Pilihan Lurah Gunungkidul, 11 Petahana Tersungkur
Pilur serentak Gunungkidul diikuti 91 calon dari 31 kalurahan. Sebanyak 11 lurah petahana gagal mempertahankan jabatannya.
Foto ilustrasi anak sakit flu. - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus penyakit ISPA di Gunungkidul meningkat seiring perubahan cuaca cepat di masa pancaroba. Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi penyebaran penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama masa pancaroba.
Pasalnya, tren keluhan penyakit seperti batuk, pilek, hingga demam mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
“Memang ada peningkatan kasus ISPA di pelayanan kesehatan sehingga kesehatan masyarakat harus tetap terjaga,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul, Sidiq Heru Sukoco, Senin (13/10/2025).
Meski tidak menyebutkan jumlah kasus secara rinci, Sidiq mengakui adanya tren peningkatan penyebaran ISPA di masyarakat. Kondisi tersebut tidak lepas dari cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini.
Menurut dia, saat ini wilayah Gunungkidul memasuki masa pancaroba, di mana perubahan cuaca kerap terjadi dengan cepat. “Kondisi panas lalu tiba-tiba turun hujan harus diwaspadai karena rentan menyebabkan serangan penyakit ISPA,” ujarnya.
Sidiq menambahkan, penyebaran ISPA tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat, tetapi juga di lingkungan sekolah. Ia mencontohkan satu sekolah di Kecamatan Ngawen yang melaporkan puluhan siswa mengalami batuk, pilek, dan demam dalam waktu hampir bersamaan.
“Ini bukan masalah dari program makan bergizi gratis, tapi memang karena kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga berpengaruh terhadap kesehatan para siswa,” jelasnya.
Untuk mengurangi risiko tertular penyakit, ia mengimbau masyarakat agar terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga diingatkan untuk memperhatikan pola makan bergizi seimbang.
“Jangan lupa berolahraga agar tubuh tetap fit. Saat vitalitas terjaga, maka tidak mudah terserang penyakit,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sumadi, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG DIY terkait pergantian musim dan potensi cuaca ekstrem di wilayah Gunungkidul. Berdasarkan hasil koordinasi, musim hujan diperkirakan mulai dasarian ketiga Oktober ini.
“Akhir bulan sudah memasuki musim hujan. Sekarang masih masa pancaroba atau peralihan dari kemarau ke penghujan,” ujar Sumadi.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana di masa pancaroba, seperti hujan deras disertai angin kencang.
“Potensinya tidak hanya hujan, tetapi juga angin kencang yang bisa menyebabkan pohon tumbang dan kejadian lain,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak Gunungkidul diikuti 91 calon dari 31 kalurahan. Sebanyak 11 lurah petahana gagal mempertahankan jabatannya.
Cara cek BPJS Kesehatan nunggak atau tidak bisa dilakukan lewat Mobile JKN, PANDAWA, dan Care Center 165. Simak langkah lengkapnya.
SUV boxy makin populer di pasar global. Desainer Chery menilai desain mengotak bukan sekadar tren dan punya alasan fungsional.
Amri/Nita meraih medali perak Asian Games 2026 setelah kalah 19-21, 8-21 dari Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin di final.
Tiongkok menjadi negara dengan gelar juara umum Asian Games terbanyak. Simak daftar gelar Tiongkok, Jepang, dan posisi terbaik Indonesia.
Peneliti UPN Veteran Yogyakarta mengembangkan model branding kopi berbasis kearifan lokal untuk memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar global.