Cuaca Jogja Hari Ini 26 Juli Cerah, Sleman dan Kota Jogja Berkabut
BMKG memprakirakan cuaca Jogja pada 26 Juli 2026 didominasi cerah. Sleman dan Kota Jogja berpotensi mengalami udara kabur.
Guru Besar Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Usi Sukorini. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Ancaman penyakit trombosis vena atau venous thromboembolism (VTE) di Indonesia masih tergolong tinggi, terutama karena rendahnya deteksi dini yang membuat penyakit ini kerap baru teridentifikasi saat telah memicu komplikasi fatal berupa emboli paru. Kondisi tersebut menjadikan VTE sebagai salah satu penyakit pembuluh darah yang berpotensi menyebabkan kematian mendadak tanpa gejala jelas sebelumnya.
Minimnya kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap faktor risiko serta tanda awal trombosis vena menjadi persoalan utama yang memperparah keterlambatan diagnosis. Wujud dari VTE yaitu deep vein thrombosis (DVT) dan lebih parah lagi komplikasi menjadi emboli paru.
Hal ini diungkapkan Guru Besar Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Usi Sukorini.
“Di Indonesia, sebagian besar kasus deep vein thrombosis atau DVT ditemukan secara kebetulan, atau justru baru terdiagnosis setelah muncul komplikasi emboli paru. Padahal emboli paru bisa terjadi secara tiba-tiba dan berakibat fatal,” ujar Prof. Usi dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar di Ruang Senat, Balairung UGM, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa DVT merupakan kondisi terbentuknya trombus atau bekuan darah di dalam pembuluh darah vena, yang paling sering terjadi pada tungkai bawah. Dalam situasi tertentu, trombus tersebut dapat terlepas dan mengikuti aliran darah menuju paru-paru hingga menyumbat pembuluh darah paru, memicu emboli paru yang dikenal luas sebagai silent killer.
Kerumitan deteksi DVT juga dipengaruhi oleh gejala klinis yang tidak khas dan sangat bervariasi antarindividu. Prof. Usi menyebutkan, keluhan yang muncul bisa berupa nyeri pada betis, pembengkakan tungkai, rasa hangat, kemerahan, edema, hingga perbedaan ukuran antara kedua kaki. Namun, tidak sedikit pula pasien yang sama sekali tidak merasakan keluhan apa pun.
“Tidak ada satu tanda, gejala, pemeriksaan pencitraan, maupun biomarker tunggal yang bisa menegakkan diagnosis DVT secara pasti. Diagnosis harus dilakukan melalui analisis komprehensif antara kondisi klinis dan pemeriksaan penunjang,” katanya.
Kondisi tersebut semakin kompleks karena keterbatasan fasilitas pemeriksaan penunjang di berbagai daerah. Pemeriksaan D-dimer dan ultrasonografi doppler vena, yang menjadi standar dalam evaluasi trombosis vena, menurut Prof. Usi masih belum tersedia secara merata, khususnya di rumah sakit di luar kota-kota besar.
Dampak penyakit trombosis vena tidak hanya dirasakan dari sisi medis, tetapi juga meluas ke aspek ekonomi, psikologis, dan sosial. Prof. Usi menegaskan bahwa komplikasi seperti emboli paru dan post-thrombotic syndrome dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan.
“Komplikasi seperti emboli paru atau post-thrombotic syndrome dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan. Biaya perawatan akut, pengobatan jangka panjang, hingga rehabilitasi menjadi beban berat, baik bagi pasien maupun sistem pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan, ia menyoroti tantangan besar dalam menjaga efisiensi anggaran, terutama terkait upaya deteksi risiko trombosis. Pemanfaatan biomarker untuk menentukan indeks trombosis dinilai masih menghadapi kendala serius.
“Biaya reagen yang tinggi, terlebih jika harus menggunakan kombinasi biomarker seperti F1+2, FPA, dan TM, menjadi hambatan signifikan dalam penerapannya di praktik klinis. Tidak semua fasilitas kesehatan memiliki sumber daya yang memadai,” ujarnya.
Selain persoalan biaya, keterbatasan ketersediaan dan stabilitas reagen pemeriksaan koagulasi di Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini, menurut Prof. Usi, mendorong perlunya inovasi berkelanjutan yang tidak hanya kuat secara ilmiah, tetapi juga efisien dan realistis untuk diterapkan secara luas.
“Kami terus berupaya mencari kombinasi biomarker terbaik yang lebih sederhana, terjangkau, namun tetap andal untuk memprediksi risiko terjadinya DVT. Deteksi dini yang lebih luas menjadi kunci untuk menekan angka komplikasi dan kematian,” pungkas Prof. Usi Sukorini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BMKG memprakirakan cuaca Jogja pada 26 Juli 2026 didominasi cerah. Sleman dan Kota Jogja berpotensi mengalami udara kabur.
Nissan Leaf Nismo resmi meluncur di Jepang dengan fokus pada handling dan desain sporty, bukan peningkatan tenaga. Cek spesifikasi lengkapnya!
Kimi Antonelli finis podium ketiga pada F1 GP Hungaria 2026 meski start dari posisi ketujuh. Hasil ini memperlebar keunggulannya di puncak klasemen Formula 1.
Maroko menamai jalan raya sepanjang 1.055 kilometer dengan nama Donald Trump. Langkah ini dinilai menjadi simbol kuat hubungan diplomatik AS dan Maroko terkait
Peretas curi 30 TB data militer dari IMCO, pemasok tank Merkava Israel. Dokumen sensitif dan cetak biru senjata diduga bocor dalam serangan siber ini.
Setir mobil terasa berat? Kenali 8 penyebab utama, mulai dari pompa power steering hingga tekanan ban, serta 5 cara mengatasinya untuk keselamatan Anda.