Serapan Danais Bantul Capai 69,9 Persen, BPKPAD Kejar Target 80 Persen
Realisasi Dana Keistimewaan Bantul mencapai Rp23 miliar atau 69,9 persen. BPKPAD optimistis target 80 persen terpenuhi sebelum penyaluran tahap III.
Foto ilustrasi pameran teh Internasional, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, BANTUL— Industri teh nasional mendapat dorongan baru melalui pameran berskala nasional yang akan digelar di Jogja Expo Center (JEC) di Bantul pada 8–11 April 2026, dengan fokus pada penguatan hilirisasi produk.
Ajang ini tidak hanya menampilkan produk teh, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan peluang bisnis baru bagi pelaku usaha, termasuk UMKM yang ikut ambil bagian dalam pameran tersebut.
CEO Krista Exhibitions, Daud Salim, menyampaikan pameran ini merupakan kali kedua digelar di Bantul dan menjadi pembuka rangkaian event serupa di berbagai kota sepanjang 2026.
“Ini merupakan rangkaian pameran yang kami gelar di sejumlah kota Indonesia pada tahun ini,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Di JEC, seluruh gedung akan digunakan untuk pameran yang diikuti sekitar 110 peserta, termasuk 30 pelaku UMKM. Selain produk teh, pengunjung juga akan menemukan sektor makanan minuman, percetakan, dan kemasan.
Berbagai kegiatan juga disiapkan, mulai dari lomba kuliner seperti mi godog, nasi goreng, hingga jajanan pasar, hingga kelas edukasi teh (tea class) yang digelar setiap hari selama pameran.
“Nanti juga ada tea class di hari pertama tanggal 8, 9, 10, 11 ada kelas-kelas mengenai teh untuk edukasi dan menumbuhkan pelaku usaha di bidang teh,” jelasnya.
Ketua Umum Dewan Teh Indonesia, Iriana Ekasari, menilai pameran ini sejalan dengan upaya mendorong hilirisasi produk perkebunan agar memiliki nilai tambah.
“Karena melalui hilirisasi produk, perkebunan kita memetik nilai tambah dari hasilnya mereka,” katanya.
Ia mengungkapkan kondisi industri teh nasional saat ini tengah menghadapi tantangan, mulai dari penyusutan luas lahan hingga harga di tingkat petani yang stagnan.
Di sisi lain, pasar domestik justru dibanjiri produk teh impor, sehingga produk lokal perlu diperkuat melalui inovasi dan hilirisasi.
“Makanya produk perkebunan itu harus juga menghilir. Nah caranya bagaimana? Tentu ada kiat-kiatnya supaya terjadi persaingan sehat. Karena produk yang unggullah yang akan dipilih oleh konsumen,” ungkapnya.
Dalam pameran tersebut, pengunjung juga akan mendapatkan edukasi langsung dari pelaku industri, termasuk dari perkebunan legendaris seperti Kebun Teh Tambi yang berdiri sejak 1863.
Selain itu, tersedia pelatihan meracik teh hingga minuman berbasis susu (milktea) yang dapat menjadi peluang usaha baru, khususnya bagi pelaku UMKM dan generasi muda.
Kegiatan ini diharapkan mampu membuka peluang bisnis baru, termasuk mendorong lahirnya usaha kecil seperti gerai teh yang dapat dikembangkan oleh lulusan sekolah maupun pelaku usaha pemula.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Realisasi Dana Keistimewaan Bantul mencapai Rp23 miliar atau 69,9 persen. BPKPAD optimistis target 80 persen terpenuhi sebelum penyaluran tahap III.
Gelombang tinggi menerjang pantai selatan Gunungkidul. Sebanyak 11 kapal nelayan rusak dan gelombang diperkirakan naik lagi Kamis malam.
Uni Eropa menyiapkan jaringan listrik menghadapi gerhana matahari 12 Agustus 2026 yang diprediksi menurunkan tajam produksi listrik tenaga surya.
Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas didakwa merugikan negara Rp622 miliar dalam kasus kuota haji 2023-2024.
Konser Bantul Bumi Satriya menghadirkan 14 musisi lokal. Ribuan warga ikut menikmati hiburan gratis, sementara UMKM mendapat peluang tambahan pendapatan.
Biaya komponen iPhone 18 Pro diprediksi naik 38% akibat lonjakan harga memori. Apple siap kurangi margin agar harga tak melonjak drastis. Simak analisis lengkap