Harga BBM Naik, Pemkot Jogja Belum Tambah Anggaran Mobil Dinas
Pemkot Jogja belum menambah anggaran BBM kendaraan dinas meski harga naik. Pembatasan penggunaan tetap berlaku sambil menunggu evaluasi anggaran.
Warga Gedongtengen mengikuti sosialisasi budidaya bawang merah di Kemantren Gedongtengen pada Kamis (9/4/2026)/ (Dok. Kemantren Gedongtengen)
Harianjogja.com, JOGJA — Kemantren Gedongtengen mendorong warga memanfaatkan lahan sempit di kawasan perkotaan dengan membudidayakan bawang merah menggunakan media pot. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di tengah keterbatasan ruang.
Dorongan ini muncul sebagai respons atas tantangan krisis pangan dan energi global, sekaligus untuk mengoptimalkan potensi pekarangan di wilayah padat penduduk.
Mantri Pamong Praja Gedongtengen, Pargiyat, menegaskan bahwa pertanian berbasis pekarangan perlu terus digalakkan. Ia mendorong gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk aktif mengembangkan budidaya bawang merah dalam pot.
“Kita perlu meningkatkan semangat pengelolaan pertanian berbasis pekarangan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan pelaku usaha,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, penggunaan pot menjadi solusi efektif di wilayah perkotaan karena hemat lahan sekaligus memudahkan perawatan dan pengawasan tanaman.
Untuk mendukung program tersebut, Kemantren Gedongtengen menggelar sosialisasi budidaya bawang merah. Dalam kegiatan itu, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) memberikan panduan teknis kepada peserta.
Materi yang disampaikan meliputi pemilihan bibit unggul, penyusunan media tanam, hingga teknik perawatan. Media tanam yang dianjurkan adalah campuran tanah gembur, pupuk organik, dan sekam dengan sistem drainase yang baik.
Teknik Budidaya Bawang Merah di Pot
Bibit yang digunakan harus berupa umbi sehat, bebas hama, dan telah melewati masa dormansi. Penanaman dilakukan satu umbi per pot atau lubang tanam.
Perawatan meliputi penyiraman rutin, penyiangan, serta pemupukan dasar dan susulan secara berkala. Pengendalian hama dianjurkan menggunakan metode alami agar hasil tetap aman dikonsumsi.
Tanaman bawang merah umumnya dapat dipanen setelah berumur sekitar 60 hari, ditandai dengan daun menguning dan umbi yang matang. Setelah panen, dilakukan proses pelayuan dan pengeringan untuk menjaga kualitas hasil.
Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, budidaya ini juga berpotensi meningkatkan nilai ekonomi warga jika dikelola secara berkelanjutan.
Pargiyat berharap masyarakat dapat menerapkan metode ini secara mandiri di lingkungan masing-masing sehingga tercipta kemandirian pangan di wilayah perkotaan.
Dengan pemanfaatan lahan sempit melalui budidaya bawang merah di pot, warga Gedongtengen tidak hanya menjaga ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di tengah keterbatasan ruang perkotaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkot Jogja belum menambah anggaran BBM kendaraan dinas meski harga naik. Pembatasan penggunaan tetap berlaku sambil menunggu evaluasi anggaran.
Kasus dugaan korupsi mesin susu DIY disorot. Proyek Rp4,62 miliar belum bisa dimanfaatkan, Kejati sita 35 dokumen.
Zico sebut Jepang kini lebih kuat jelang lawan Brasil di Piala Dunia 2026. Samurai Biru tak lagi bisa diremehkan.
Sensus Ekonomi 2026 di Sleman resmi dimulai. Data usaha jadi dasar kebijakan dan arah pembangunan ekonomi daerah.
Kirab perpisahan 514 taruna Akmil di Magelang berlangsung meriah. Tradisi ini jadi simbol kedekatan taruna dan masyarakat.
Stasiun Gambir akan melayani KRL dan kereta jarak jauh. Transformasi ini menjadikannya hub transportasi terintegrasi di Jakarta.