Petani Gunungkidul Dapat Bantuan Program Mina Padi Rp1 Miliar
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Foto ilustrasi tanah longsor dibuat menggunakan artificial intelligence.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Upaya pembersihan material longsor di Jalur Clongop, Kalurahan Watugajah, Gedangsari, Gunungkidul masih terus dilakukan. Namun, solusi penanganan permanen masih menunggu hasil kajian tim ahli dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Gunungkidul, Purwono, mengatakan upaya penanganan terus dilakukan seusai longsor yang terjadi pada Selasa (3/3/2026).
Menurut dia, hingga saat ini sekitar 140 meter kubik material longsoran telah berhasil dibersihkan dari badan jalan. Namun, proses pengerukan masih berlanjut karena masih terdapat sekitar 80 meter kubik material yang harus disingkirkan.
“Masih ada sekitar 80 meter kubik material yang harus dikeruk. Mudah-mudahan besok [Sabtu, 7/3/2026] sudah bisa terselesaikan,” kata Purwono, Jumat siang.
Ia menjelaskan volume material longsor cukup besar karena tebing yang runtuh memiliki panjang sekitar 20 meter dengan tinggi kurang lebih 15 meter. Dampaknya, jalur penghubung menuju Klaten melalui Clongop harus ditutup sementara waktu.
Selain untuk mempercepat proses pembersihan material longsor, penutupan jalur juga dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan longsor susulan.
“Selain untuk upaya pengerukan material longsor, juga untuk menghindari longsor susulan karena di sekitar lokasi masih rawan,” ujarnya.
Menunggu Kajian Penanganan Permanen
Terkait penanganan permanen di lokasi longsor, Purwono mengatakan keputusan sepenuhnya berada di tangan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi Sumber Daya Mineral DIY. Hal ini karena ruas jalan tersebut berstatus sebagai jalan provinsi.
Menurut dia, penanganan yang dilakukan saat ini baru sebatas memindahkan material longsoran agar akses jalan dapat kembali dilalui kendaraan.
“Untuk penanganan permanen masih menunggu hasil kajian dari tim ahli DPUP-ESDM DIY karena di bagian atas tebing masih terdapat retakan yang berpotensi memicu longsor kembali,” kata mantan Panewu Purwosari tersebut.
Secara terpisah, Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan Bidang Bina Marga DPUP-ESDM DIY, Wira Sasongko Putro, membenarkan bahwa langkah yang dilakukan saat ini masih berupa penanganan sementara.
Ia mengatakan fokus saat ini adalah membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan agar akses dapat kembali digunakan.
“Masih sebatas membersihkan material yang menutupi jalan. Di sekitar lokasi juga masih rawan longsor susulan,” katanya.
Wira menambahkan desain pengamanan permanen untuk mencegah longsor masih dalam tahap kajian oleh tim ahli.
“Sekarang masih dikaji. Mudah-mudahan segera ada hasilnya sehingga bisa dilakukan penanganan permanen,” ujarnya.
Jalur Dialihkan ke Rute Alternatif
Sementara itu, Kapolsek Gedangsari, AKP Tri Hartanto, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi di Jalur Clongop selama proses penanganan berlangsung.
Selama jalur tersebut ditutup, masyarakat diminta menggunakan jalur alternatif melalui Kalurahan Sampang maupun Mertelu.
Meski demikian, ia mengingatkan pengendara untuk tetap berhati-hati karena kondisi jalan di jalur alternatif tersebut cukup ekstrem.
“Tanjakan maupun turunnya juga curam sehingga harus berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sawah seluas sepuluh hektare di Kapanewon Ponjong akan mendapat bantuan pengembangan mina padi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senilai Rp1 miliar.
Gempa DIY membuat perjalanan kereta sempat dihentikan sementara. KAI Daop 6 memastikan seluruh operasional kereta kini kembali normal dan aman.
Jadwal KRL Solo-Jogja hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.