Menekan Impor LPG dengan DME di Dapur Rumah Tangga
Pengembangan DME dari batu bara dinilai berpotensi mengurangi impor LPG dan menekan beban subsidi energi nasional.
UAD membangun kampus hijau lewat gerakan #UADMinimSampah di tengah persoalan darurat sampah yang masih membayangi Yogyakarta. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah hiruk-pikuk persoalan sampah yang masih membayangi wilayah perkotan di DIY, kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mencoba menghadirkan wajah lain. Adalah ruang hijau yang teduh, bersih, dan perlahan dibangun melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.
Bukan hanya soal menanam pohon atau menyediakan tempat sampah, UAD kini mendorong gerakan yang lebih mendasar, yakni membangun kesadaran kolektif untuk mengurangi limbah sejak dari sumbernya. Langkah itu ditandai dengan peluncuran gerakan #UADMinimSampah pada Senin (27/4/2026).
Di balik gerakan tersebut, terdapat kegelisahan mengenai persoalan lingkungan yang semakin nyata di Yogyakarta. Tumpukan sampah yang kerap menjadi persoalan kota mendorong kampus untuk tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga ruang lahirnya solusi.
Rektor UAD, Profesor Muchlas memandang bahwa perubahan besar justru dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele. Salah satunya ialah penggunaan botol plastik sekali pakai yang masih jamak ditemukan dalam aktivitas harian.
“Lebih penting dari metode atau cara-cara itu adalah sikap mental kita dalam menyikapi tentang sampah ini dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Prof. Muchlas.
Karena itu, melalui gerakan #UADMinimSampah, sivitas akademika didorong mulai meninggalkan budaya sekali pakai dengan membawa termos atau tumbler sendiri ke lingkungan kampus. Langkah sederhana tersebut diyakini dapat memberi dampak besar apabila dilakukan bersama-sama oleh ribuan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Di sudut lain kampus, pendekatan teknologi juga mulai diperkenalkan. UAD menghadirkan robot pemilah sampah yang membantu mahasiswa mengenali sekaligus memisahkan limbah organik dan anorganik secara tepat.
Robot itu bukan sekadar simbol inovasi. Kehadirannya menjadi cara kampus menghubungkan teknologi dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat perkotaan, terutama terkait pengelolaan sampah dari hulu agar tidak membebani sistem pengolahan di tingkat kota.
Namun, upaya membangun kampus hijau di UAD tidak berhenti pada persoalan limbah. Kampus ini juga berusaha menjaga keseimbangan ekosistem yang ada di dalamnya.
Pepohonan rindang yang tumbuh di kawasan kampus dipandang bukan hanya elemen penghias, melainkan bagian penting dari kualitas lingkungan hidup. Karena itu, Prof. Muchlas bahkan menggagas aturan tegas untuk melindungi pohon-pohon di area kampus.
Ia mengusulkan adanya denda hingga Rp1 juta terhadap tindakan yang menyebabkan kerusakan pohon atau hilangnya daun akibat kelalaian maupun perusakan. Gagasan tersebut muncul sebagai bentuk keseriusan menjaga ruang hijau tetap lestari di tengah tekanan kawasan perkotaan.
Tidak hanya pepohonan, perhatian juga diberikan pada satwa yang mulai hidup di lingkungan kampus. Burung-burung yang dilepasliarkan di kawasan hutan kampus diharapkan dapat berkembang biak secara alami tanpa gangguan perburuan.
“Burung itu akan datang kalau ekosistemnya baik; ada tempat berkembang biak dan ada makanannya,” kata Prof. Muchlas.
Kepala Biro Sarana dan Prasarana (Sarpras) UAD Profesor Zahrul Mufrodi, mengungkapkan bahwa kampus kini tengah fokus pada pengelolaan sumber daya air dan penanganan sampah plastik secara mandiri. Salah satu langkah konkret yang telah dijalankan adalah penerapan sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting). Zahrul menjelaskan bahwa air hujan ditangkap melalui atap gedung (rooftop) dan dialirkan ke kolam-kolam penampungan.
"Kita memanen air hujan di rooftop-rooftop dan juga di kolam-kolam untuk kemudian disimpan dan diolah menjadi air baku. Ini adalah gerakan baik untuk menjaga bumi kita," ujar Zahrul.
Selain pengelolaan air, UAD juga menyoroti pentingnya penyelesaian masalah sampah dari hulu. Zahrul menekankan bahwa kesadaran untuk meminimalkan sampah harus dimulai dari diri sendiri agar tidak menjadi beban bagi lingkungan di masa depan.
Menurutnya, mengolah sampah sebaik mungkin merupakan tanggung jawab bersama sebagai bentuk amanah dalam menjaga kelestarian alam. Strategi utama yang diusung adalah meminimalkan produksi sampah sejak awal dan melakukan pengolahan residu secara efektif.
"Ke depan, kita akan kurangi penggunaan sampah plastik sehingga kita benar-benar bisa mengolah hal-hal yang baik. Dengan begitu, residu yang kita buang ke lingkungan akan menurun secara drastis," pungkasnya.
Bagi UAD, lingkungan kampus yang asri bukan semata soal estetika. Suasana hijau dan nyaman diyakini dapat menghadirkan ruang belajar yang lebih sehat, memperkuat kreativitas mahasiswa, sekaligus mendukung pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi secara lebih berkelanjutan.
Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Yogyakarta, langkah kecil yang dimulai dari lingkungan kampus itu menjadi penanda bahwa perubahan tetap mungkin tumbuh, bahkan dari kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler, memilah sampah, hingga menjaga satu helai daun tetap berada di tempatnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pengembangan DME dari batu bara dinilai berpotensi mengurangi impor LPG dan menekan beban subsidi energi nasional.
Pembangunan aviary Purwosari Gunungkidul kembali dilanjutkan tahun ini dengan anggaran Rp5,6 miliar dari Dana Keistimewaan DIY.
Amerika Serikat disebut telah menghabiskan Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah Februari 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Festival Dalang Cilik Kulonprogo menjadi ajang regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya wayang di kalangan pelajar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan