Minat Dalang Cilik di Jogja Meningkat, Seleksi Digelar Jaga Regenerasi
Minat anak Jogja pada seni pedalangan meningkat. Disbud gelar seleksi dalang anak untuk wakil DIY
Foto 1: Suasana Jalan Malioboro saat penerapan full pedestrian pada Selasa (7/10/2025). - Harian Jogja/ Ariq Fajar HidayatFoto
Harianjogja.com, JOGJA - Jalan Malioboro yang biasanya riuh oleh suara klakson dan deru mesin, pada Selasa (7/10/2025) kawasan ini berubah wajah. Tidak ada kendaraan bermotor yang melintas. Tidak ada antrean kendaraan yang kerap mengular dari ujung utara hingga Titik Nol. Semua berganti dengan derap langkah kaki, suara tawa wisatawan, serta alunan musik jalanan yang mengalun bebas di udara.
Penerapan Malioboro full pedestrian selama 24 jam penuh ini merupakan momen spesial dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-269 Kota Jogja. Seluruh ruas jalan Malioboro hingga kawasan Titik Nol ditutup mulai pukul 00.00 hingga 24.00 WIB. Hanya beberapa kendaraan tertentu yang masih diizinkan melintas, seperti becak, andong, Trans Jogja, ambulans, dan mobil pemadam kebakaran.
Pemandangan ini kontras dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, ulang tahun Jogja selalu dihiasi hingar-bingar Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) yang megah. Namun tahun ini, suasana dibuat lebih tenang, memberi ruang bagi warga dan wisatawan untuk merasakan Malioboro tanpa gangguan kendaraan.
Pantauan Harianjogja.com sekitar pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, kawasan Malioboro dipenuhi wisatawan yang memanfaatkan momen langka tersebut. Banyak yang berhenti di tengah jalan untuk berfoto, mengabadikan suasana unik yang jarang terjadi. Latar belakang gedung kolonial, lampu jalan khas Malioboro, dan trotoar rapi menjadi spot favorit untuk swafoto.
Iit Nurwidia, wisatawan asal Wonosobo, mengaku terkesan dengan pengalaman barunya. “Sebelumnya saya beberapa kali ke Malioboro, tapi sekarang benar-benar beda. Kalau biasanya ke Malioboro itu harus siap berdesakan dan suara kendaraan nggak pernah berhenti, sekarang benar-benar beda,” ujarnya saat ditemui di depan Malioboro Mall, Selasa (7/10/2025).
Ia bersama teman-temannya terlihat asyik berpose di tengah jalan. “Enak banget buat jalan bareng teman-teman, foto-foto, dan menikmati suasana kota. Ternyata suasananya jauh lebih nyaman dan adem. Jalan kaki jadi lebih santai, dan kita bisa menikmati setiap sudut tanpa terganggu lalu lintas,” lanjutnya.
Iit menilai kebijakan CFD ini sebagai langkah positif. “Menurut saya ini ide bagus dan harus lebih sering dilakukan. Malioboro terasa lebih hidup dan rapi, pedagangnya juga terlihat lebih tertata. Suasananya mirip kawasan wisata luar negeri yang ramah pejalan kaki,” ungkapnya.
Kesan serupa juga disampaikan Claire, wisatawan asal Prancis. Ia datang ke Malioboro beberapa hari sebelumnya saat kendaraan masih lalu-lalang. Kali ini, ia merasakan pengalaman yang benar-benar berbeda.
“Saya sangat terkesan melihat bagaimana Malioboro bisa berubah total saat tidak ada kendaraan. Suasananya terasa lebih hangat dan terbuka, seperti ruang publik besar yang bisa dinikmati semua orang,” ucap Claire.

Pertunjukan budaya memperingati Boyongan Kedaton di kawasan Titik Nol Jogja, Selasa (7/10/2025). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Claire bercerita bahwa berjalan kaki di Malioboro tanpa deru mesin kendaraan adalah pengalaman luar biasa. “Saya bisa mendengar musik jalanan, suara orang tertawa, dan aroma makanan khas yang lebih terasa. Ini benar-benar berbeda. Menurut saya, konsep seperti ini sangat bagus untuk pariwisata,” katanya.
Di ujung selatan jalan, tepatnya di kawasan Simpang Titik Nol, suasana semakin semarak. Di tengah Jalan Margo Mulya yang masih steril dari kendaraan, digelar acara sederhana memperingati “Boyongan Kedaton”, peristiwa perpindahan pusat pemerintahan dari Ambarketawang ke lokasi Kraton Yogyakarta saat ini, yang terjadi pada 7 Oktober 1756.
Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra, menjelaskan bahwa momen boyongan ini memiliki makna sejarah yang kuat. Peristiwa perpindahan Kraton oleh Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I tersebut menjadi dasar penetapan tanggal lahir Kota Jogja.
Nilai perjuangan Mangkubumi sebagai pendiri Yogyakarta dipandang relevan untuk konteks masa kini, terutama dalam menjaga keutuhan bangsa, memperkuat demokrasi yang damai, dan menciptakan rasa aman di tengah masyarakat.
“Peristiwa itu mau kita maknai ulang situasi bangsa hari ini, nilai-nilai perjuangan Mangkubumi sebagai pendiri Yogyakarta coba kita hidupkan untuk konteks tuntutan zaman saat ini bagaimana kita menjaga keutuhan NKRI, bagaimana kita tetap membangun demokrasi dengan damai menghindari anarkisme,” jelas Widihasto.
Acara peringatan boyongan itu diwarnai penampilan kesenian yang beragam. Ada pertunjukan biola oleh anak-anak, tarian Madura, hadroh dari mahasiswa, hingga orasi dan doa lintas agama. Penonton yang memadati kawasan Titik Nol menyambutnya dengan antusias.
Puncak acara menampilkan Tari Lawung Jajar, tarian klasik Kraton Jogja ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Tarian ini menggambarkan para prajurit kerajaan yang sedang berlatih dan mempersiapkan diri berperang dengan tombak berujung tumpul atau lawung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Minat anak Jogja pada seni pedalangan meningkat. Disbud gelar seleksi dalang anak untuk wakil DIY
Prabowo siapkan satgas deregulasi untuk memangkas izin usaha yang dinilai terlalu lama demi memperkuat investasi di Indonesia.
BKPM menilai surat Kadin China di Indonesia sebagai masukan positif terkait tantangan iklim investasi dan hilirisasi di Indonesia.
Polisi memastikan kasus yang dikira klitih di Pengasih Kulonprogo ternyata duel remaja akibat masalah pribadi yang diduga terkait asmara.
Presiden Prabowo menyebut masih ada ribuan triliun kekayaan negara yang harus diselamatkan dari praktik pencurian aset nasional.
Pakar Forensika Digital UII menilai markas judi online internasional di Jakarta menjadi ancaman serius cybercrime bagi Indonesia.