Usai Dugaan Keracunan MBG, Seluruh Siswa SDN Kowang Pulih
Sebanyak 18 siswa SDN Kowang Bantul yang sempat diduga keracunan MBG kini kembali masuk sekolah setelah kondisi membaik.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul terus mempercepat pelaksanaan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan. Hingga akhir Oktober 2025, progres fisik pengerjaan di lapangan telah mencapai sekitar 70 persen. Seluruh proyek ditargetkan rampung pada pertengahan Desember 2025.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul, Jimmy Alran Manumpak Simbolon, menjelaskan total anggaran program jalan tahun ini mencapai Rp63 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp7 miliar dialokasikan khusus untuk pembangunan tiga jembatan di Bulurejo, Pucunggrowong, dan Sindet.
“Sisanya sebesar Rp56 miliar digunakan untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan. Dari jumlah itu, Rp7,5 miliar kami fokuskan pada kegiatan pemeliharaan yang dibagi dalam tiga paket pekerjaan. Sejauh ini, hampir seluruh kegiatan berjalan baik, dan sekitar 70 persen sudah dalam tahap akhir pengerjaan,” ujarnya, Selasa (27/10).
Jimmy menambahkan, jika tidak ada kendala berarti, seluruh proyek bidang jalan akan rampung paling lambat pertengahan Desember 2025. Selain proyek utama, tahun ini juga terdapat program pembangunan jalan lingkungan senilai Rp4,7 miliar di tujuh lokasi, yang baru memasuki tahap kontrak.
“Proyek jalan lingkungan ini kami targetkan selesai pada 10 Desember,” imbuhnya.
Secara umum, Jimmy menilai seluruh proses mulai dari pelelangan hingga pelaksanaan fisik berjalan dengan baik. Meski demikian, dibandingkan tahun sebelumnya, anggaran infrastruktur tahun ini mengalami penurunan sekitar Rp30 miliar.
“Kami berharap ke depan anggaran bisa kembali meningkat agar sejalan dengan visi Bupati dalam memperkuat sektor infrastruktur,” katanya.
Jimmy menjelaskan, Pemkab Bantul saat ini terus berupaya meningkatkan kondisi jalan mantap yang baru mencapai sekitar 65 persen.
“Masih butuh kerja keras untuk memperbaiki kondisi tersebut. Karena itu, kami juga berusaha mengakses sumber dana dari pemerintah pusat,” jelasnya.
Salah satu bentuk dukungan dana pusat datang melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD). Jimmy mencontohkan proyek ruas Kasihan-Bangunjiwo sepanjang tiga kilometer yang dikerjakan dengan dana sekitar Rp16,8 miliar.
“Proyek ini sudah dalam tahap pelaksanaan dan diharapkan bisa selesai dengan baik pada akhir tahun ini,” ujarnya.
Jimmy mengatakan, Pemkab juga tengah menyiapkan sejumlah usulan proyek strategis ke pemerintah pusat, salah satunya untuk mendukung program penataan kawasan perkotaan Bantul.
“Setelah proyek Gapura Batas Kota Cepit selesai, ide besar Bupati adalah penataan kawasan Gose–Palbapang dan Gose-Manding menjadi dua jalur lengkap dengan pedestrian,” tuturnya.
Ia menyebut, dua proyek besar itu membutuhkan anggaran sekitar Rp35 miliar untuk masing-masing kawasan.
“Kalau dua kawasan itu tertata, wajah kota Bantul akan jauh lebih baik dan mendukung penataan kawasan kota secara menyeluruh,” tambahnya.
Lebih lanjut, Jimmy mengungkapkan bahwa tahun depan DPUPKP Bantul akan menerapkan konsep pembangunan infrastruktur tematik skala prioritas, dengan fokus penataan radius tiga kilometer dari pusat kota Bantul.
“Ini bagian dari rencana penataan wajah kota. Termasuk kawasan Kasongan yang menjadi salah satu pintu masuk dan ikon Bantul,” katanya.
Selain pembenahan jalan, pihaknya juga menargetkan penanganan genangan air di Simpang Empat Sudimoro yang selama ini menjadi titik rawan banjir.
“Target kami tahun depan genangan di Sudimoro harus selesai. Kebutuhan anggarannya sekitar Rp5 miliar,” jelasnya.
Sebelumnya, Jimmy menyatakan salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam pembangunan infrastruktur jalan di Bantul adalah keterbatasan anggaran.
Meskipun kebutuhan pembangunan dan pemeliharaan jalan terus meningkat, ketersediaan dana seringkali belum seimbang dengan kebutuhan riil di lapangan. Selain itu, prioritas penggunaan dana untuk sektor lain serta keterbatasan transfer dari Pusat turut menjadi kendala dalam menjaga kemantapan
jaringan jalan.
Sementara dari sisi teknis, kondisi geografis dan topografi Kabupaten Bantul yang beragam juga menjadi tantangan. Wilayah utara seperti Sewon, Banguntapan, dan Kasihan merupakan dataran rendah, sedangkan wilayah selatan dan timur seperti Dlingo, Imogiri, dan Piyungan didominasi area perbukitan.
Kondisi tersebut membuat biaya konstruksi dan pemeliharaan jalan di beberapa lokasi menjadi lebih tinggi, serta rawan terhadap kerusakan akibat erosi dan longsor. “Selain itu, peningkatan volume lalu lintas dan beban kendaraan berat turut mempercepat kerusakan jalan, terutama pada ruas yang belum dirancang untuk menanggung beban berlebih,” ujar Jimmy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 18 siswa SDN Kowang Bantul yang sempat diduga keracunan MBG kini kembali masuk sekolah setelah kondisi membaik.
Prabowo ungkap Rp49 triliun uang tak terurus di bank akan masuk negara. Dana diduga terkait koruptor dan siap dimanfaatkan untuk rakyat.
Komet C/2025 R3 PANSTARRS muncul di 2026 dan tak kembali selama 170.000 tahun. Fenomena langka yang simpan sejarah Tata Surya.
Derbi PSIM vs PSS kembali di Liga 1 2026. Wali Kota Jogja ingatkan suporter jaga kondusivitas dan hindari bentrokan.
Penjualan tiket KAI tembus 584 ribu saat long weekend Kenaikan Yesus Kristus 2026. Yogyakarta jadi tujuan favorit wisatawan. Simak data lengkapnya.
Kementan pastikan stok hewan kurban 2026 surplus 891 ribu ekor. Pasokan aman, harga terkendali jelang Iduladha.