SHDK Kartu Keluarga Jadi Sumber Kendala SPMB 2026 di Bantul
Disdukcapil Bantul ungkap SHDK KK jadi kendala SPMB 2026. Verifikasi tetap aman tanpa temuan pemalsuan dokumen kependudukan.
Ilustrasi anak-anak mengukur tinggi badan. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL — Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMKal) Kabupaten Bantul mendorong seluruh pemerintah kalurahan tetap mengalokasikan anggaran penanganan stunting dalam APBKal 2026, meski dana desa tahun ini mengalami pemangkasan signifikan.
Kepala DPMKal Bantul, Afif Umahatun, menegaskan program penanganan stunting tetap menjadi prioritas karena merupakan arahan pemerintah pusat agar penurunan kasus bisa dimulai dari level desa.
"Untuk besaran yang sekarang tahun 2026 ini tidak diatur mengenai persentasenya. Jadi sesuai dengan kebutuhan masing-masing kalurahan saja," kata Afif, Rabu (4/2/2026).
Dana Desa Turun, Program Disesuaikan
Afif menjelaskan, pada 2025 lalu pengalokasian dana desa masih diatur dengan persentase tertentu agar pelaksanaan program berjalan optimal. Namun kebijakan efisiensi anggaran pada 2026 membuat dana desa yang diterima tiap kalurahan menurun drastis.
Tahun ini, rata-rata kalurahan di Bantul hanya menerima sekitar Rp373 juta. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,3 miliar per kalurahan.
Meski demikian, intervensi stunting tetap harus berjalan. Afif menyebut intervensi mencakup program spesifik maupun sensitif.
"Intervensinya untuk stunting kan ada spesifik ada sensitif. Jadi untuk pemberian makanan tambahan, kemudian ada revitalisasi posyandu, kemudian penyediaan sanitasi atau air bersih, pelatihan kader termasuk pemberian honor kader dan lain sebagainya," katanya.
Ia mengimbau pemerintah kalurahan cermat dan bijak dalam menyusun prioritas anggaran agar setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Target Stunting Turun 3 Persen Lebih
Sementara itu, Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Bantul, Siti Marlina, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya penurunan stunting.
Menurutnya, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab dinas teknis, tetapi juga pemerintah kalurahan dan seluruh pemangku kepentingan.
Berdasarkan survei 2024, prevalensi stunting di Bantul berada di angka 16,5 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 13,25 persen pada 2029.
"Jadi kurang lebih lima tahun itu penurunannya sekitar tiga persen lebih, kami optimistis bisa tercapai," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disdukcapil Bantul ungkap SHDK KK jadi kendala SPMB 2026. Verifikasi tetap aman tanpa temuan pemalsuan dokumen kependudukan.
Kasus dugaan korupsi mesin susu DIY disorot. Proyek Rp4,62 miliar belum bisa dimanfaatkan, Kejati sita 35 dokumen.
Zico sebut Jepang kini lebih kuat jelang lawan Brasil di Piala Dunia 2026. Samurai Biru tak lagi bisa diremehkan.
Sensus Ekonomi 2026 di Sleman resmi dimulai. Data usaha jadi dasar kebijakan dan arah pembangunan ekonomi daerah.
Kirab perpisahan 514 taruna Akmil di Magelang berlangsung meriah. Tradisi ini jadi simbol kedekatan taruna dan masyarakat.
Stasiun Gambir akan melayani KRL dan kereta jarak jauh. Transformasi ini menjadikannya hub transportasi terintegrasi di Jakarta.