Ekonomi DIY Tumbuh 5,75% pada Triwulan II 2026, Tertinggi di Jawa
Ekonomi DIY tumbuh 5,75% pada triwulan II 2026, tertinggi di Pulau Jawa. BPS mengungkap sektor pendorong dan BI optimistis tren berlanjut.
Ilustrasi Posyandu – Antara/ Irwansyah Putra
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mencatat angka prevalensi stunting tahun 2025 turun menjadi 4,29%, dari sebelumnya 4,41% pada 2024. Data tersebut merupakan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan Dinas Kesehatan Sleman.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, Susmiarto, mengatakan meskipun angka prevalensi stunting menurun, komitmen penanggulangan stunting harus terus diperkuat. Menurutnya, intervensi perlu ditingkatkan baik pada aspek spesifik maupun sensitif.
“Melalui meningkatkan intervensi baik spesifik maupun sensitif,” ujarnya dalam Workshop Review Kinerja Tahunan Aksi Integrasi Stunting Kabupaten Sleman yang digelar Dinas DP3AP2KB di Joglo Puri Mataram, Sleman, Rabu (10/12/2025).
Ia mengapresiasi penyelenggaraan workshop tersebut karena menjadi langkah penting mengevaluasi capaian, efektivitas strategi, serta memastikan sinkronisasi upaya antarperangkat daerah. Forum itu juga dinilai strategis untuk merumuskan langkah perbaikan dan rencana aksi yang lebih terfokus pada tahun mendatang.
“Dengan melibatkan seluruh pihak terkait, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan Kabupaten Sleman bebas stunting,” kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Pemkab Sleman memberikan penghargaan kepada tiga kalurahan dengan penanganan stunting terbaik. Predikat terbaik diraih Kalurahan Tegaltirto Berbah, disusul Kalurahan Umbulmartani Ngemplak, dan Kalurahan Pondokrejo Tempel.
Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Dinas DP3AP2KB Sleman, Muhammad Daroji, berharap pemberian apresiasi tersebut dapat mendorong peningkatan semangat dan kinerja di tingkat kalurahan.
“Semoga dengan pemberian penghargaan ini dapat lebih memotivasi pemangku kebijakan di kalurahan dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting,” tuturnya.
Workshop ini diikuti 120 peserta yang terdiri dari Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten, Kapanewon, dan Kalurahan. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ekonomi DIY tumbuh 5,75% pada triwulan II 2026, tertinggi di Pulau Jawa. BPS mengungkap sektor pendorong dan BI optimistis tren berlanjut.
Harga telur di tingkat peternak Kulonprogo hanya Rp18.500-Rp20.700 per kg, sementara pakan naik. Peternak mengaku tombok hingga Rp3 juta.
CCTV dan ciri fisik mengungkap dugaan satu pelaku perusakan Bendera Merah Putih di Bantul dan palang kereta api di Gamping.
PSEL Piyungan ditargetkan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan 18-20 MW listrik dengan investasi hingga Rp3 triliun.
Dinas Pariwisata (Dinpar) Kota Jogja mendorong pelaku industri pariwisata untuk mengelola sampah yang dihasilkan dari kegiatan usahanya secara mandiri
Pemerintah menegaskan pengemudi ojol tetap wajib menerima BHR meski berstatus UMKM. Aturannya akan dituangkan dalam regulasi turunan.