediding meningkatkan risiko penyakit ikan di Sleman. Penyuluh meminta pembudidaya menunda tebar benih gurame hingga September atau Okto
Ilustrasi drainase/Ist-WSBT
Harianjogja.com, SLEMAN— Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman menemukan banyak drainase ditutup warga tanpa standar teknis. Penutupan asal ini berpotensi memicu banjir.
Ketua Tim Kerja Perencanaan Teknis Bidang Cipta Karya DPUPKP Sleman, M. Mu'allim, mengatakan ada sekitar 60 hingga 90 pemohon perizinan penutupan drainase setiap tahunnya. Jumlah ini tergolong sedikit.
Secara umum, penutupan drainase harus rata dengan bahu jalan dan wajib dipasang manhole drainase atau lubang pembersihan yang dilengkapi penutup kokoh dengan jumlah tertentu, biasanya dipasang per tiga meter.
BACA JUGA: Dua Motor Terlibat Kecelakaan di Gamping
Masyarakat dapat melihat tata kelola drainase di Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.
Mu’allim mengaku pihaknya menjumpai penutupan drainase padahal izin belum turun. Apabila penutup drainase lebih tinggi dari bahu jalan, DPUPKP akan menyarankan untuk menambah inlet atau jalan masuk air dengan syarat berada di lokasi tertentu. Kalau berada di tikungan jalan, DPUPKP tetap meminta perbaikan agar drainase rata dengan bahu jalan.
“Masyarakat harus mengajukan izin penutupan drinase. Izin ini jadi salah satu bagian persyaratan pengurusan dokumen Persetujuan Bangunan Gedung [PBG],” kata Mu’allim dihubungi, Jumat (19/9/2025).
DPUPKP Sleman terus mendorong agar penyelenggaraan sistem drainase perkotaan dapat memenuhi persyaratan tertib administrasi, ketentuan teknis, ramah lingkungan, menciptakan lingkungan permukiman yang sehat dan bebas genangan serta meningkatkan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian air. Sosialisasi kepada masyarakat dan tokoh masyarakat akan dimasifkan.
Kepala Bidang Cipta Karya DPUPKP Sleman, Haryadi Widodo, mengatakan inlet drainase yang ditutup dapat meningkatkan potensi kerusakan pada sistem drainase. Air yang tersendar dapat membebani struktur drainase. Sebab itu, perlu pemahaman penutupan drainase yang baik agar tidak menimbulkan kerugian bagi warga sekitar drainase.
DPUPKP telah mengalokasikan anggaran senilai Rp1,8 miliar dari APBD Sleman 2025 untuk operasional dan pemeliharaan sistem drainase perkotaan.
Adapun kata Haryadi ada lebih dari 75 titik drainase rusak dalam setahun. Perbaikan dan pemeliharaan sistem drainase menyedot anggaran yang besar, rata-rata setiap tahun menghabiskan Rp1,8 miliar.
Masyarakat bisa menghubungi hotline 085165999985 jika ingin mengetahui prosedur penutupan drainase.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cuaca ekstrem dan musim bediding meningkatkan risiko penyakit ikan di Sleman. Penyuluh meminta pembudidaya menunda tebar benih gurame hingga September atau Okto
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 31 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Yogyakarta hingga Palur.
Pemkab Kulon Progo dan BBWS Serayu Opak mengeruk Sungai Serang untuk mitigasi banjir sekaligus memanfaatkan sedimen bagi infrastruktur Porda DIY 2027.
DPC PDIP Sleman menggelar sarasehan dan nobar film Kudatuli di Minggir sebagai pendidikan politik serta penguatan soliditas kader menuju Pemilu 2029.
PSS Sleman memastikan seluruh pemain lokal anyar telah tiba di Sleman dan menjalani MCU. Persiapan tim terus dimatangkan untuk musim kompetisi 2026.
Citilink mengoperasikan 43 pesawat hingga Juni 2026. Dukungan Danantara mendorong transformasi Garuda Indonesia Group dan ekspansi rute.