DPRD DIY Soroti Kesiapan Guru dalam Pendidikan Khas Kejogjaan
DPRD DIY menilai peningkatan kompetensi guru menjadi tantangan utama implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di sekolah.
Jemaah haji - Freepik
JOGJA—Langkah Mardijiyono Kartosentono mungkin tak lagi sekuat dulu. Namun, tekadnya justru terasa semakin tegak. Di usia 103 tahun, ketika banyak orang memilih beristirahat dari segala aktivitas, ia justru bersiap menempuh perjalanan spiritual terjauh dalam hidupnya: berhaji ke Tanah Suci.
Ia tak banyak bicara. Saat ditanya usianya, jawabannya singkat.
“Usia... 100 lebih,” ucap Mardijiyono pelan saat ditemui di kediaman keluarganya di Kapanewon Berbah, Sleman, pada Rabu (1/4/2026).
“103 tahun,” celetuk cucunya, Dewi Rusmala, melengkapi.
Sejak kecil, Mardijiyono tinggal di Karanganom, Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Hidupnya lekat dengan sawah. Bertahun-tahun ia menjadi petani, mengandalkan hasil bumi untuk menghidupi keluarga sekaligus menabung sedikit demi sedikit demi satu tujuan: naik haji.
“Dulu waktu kecil, jam 2 malam sudah ke pasar beli sayuran, lalu dibawa pulang pakai sepeda onthel untuk dijual pagi harinya,” ujar Dewi.
Puluhan tahun berlalu, tubuhnya menua, tetapi cita-cita itu tak pernah pudar.
“Iya, kejar pahala. Mumpung masih sehat,” kata Mardijiyono singkat.
Ia mendaftar nomor porsi haji sekitar tujuh tahun lalu. Keluarga sempat mengajaknya umrah pada 2023, khawatir waktu tak cukup menunggu antrean keberangakatan haji. Namun usia panjang dan kesehatan masih menyertainya hingga kini.
Keinginan berhaji sudah ia simpan puluhan tahun. Hingga akhirnya, pada 2019, ia memberanikan diri mendaftar nomor porsi haji dari uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Uang senilai dengan Rp25 juta dengan mantap ia setorkan yang kemudian dikelola secara tranparan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dengan harapan kelak bisa berangkat ke Tanah Suci dengan biaya yang ringan.
“Kalau enggak salah waktu itu enggak sampai Rp30 juta. Uang dikumpulkan pelan-pelan sampai cukup untuk daftar,” kata Dewi.
Keputusan itu diambil dengan keyakinan penuh, meski harus menunggu beberapa tahun dalam antrean. Keluarga percaya dana yang telah disetorkan akan tetap aman hingga waktu keberangkatan tiba.
Perjalanan fisiknya tak selalu mudah. Pada 2022, ia mengalami patah tulang akibat terjatuh. Kondisinya sempat menurun hingga harus dirawat intensif.
“Saya dulu jatuh sepele, cuma terpeleset tapi kaki saya patah di tahun 2022. Saya heran, padahal dulu pernah tertabrak motor tidak apa-apa,” ujarnya.
Keluarga sempat dihadapkan pada pilihan operasi, namun memilih pengobatan alternatif di Salatiga.
“Setelah ditangani, Bapak langsung disuruh jalan dan ternyata bisa. Padahal sebelumnya harus digotong karena sakit sekali,” cerita anaknya, Warjiyem.
Sejak itu, pemulihannya berlangsung perlahan. Warjiyem merawat langsung sang ayah dan terus mendorongnya agar kembali mandiri.
“Saya bilang, ‘Ayo Pak, biar bisa naik pesawat lagi ke Mekkah, ayo sembuh,’” kata Warjiyem.
Dorongan itu membuahkan hasil. Kondisi Mardijiyono berangsur pulih hingga mampu beraktivitas sendiri.
Proses pelunasan biaya haji pun menjadi perjuangan tersendiri. Keluarga kembali mengumpulkan dana dari tabungan yang sebagian besar masih berasal dari hasil kerja Mardijiyono.
Beruntung, dana haji Rp25 yang disetorkan saat pendaftaran nomor porsi haji dan dikelola BPKH, kemudian berkembang dan Mardijiyono mendapatkan nilai manfaat yang meringankannya berangkat ke Tanah Suci.
Berdasarkan data transparansi yang dikutip dari laman BPKH, biaya penyelenggaraan ibadah haji rata-rata nasional tahun ini mencapai Rp87.409.365. Sedangkan biaya perjalanan ibadah haji yang harus dibayarkan calon jemaah rata-rata nasional hanya Rp 54.193.806.
Nilai manfaat sekitar Rp33 juta didapatkan dari pengembangan keuangan haji melalui penempatan dan investasi yang dilakukan BPKH untuk meringankan calon jemaah haji. Untuk Mardijiyono, ia hanya menggelontorkan uang belasan juta untuk pelunasan.
