Omzet Pasar Tradisional Bantul Turun 17 Persen, Ini Sebabnya
Omzet pedagang pasar tradisional Bantul turun 17 persen. DPRD menyoroti transaksi online dan kondisi pasar yang kurang representatif.
Ilustrasi anak-anak mengukur tinggi badan. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL — Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMKal) Kabupaten Bantul mendorong seluruh pemerintah kalurahan tetap mengalokasikan anggaran penanganan stunting dalam APBKal 2026, meski dana desa tahun ini mengalami pemangkasan signifikan.
Kepala DPMKal Bantul, Afif Umahatun, menegaskan program penanganan stunting tetap menjadi prioritas karena merupakan arahan pemerintah pusat agar penurunan kasus bisa dimulai dari level desa.
"Untuk besaran yang sekarang tahun 2026 ini tidak diatur mengenai persentasenya. Jadi sesuai dengan kebutuhan masing-masing kalurahan saja," kata Afif, Rabu (4/2/2026).
Dana Desa Turun, Program Disesuaikan
Afif menjelaskan, pada 2025 lalu pengalokasian dana desa masih diatur dengan persentase tertentu agar pelaksanaan program berjalan optimal. Namun kebijakan efisiensi anggaran pada 2026 membuat dana desa yang diterima tiap kalurahan menurun drastis.
Tahun ini, rata-rata kalurahan di Bantul hanya menerima sekitar Rp373 juta. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,3 miliar per kalurahan.
Meski demikian, intervensi stunting tetap harus berjalan. Afif menyebut intervensi mencakup program spesifik maupun sensitif.
"Intervensinya untuk stunting kan ada spesifik ada sensitif. Jadi untuk pemberian makanan tambahan, kemudian ada revitalisasi posyandu, kemudian penyediaan sanitasi atau air bersih, pelatihan kader termasuk pemberian honor kader dan lain sebagainya," katanya.
Ia mengimbau pemerintah kalurahan cermat dan bijak dalam menyusun prioritas anggaran agar setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Target Stunting Turun 3 Persen Lebih
Sementara itu, Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Bantul, Siti Marlina, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya penurunan stunting.
Menurutnya, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab dinas teknis, tetapi juga pemerintah kalurahan dan seluruh pemangku kepentingan.
Berdasarkan survei 2024, prevalensi stunting di Bantul berada di angka 16,5 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 13,25 persen pada 2029.
"Jadi kurang lebih lima tahun itu penurunannya sekitar tiga persen lebih, kami optimistis bisa tercapai," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Omzet pedagang pasar tradisional Bantul turun 17 persen. DPRD menyoroti transaksi online dan kondisi pasar yang kurang representatif.
Gagal bayar pinjol memiliki sejumlah risiko, mulai dari penagihan, denda, riwayat kredit hingga persoalan wanprestasi. Ini langkah menghadapinya.
Pekan Raya Medika 2026 FK-KMK UGM digelar 25–26 September dengan sekitar 1.000 pengunjung dan agenda riset, kesehatan, hingga inovasi.
LLDikti V Jogja memperkuat integritas dan anti gratifikasi sebagai bagian dari target Pembangunan Zona Integritas menuju WBBM 2026.
Guruh Soekarnoputra rencananya dimakamkan di sebelah makam Fatmawati di TPU Karet Bivak. PDIP juga kibarkan bendera setengah tiang 7 hari.
Pegadaian meraih 10 penghargaan di TBCCI 2026, sebagai bentuk transformasi layanan dan penguatan customer experience melalui teknologi, proses, dan SDM.