KONI DIY Bangun Simpalawa, Data Atlet Kini Serba Digital
KONI DIY mengembangkan aplikasi Simpalawa untuk pengelolaan data atlet, pelatih, dan wasit berbasis digital di DIY.
Penampakan TPR darurat yang beroperasi di Pantai Cangkring seiring dengan adanya uji coba beroperasinya Jembatan Pandansimo, Sabtu (4/10/2025) Dokumentasi Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL – Uji coba pemindahan Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) pantai di kawasan selatan Bantul ke selatan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) menuai keluhan dari petugas di lapangan. Pemindahan ini merupakan tindak lanjut dari pembukaan Jembatan Pandansimo yang telah dimulai sejak awal pekan ini dan bertujuan untuk menekan kebocoran retribusi.
Diketahui TPR permanen lama yang berada di Jalan Parangtritis telah dipindahkan ke dekat makam Syekh Bela-Belu atau utara JJLS. Sementara untuk kawasan pantai dari sepanjang sisi barat sampai ke timur Bantul, dioperasikan TPR darurat berupa tenda yang letaknya masuk ke kawasan pantai sepanjang kawasan selatan Bantul.
Koordinator TPR Pantai Samas hingga Pantai Pandansimo, Suto Akhir mengungkapkan, TPR darurat yang hanya menggunakan tenda sangat tidak nyaman bagi petugas. Selain terpapar panas, saat hujan disertai angin para petugas basah kuyup bahkan rawan tenda roboh.
“Kalau hujan lebat disertai angin pekerjaan jadi tidak maksimal. Petugas tetap harus menarik retribusi dalam kondisi basah-basahan,” kata Akhir, Sabtu (4/10/2025).
Menurutnya, 22 petugas harus dibagi ke banyak titik pada TPR darurat, termasuk di pantai dengan jumlah pengunjung minim. Kondisi ini membuat distribusi personel tidak seimbang.
“Seperti Pantai Samas, pengunjungnya minim tapi tetap ada petugas. Padahal di pantai lain seperti Tanggul Tirto yang pengunjungnya lebih ramai justru nihil petugas. Ini yang akan saya sampaikan ke Dinas Pariwisata agar ada penyesuaian,” ujarnya.
Akhir berharap pembangunan TPR semi permanen bisa segera direalisasikan agar kinerja petugas lebih optimal, apalagi musim hujan sebentar lagi tiba.
Sementara, Koordinator TPR Induk Pantai Parangtritis, Rohmad Ridwan menyampaikan keluhan serupa. Menurutnya, TPR baru di kawasan itu kurang representatif dibandingkan TPR lama.
“Bangunan yang ada sekarang tidak memadai. Petugas bisa kepanasan atau kehujanan, dan jalurnya hanya satu. Kondisi ini juga rawan kecelakaan karena banyak pengguna jalan melaju kencang tanpa adanya tanda TPR,” jelasnya.
Ia menegaskan pihaknya akan menyampaikan seluruh kendala ini ke Dinas Pariwisata untuk segera dievaluasi. “Dengan pemindahan TPR Induk Parangtritis dan Pantai Depok, penarikan retribusi memang tidak bisa maksimal,” pungkasnya.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Saryadi mengatakan, pemindahan TPR ini masih sebatas uji coba lantaran operasional Jembatan Pandansimo juga belum ditentukan apakah akan dibuka permanen atau tidak. Oleh karena itu pihaknya akan menampung aspirasi petugas TPR di lapangan dan terus mengevaluasi kelancaran kinerja petugas maupun hal teknis lain yang beluk optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KONI DIY mengembangkan aplikasi Simpalawa untuk pengelolaan data atlet, pelatih, dan wasit berbasis digital di DIY.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Gempa M6,3 guncang Jepang timur laut. Shinkansen dihentikan, Miyagi terdampak, namun PLTN Fukushima dilaporkan aman.