“Pelunasannya waktu itu sekitar belasan juta, total sekitar Rp35 juta [ditambah hal lain selain pelunasan]. Sebagian besar tetap dari tabungan beliau selama ini,” jelas Dewi.
“Iya, begitu dapat panggilan ibadah, langsung sembuh. Sekarang bisa pakai baju sendiri, mandi sendiri, makan sendiri,” lanjutnya.
Semangat berhaji menjadi titik balik. Ia bahkan mengikuti manasik bersama calon jemaah lain.
“Kemarin saat latihan manasik juga semangat sekali karena banyak teman-temannya yang seumuran,” ujar Warjiyem.
Secara medis, kondisinya dinyatakan layak berangkat.
“Alhamdulillah, kemarin dites dokter semua normal dan sehat,” kata Dewi.
Mardijiyono dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 2 Mei 2026 tanpa pendamping keluarga dan akan didampingi petugas haji karena masuk kuota prioritas lansia.
“Saya selalu dorong supaya mandiri, karena nanti di Mekkah tidak ada anak atau cucu yang mendampingi,” ujar Warjiyem.
Kini, harapan keluarga sederhana.
“Harapannya semoga menjadi haji yang mabrur, pulang dengan umur panjang,” kata Warjiyem.

Calon jemaah haji asal Bantul, Mardijiyono Kartosentono, saat ditemui di kediaman keluarganya di Berbah, Sleman, Rabu (1/4/2026). - Harian Jogja/Ariq Fajar Hidayat
Sementara itu, Plt Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah DIY, Jauhar Mustofa, menjelaskan total kuota jemaah haji DIY tahun ini mencapai 3.748 orang, ditambah 80 jemaah mutasi masuk.
Dari jumlah tersebut, Sleman menjadi wilayah dengan jemaah terbanyak, disusul Bantul, Kota Jogja, Kulon Progo, dan Gunungkidul.
“Kalau terbanyak itu Sleman 1.650, kemudian Bantul 1.050, lalu Kota Jogja, Kulon Progo, dan Gunungkidul,” katanya.
Ia juga menjelaskan rata-rata masa tunggu jemaah haji di DIY saat ini berkisar 13 tahun. Jemaah yang berangkat tahun ini merupakan pendaftar sekitar 2012.
Meski demikian, pemerintah memberikan prioritas bagi jemaah lanjut usia sebanyak 5% dari total kuota.
“Nah, lansia ini diberikan prioritas 5%, di Jogja ada 187. Mereka bisa berangkat dengan antrean minimal 5 tahun,” katanya.
Terkait biaya, pemerintah telah menetapkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) secara nasional sebesar Rp87.409.365.
Dari jumlah tersebut, jemaah tidak menanggung seluruh biaya karena adanya nilai manfaat dari pengelolaan dan pengembangan dana haji oleh BPKH. “Nilai manfaat yang dikembalikan oleh BPKH kepada jemaah haji itu 33.215.558,” katanya.
Dengan nilai manfaat dari pengelolaan BPKH, jemaah di Embarkasi Yogyakarta membayar BPIH sebesar Rp54.193.806. Karena sebelumnya telah menyetor Rp25 juta saat pendaftaran nomor porsi, maka dana pelunasan yang dibayarkan untuk keberangakatan haji rata-rata sekitar Rp29 juta.
“Karena sudah punya setoran awal 25 juta, maka sisanya sekitar 29 juta yang dibayar,” ujarnya.
Selain itu, jemaah haji juga menerima sejumlah manfaat lain berupa dana kembali dalam bentuk virtual account dan living cost selama di Arab Saudi.
“Setiap jemaah masih mendapatkan virtual account sekitar Rp2 juta dan living cost 750 Riyal atau sekitar 3 juta,” katanya.
Ia menegaskan, nilai manfaat merupakan hasil pengelolaan dan pengembangan dana setoran awal jemaah haji yang dilakukan BPKH selama masa tunggu yang panjang, dan seluruhnya dikembalikan untuk kepentingan jemaah.
“Nilai manfaat itu hasil pengelolaan dana haji BPKH dari setoran awal selama masa tunggu, dan itu dikembalikan ke jemaah,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD DIY menilai peningkatan kompetensi guru menjadi tantangan utama implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di sekolah.
BGN akan menangguhkan SPPG tanpa Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi. Kebijakan ini demi menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis.
Serangan Israel ke Lebanon kembali meningkat. Puluhan wilayah dihantam, korban tewas bertambah. Simak perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.
Kesbangpol DIY menyelenggarakan pendidikan politik perempuan di Wates, Kabupaten Kulonprogo, Rabu (13/5/2026). Pendidikan ini ditujukan untuk mendorong kaum Haw
Prabowo ungkap Rp49 triliun uang tak terurus di bank akan masuk negara. Dana diduga terkait koruptor dan siap dimanfaatkan untuk rakyat.
Komet C/2025 R3 PANSTARRS muncul di 2026 dan tak kembali selama 170.000 tahun. Fenomena langka yang simpan sejarah Tata Surya.