Plataran Senopati Jogja Jadi Foodcourt, Berdayakan Eks Jukir
Plataran Senopati Jogja hadir sebagai foodcourt baru, berdayakan eks jukir dan pedagang terdampak.
Foto ilustrasi wirausaha, dibuat dengan Artificial Intelligence ChatGpt
Harianjogja.com, JOGJA— Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja masih menghadapi tantangan dalam mencetak pengusaha muda yang mampu bertahan dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Hingga kini, jumlah pengusaha muda binaan yang telah memiliki usaha stabil masih belum mencapai separuh dari total peserta program.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM (DPKUKM) Kota Jogja, terdapat sekitar 400 pengusaha muda yang mengikuti program pembinaan. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 10–40 persen yang usahanya dinilai telah stabil.
Kepala DPKUKM Kota Jogja, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menjelaskan ratusan pengusaha muda tersebut telah dibina secara berkelanjutan sejak 2011 hingga 2025. Bentuk pembinaan meliputi pelatihan kewirausahaan, pendampingan usaha, hingga fasilitasi pengembangan produk dan jaringan pasar.
Meski telah mendapatkan berbagai dukungan, Tri menilai faktor konsistensi dan mental kewirausahaan masih menjadi persoalan utama. Ia mengungkapkan lebih dari 50 persen pengusaha muda binaan belum mampu mempertahankan usahanya hingga benar-benar berkembang.
“Meski sudah memulai usaha, sebagian dari mereka akhirnya meninggalkan jalur wirausaha dan beralih ke pekerjaan formal maupun nonformal,” kata Tri, Sabtu (7/2/2026).
Ia menambahkan, keputusan beralih profesi tersebut tidak lepas dari pengaruh lingkungan sekitar, terutama keluarga. Dalam banyak kasus, pengusaha muda didorong untuk memilih pekerjaan kantoran yang dianggap lebih menjanjikan dan aman.
Padahal, menurut Tri, pengusaha muda di Kota Jogja memiliki ide kreatif dan potensi usaha yang besar. Namun, untuk mencapai kestabilan usaha dibutuhkan proses panjang, ketekunan, serta mental yang kuat dalam menghadapi dinamika bisnis.
Tri juga menyoroti masih adanya pengusaha muda yang menjalankan usaha secara setengah hati. Mereka cenderung hanya mencoba-coba tanpa membangun jejaring yang kuat dengan investor maupun konsumen, sehingga berdampak pada perkembangan usaha yang stagnan.
“Sebagian hanya mencoba-coba sehingga kurang serius membangun jaringan. Hal ini membuat usaha sulit tumbuh,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Jogja terus mengintensifkan program pelatihan kewirausahaan bagi pengusaha muda. Pelatihan tersebut diarahkan untuk memperkuat mental usaha, meningkatkan kompetensi, serta menumbuhkan kegigihan dalam menjalankan bisnis sejak usia dini.
“Kami juga mengedukasi dan mensosialisasikan kewirausahaan di lingkungan sekolah agar semangat berwirausaha bisa ditanamkan sejak awal,” kata Tri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Plataran Senopati Jogja hadir sebagai foodcourt baru, berdayakan eks jukir dan pedagang terdampak.
Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak hingga Rp52 juta akibat sistem adaptive pricing FIFA. Federasi kecil paling terdampak.
Apple resmi menghadirkan iPhone 17e di Indonesia dengan MagSafe, chip A19, dan Action Button. Harga mulai Rp13,4 juta.
Netflix digugat Texas karena dituding membuat fitur adiktif untuk anak dan mengumpulkan data pengguna tanpa izin yang jelas.
Persis Solo berada di ujung degradasi BRI Super League 2025/2026. Dua laga terakhir menjadi penentu nasib Laskar Sambernyawa.
Penelitian AAA mengungkap cuaca panas dan dingin ekstrem dapat memangkas jarak tempuh mobil listrik dan hybrid.