Kasus Baru HIV di Kota Jogja Turun, Ada Temuan 41 Kasus hingga Juni 2026
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Warga Gedongtengen mengikuti sosialisasi budidaya bawang merah di Kemantren Gedongtengen pada Kamis (9/4/2026)/ (Dok. Kemantren Gedongtengen)
Harianjogja.com, JOGJA — Kemantren Gedongtengen mendorong warga memanfaatkan lahan sempit di kawasan perkotaan dengan membudidayakan bawang merah menggunakan media pot. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di tengah keterbatasan ruang.
Dorongan ini muncul sebagai respons atas tantangan krisis pangan dan energi global, sekaligus untuk mengoptimalkan potensi pekarangan di wilayah padat penduduk.
Mantri Pamong Praja Gedongtengen, Pargiyat, menegaskan bahwa pertanian berbasis pekarangan perlu terus digalakkan. Ia mendorong gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk aktif mengembangkan budidaya bawang merah dalam pot.
“Kita perlu meningkatkan semangat pengelolaan pertanian berbasis pekarangan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan pelaku usaha,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, penggunaan pot menjadi solusi efektif di wilayah perkotaan karena hemat lahan sekaligus memudahkan perawatan dan pengawasan tanaman.
Untuk mendukung program tersebut, Kemantren Gedongtengen menggelar sosialisasi budidaya bawang merah. Dalam kegiatan itu, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) memberikan panduan teknis kepada peserta.
Materi yang disampaikan meliputi pemilihan bibit unggul, penyusunan media tanam, hingga teknik perawatan. Media tanam yang dianjurkan adalah campuran tanah gembur, pupuk organik, dan sekam dengan sistem drainase yang baik.
Teknik Budidaya Bawang Merah di Pot
Bibit yang digunakan harus berupa umbi sehat, bebas hama, dan telah melewati masa dormansi. Penanaman dilakukan satu umbi per pot atau lubang tanam.
Perawatan meliputi penyiraman rutin, penyiangan, serta pemupukan dasar dan susulan secara berkala. Pengendalian hama dianjurkan menggunakan metode alami agar hasil tetap aman dikonsumsi.
Tanaman bawang merah umumnya dapat dipanen setelah berumur sekitar 60 hari, ditandai dengan daun menguning dan umbi yang matang. Setelah panen, dilakukan proses pelayuan dan pengeringan untuk menjaga kualitas hasil.
Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, budidaya ini juga berpotensi meningkatkan nilai ekonomi warga jika dikelola secara berkelanjutan.
Pargiyat berharap masyarakat dapat menerapkan metode ini secara mandiri di lingkungan masing-masing sehingga tercipta kemandirian pangan di wilayah perkotaan.
Dengan pemanfaatan lahan sempit melalui budidaya bawang merah di pot, warga Gedongtengen tidak hanya menjaga ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di tengah keterbatasan ruang perkotaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Disdag Jogja menggelar Gemati di 22 pasar selama Oktober 2026. Belanja minimal Rp20.000 berpeluang mendapat smartphone hingga sepeda.
Pemprov Jateng menyalurkan 75,4 juta liter air bersih ke 33 kabupaten/kota untuk membantu warga terdampak kekeringan.
Komisi XIII DPR menemukan miras di salah satu bangunan Lapas Cibinong. Sebanyak 10 bangunan di bantaran Ciliwung dibongkar.
Empat atlet Indonesia lolos final speed panjat tebing di Nagoya. FPTI membidik medali dan berharap podium dikuasai wakil Indonesia.
DPRD Jogja meminta Rippar 2026–2045 tak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga lama tinggal, belanja, tenaga kerja, dan lingkungan.