Obituari Gandung Pardiman, Dikenang sebagai Politikus Pantang Menyerah dan Berdedikasi
Gandung Pardiman berpulang. Golkar DIY mengenang dedikasi, semangat pantang menyerah, dan perjuangannya untuk masyarakat serta partai.
Tenaga Honorer - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kebijakan pengangkatan staf MBG menjadi PPPK menuai kritik tajam. Pakar publik dari UMY menyoroti ketimpangan mekanisme dengan guru honorer dan tenaga kesehatan yang selama ini harus melalui seleksi berlapis.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Eko Atmojo, menekankan bahwa kebijakan pengangkatan staf MBG perlu evaluasi menyeluruh. Ia menilai masalah utama bukan sekadar tujuan program, melainkan ketidaksetaraan mekanisme pengangkatan dibandingkan jalur guru honorer dan tenaga kesehatan.
“Kebijakan ini harus ditinjau kembali. Persoalannya bukan hanya pada keputusan, tetapi pada proses pengangkatannya. Guru honorer dan tenaga kesehatan yang telah lama mengabdi wajib melewati tahapan seleksi, termasuk tes dan evaluasi berlapis. Sementara pengangkatan staf MBG tampak otomatis tanpa prosedur setara,” ujar Eko, Minggu (25/1/2026).
Eko memperingatkan perbedaan perlakuan ini berisiko merusak rasa keadilan dan menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Terlebih, staf MBG sejatinya merupakan pegawai perusahaan swasta yang bekerja sama dengan pemerintah dalam pelaksanaan program.
“Program MBG memiliki tujuan baik, tetapi pelaksanaannya dari pihak swasta. Jika pegawai swasta digaji negara melalui skema PPPK, hal ini tidak lazim dan memerlukan kajian serius dari sisi tata kelola kebijakan publik,” jelasnya.
Selain itu, Eko menekankan bahwa kebijakan ini dapat memperlebar ketimpangan yang sudah dirasakan tenaga pendidik dan tenaga kesehatan. Menurutnya, pemerintah cenderung memprioritaskan kebijakan yang bersifat konsumtif dan berdampak cepat, sementara pelayanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan, masih belum sepenuhnya mendapat perhatian proporsional.
“Ketimpangan antara guru, tenaga kesehatan, dan kebijakan sektoral lainnya telah berlangsung lama. Padahal pendidikan dan kesehatan adalah fondasi utama pembangunan kualitas SDM serta ketahanan negara,” kata Eko.
Jika rencana pengangkatan staf MBG menjadi PPPK tetap dijalankan, dampaknya tidak hanya memengaruhi motivasi guru honorer dan tenaga kesehatan, tetapi juga menimbulkan potensi distrust publik terhadap pemerintah.
“Ini bukan sekadar soal motivasi guru honorer menurun. Ketika masyarakat merasa kebijakan tidak adil, kepercayaan publik bisa terkikis, dan itu membahayakan keberlangsungan sistem demokrasi,” tegasnya.
Sebagai rekomendasi, Eko menyarankan agar program MBG tetap dijalankan tanpa harus mengangkat stafnya menjadi ASN atau PPPK. Pekerja MBG sebaiknya tetap berada di bawah tanggung jawab lembaga pelaksana atau perusahaan mitra, sementara negara perlu fokus meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kesehatan.
“MBG tetap bisa berjalan lancar, tetapi pembiayaan tenaga kerjanya seharusnya menjadi tanggung jawab penyelenggara program. Negara perlu serius memprioritaskan pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, karena di situlah masa depan kualitas bangsa ditentukan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gandung Pardiman berpulang. Golkar DIY mengenang dedikasi, semangat pantang menyerah, dan perjuangannya untuk masyarakat serta partai.
Konser Andrea Bocelli di Borobudur dan Jakarta tetap digelar pada 31 Oktober dan 3 November 2026 dengan pesan kemanusiaan.
Survei Indef terhadap 1.800 UMKM menunjukkan partisipasi dalam program MBG masih rendah, sementara 22% responden mengalami penurunan usaha.
DPRD Bantul mengubah aturan toko modern. Jarak minimal menjadi 1 km, produk UMKM wajib mendapat ruang, dan 50% pekerja harus warga lokal.
Bahlil Lahadalia memastikan pengadaan impor minyak melalui BLU Lemigas tidak memakai APBN. Skema Perpres 107/2026 masih dalam masa transisi.
Cisdi mendesak kenaikan cukai rokok 50%. Riset memperkirakan output ekonomi naik Rp315,1 triliun dan 1,14 juta lapangan kerja tercipta.